Komoditas

Target Produksi Pertanian Tahun 2023, Bagaimana Peluang Petani Indonesia?

Tahun 2023 sudah memasuki pertengahan bulan pertama. Setelah pandemi berangsur pulih, ekspor Indonesia di bidang pertanian pun kembali harus memenuhi target tahunan. Hasil laporan dari Kementerian Pertanian menyatakan bahwa pada bulan Juli 2022, kinerja ekspor pertanian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 24,10% dibanding bulan sebelumnya.

“Pertanian Indonesia punya potensi yang cukup besar di pasar ekspor, termasuk soal produk olahan dari peternakan yang bisa dijadikan komoditas ekspor unggulan. Pada 2023, Kementerian pertanian memiliki 4 program kerja untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian RI.

Keempat program tersebut meliputi program ketersediaan, akses dan konsumsi pangan berkualitas, program nilai tambah dan daya saing industri, program pendidikan dan pelatihan vokasi, serta program dukungan manajemen. Selain itu, di tahun ini pula, pertanian Indonesia mempunyai target yang cukup besar untuk memenuhi pasar ekspor.

Target Produksi Komoditas Utama Kementerian Pertanian pada 2023

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR, terdapat 11 komoditas yang menjadi target produksi pertanian untuk tahun 2023.

  1. Padi (54,50 juta ton)

Sebagai bahan pangan utama masyarakat Indonesia, komoditas padi menjadi target paling besar dalam produksi pertanian tahun ini. Bentuk upaya pertamanya tentu saja dengan memastikan panen raya komoditas padi sepanjang Januari hingga Maret di semua wilayah Indonesia. Hingga saat ini, daerah Karawang masih menjadi barometer untuk produksi padi.

  1. Tebu (37,15 juta ton)

Tanaman tebu merupakan tanaman tahunan yang dibudidayakan oleh petani. Tebu merupakan bahan baku utama pembuatan gula pasir. Tahun ini, tebu ada di peringkat  kedua sebagai target produksi komoditas utama.

Tiga provinsi yang memiliki luas lahan tebu adalah Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Tengah. Tren produksi tebu dalam enam tahun terakhir (2016-2021) terlihat berfluktuasi. Pada tahun 2016 produksi tebu Indonesia mencapai 2,2 juta ton, tahun 2020 mencapai 2,4 juta ton, dan diprediksi tahun 2021 mencapai 2,5 juta ton.

  1. Jagung (23,05 juta ton)

Jagung menjadi salah satu bahan pangan utama di beberapa negara. Selain itu, jagung juga merupakan salah satu produk ekspor utama dari pertanian Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh BPS dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, ekspor jagung Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan di tahun 2018 hingga mencapai 73 juta USD. Indonesia sendiri masih berada di urutan ke-8 sebagai negara penghasil jagung terbesar di dunia, setelah negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, dan Brasil.

  1. Kelapa (2,99 juta ton)

Kelapa menjadi tanaman yang hampir semua bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan. Saat ini, sebagian besar petani kelapa memproduksi kelapa dalam bentuk kopra.Kelapa juga memiliki potensi lainnya, baik produk utama maupun produk samping, salah satunya Virgin Coconut Oil (VCO). Kelapa termasuk dalam komoditas dengan risiko rendah, sehingga sangat aman untuk menjadi komoditas ekspor.

Sentra produksi kelapa dalam di Indonesia selama lima tahun terakhir (2016-2020) menyebar di beberapa provinsi, seperti Riau, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah. Provinsi Riau memberikan kontribusi produksi terbesar untuk kelapa dalam di Indonesia sebesar 11,92 persen.

  1. Cabai (2,93 juta ton)

Sebagai salah satu penyumbang terbesar komoditas pertanian, produksi cabai masuk dalam target produksi di tahun 2023. Cabai Jawa merupakan sejenis rempah yang masih berkerabat dekat dengan tanaman lada dan kemukus. Cabai Jawa tercatat dalam keluarga Piperaceae atau sirih-sirihan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai nasional pada 2020 mencapai 2,77 juta ton. Angka ini mengalami peningkatan 7,11 persen dibandingkan pada 2019. Salah satu provinsi terbesar penghasil cabai berada di Jawa Barat.

Bagaimana Peluang Petani Indonesia?

Dengan adanya target tersebut, petani Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menanam komoditas yang dibutuhkan. Tak hanya itu, petani juga memiliki kesempatan untuk memperluas penjualan hasil komoditasnya ke pasar ekspor dan mengejar keuntungan yang lebih banyak.

Dari segi komoditas yang beragam, petani bisa memilih sesuai kondisi lahan yang mereka miliki. Namun, hal tersebut tak lepas dari pengetahuan dan pemahaman akan komoditas yang dipilih. CROWDE sebagai  agri-technology company, akan terus mendukung mitra petani, dengan memberikan pendampingan mengenai sistem pertanian dari hulu ke hilir, sehingga hasil panen yang akan didapat oleh petani bisa sesuai dengan yang diharapkan.