Belajar Bertani

4 Tips Hindari Gagal Panen dan Maksimalkan Profit

Gagal panen

Sistem pertanian di Indonesia yang masih sangat bergantung dengan alam, membuat fenomena gagal panen masih sering terjadi. Penyebabnya bisa karena hama yang dominan menyerang saat musim penghujan berkepanjangan. Belum lagi ada lahan yang terendam banjir. Tapi bila musim kemaraunya terlalu panjang juga akan membuat lahan petani kering dan berpotensi gagal panen. Seperti yang terjadi pada periode Januari – Juli 2019, setidaknya lahan seluas 31 ha mengalami gagal panen akibat kekeringan (puso). Luasan tersebut setara dengan 0,32% dari total luas lahan tanam padi di Indonesia yang tercatat sebesar 9,46 juta ha. Daerah yang mengalami gagal panen terparah berada di Provinsi Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. 

Melihat masih tingginya fenomena gagal panen di Indonesia, para petani sebaiknya mengupayakan berbagai cara agar dapat menghindarinya. Nah, berikut ini CROWDE punya tips yang bisa Anda terapkan untuk menghindari gagal panen. Simak, yuk!

Jangan gunakan benih yang mutunya di bawah standar

Penggunaan benih yang tahan terhadap penyakit menjadi pilihan mutlak bagi petani. Karena itu benih yang berkualitas harus tahan terhadap penyakit agar kerugian akibat gagal panen dapat dihindari. Sebagai contoh, ini dia cerita langsung dari petani jagung yang dilansir dari laman kanalsatu.com. Penggunaan benih unggul DEKALB DK771 mereka pilih karena tahan terhadap hama dan dapat menghasilkan panen yang baik. 

Sebut saja untuk setiap ¼ ha lahan rata-rata bisa menghasilkan 2,7 ton jagung pipilan kering atau tingkat produktivitasnya mencapai 10,88 ton per ha. Hama atau penyakit tanaman yang menyerang pun minim, dalam 1 ha lahan hanya ada sekitar 0,2% tanaman jagung yang terserang hama.  Begitu berdampaknya penggunaan benih berkualitas bagi usaha pertanian, pemerintah juga memiliki Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian agar bisa mengawasi mutu benih yang beredar di pasaran. Tujuannya adalah untuk melindungi petani atau mencegah terjadinya kerugian seperti gagal panen di pihak petani akibat kualitas benih yang di bawah standar. 

Gagal Panen

Ikut program asuransi usaha tani

Masih tingginya potensi gagal panen di Indonesia bisa diantisipasi dengan Anda mengikuti program asuransi usaha tani. Memang apa keuntungannya? Ya, asuransi ini akan memberi ganti rugi bila lahan Anda mengalami gagal panen sehingga dapat meminimalisir kerugian. Asuransi akan mengcover biaya ganti rugi bila faktor penyebab gagal panennya adalah karena perubahan iklim/faktor cuaca ekstrim, bencana alam, dan juga akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Anda dapat memperoleh biaya ganti rugi rata-rata sebesar Rp6 juta per ha untuk lahan yang telah diasuransikan. Sehingga dana tersebut bisa digunakan sebagai modal untuk melakukan tanam ulang. Dengan begitu Anda dapat terhindar dari kerugian dan profit pun tetap bisa didapat. 

Memiliki kalender (jadwal) tanam

Sebagai bentuk antisipasi dari terjadinya perubahan iklim yang semakin tidak menentu dan sulit diprediksi, pemerintah meluncurkan Kalender Tanam (KATAM) yang bisa diakses secara gratis oleh para petani melalui aplikasi Katam Terpadu. Dengan adanya kalender tanam ini, Anda bisa memperoleh berbagai informasi berguna untuk menghindari terjadinya gagal panen. Apa saja informasi yang bisa Anda peroleh? Ya, ada informasi seputar prediksi musim, awal tanam, pola tanam, luas tanam potensial, wilayah rawan banjir dan kekeringan, potensi serangan OPT, rekomendasi dosis pupuk dan varietas yang sesuai berdasarkan perkiraan iklim.

Dengan adanya kalender tanam ini, Anda bisa memiliki perencanaan budidaya yang matang setelah mengetahui prediksi iklim di daerah Anda, sekaligus memperoleh rekomendasi pupuk dan benih yang sesuai agar tanaman budidaya Anda terhindar dari serangan OPT. Sehingga hasil panen yang diperoleh lebih maksimal dan mengurangi kekhawatiran akan gagal panen. Juga tujuan dari upaya peningkatan produktivitas petani akan lebih mudah tercapai.    

Penggunaan teknologi pertanian saat berbudidaya

Penggunaan teknologi pertanian dapat memacu produktivitas petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Meski penggunaannya masih minim, teknologi pertanian seperti alat pendeteksi cuaca, pengukur pH, dan alat pengukur kelembapan tanah berguna untuk mendorong kesuksesan usaha petani, lho! Kenapa? Ya, dengan petani lebih dulu tau soal kondisi cuaca di daerahnya, mereka dapat menyesuaikan kebutuhan tanam sesuai kondisi tersebut agar tidak banyak tanaman yang terserang OPT dan mengurangi potensi kegagalan.

Tidak ketinggalan, penggunaan alat mesin pertanian juga dapat mempercepat proses pengolahan tanah, penanaman, sampai proses panen. Sehingga dapat membantu Anda menghemat waktu, tenaga dan biaya produksi pertanian. Sebagai contoh, pengolahan lahan seluas 1 ha yang biasanya membutuhkan waktu 5 – 6 hari, namun dengan menggunakan alsintan prosesnya bisa hanya hitungan jam saja. Anda sebagai petani pasti akan lebih diuntungkan.    

Itu tadi keempat tips untuk menghindari gagal panen dan kerugian yang diakibatkannya. Meski gagal panen masih menjadi momok bagi para petani, namun pasti selalu ada upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut. CROWDE juga hadir untuk melepaskan kekhawatiran Anda akan gagal panen dengan memberi pendampingan secara berkala saat proses budidaya berjalan. Anda juga bisa berkonsultasi langsung dengan para ahli di bidang pertanian bila menemukan berbagai kendala saat bertani. Anda hanya perlu bergabung di sini! Yuk! 

Baca juga: 5 Fakta Tanaman Janda Bolong yang Harus Kamu Ketahui

0 comments on “4 Tips Hindari Gagal Panen dan Maksimalkan Profit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *