News

Nasib Pertanian Lokal di Tengah Tantangan Regenerasi

Regenerasi Petani

Bicara tentang pertanian, apa yang paling melekat di benak kita? Pernahkah terlintas di benakmu bahwa saat ini pertanian dihadapkan dengan minimnya regenerasi petani muda yang memiliki minat untuk bekerja di sektor strategis ini?

Ya, bukan hal yang mengejutkan kalau sektor yang menjaga ketahanan pangan ini hanya didominasi oleh para petani dengan usia lebih dari setengah abad. Usia yang tidak lagi muda, namun masih harus bertahan karena petani bertahan hidup dengan bergantung pada sumber daya alam. Lalu, dimana para pemuda desa saat ini yang sebenarnya memiliki kompetensi untuk meneruskan pertanian di wilayahnya?

Saat ini, para pemuda di pedesaan cenderung memilih keluar dari sektor pertanian yang selama ini telah dilakukan oleh orang tuanya. Pilihan ini berdampak pada jumlah petani kita yang kini kian mengkhawatirkan di setiap tahunnya. Menurunnya jumlah petani perlu menjadi bintang utama untuk dipecahkan secara bersama karena petani menjaga ketahanan pangan negara. Eksistensi petani perlu dipertahankan mengingat tren penurunan dari tahun 2013 hingga 2018 mencapai hampir 1 juta petani pada komoditas padi. Permasalahan ini semakin menjadi serius di saat kita mengetahui bahwa petani yang tersisa mayoritas berusia di atas 55 tahun yaitu sebanyak 10,38 juta rumah tangga. 

Regenerasi petani menjadi langkah nyata yang perlu dilakukan untuk memberikan nilai tambah pada kuantitas dan kualitas petani. Minimnya regenerasi petani bisa disebabkan oleh pendapatan yang rendah dan ketersediaan lahan yang terbatas. Banyak yang menyangka bahwa menjadi petani adalah sebuah wajah dari kemiskinan karena gap ketertinggalan antara sektor lainnya padahal pertanian memiliki masa depan yang cerah karena pangan adalah kebutuhan primer manusia. Sayangnya, pertanian belum banyak dilirik oleh generasi millenial sebagai peluang emas untuk dikembangkan.

Melihat Peluang di Pedesaan

Pada Februari 2020, tercatat 6,88 juta penduduk Indonesia tidak memiliki pekerjaan dan didominasi oleh kelompok usia produktif (15 – 24 tahun). Jumlah tersebut tentu perlu diserap oleh sektor produktif, salah satunya pertanian yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 40 persen. Banyaknya serapan yang dibutuhkan sektor pertanian tidak menggoyahkan para pemuda untuk mengambil peran di lapangan karena kekhawatiran terhadap modal, kemampuan bertani, dan akses pada pasar masih besar. 

Ketiadaan modal yang besar, kemampuan bertani yang terbatas, serta akses pasar yang sedikit, menjadi beberapa faktor yang dihadapi oleh pemuda yang hendak terjun di pertanian. Misalnya saja, pemuda di pulau Jawa yang telah memiliki akses pasar namun minim modal, sedangkan pemuda di luar pulau Jawa memiliki modal namun akses pasar terbatas. Hal ini tentu perlu diselesaikan dalam rantai pasok dari hulu hingga hilir sehingga pemuda memiliki keyakinan bahwa pertanian memberikan pendapatan yang menjanjikan. Tidak hanya mendapatkan pendapatan, pertanian juga memberikan kehidupan dalam waktu yang panjang karena petani melakukan investasi kepada tanahnya untuk tetap subur dan bermanfaat di waktu nanti.

Sebagai generasi milenial dengan kemampuan yang dimiliki, kita bisa membangun pertanian dari tradisional menjadi modern atau berteknologi, karena pada dasarnya perubahan bisa diciptakan oleh angin segar dari para pemuda. Sejak 2017, CROWDE telah membuka akses permodalan bagi petani dan membangun ekosistem dari hulu hingga hilir termasuk kepastian harga dan pasar yang umumnya membuat petani muda gelisah. Keterbukaan pada akses dan permodalan tentu mampu mengembangkan bisnis pertanian sehingga perluasan lahan garapan, peningkatan produktivitas petani, serta penyediaan lapangan kerja di pertanian bisa lebih banyak. 

Keterbukaan akses permodalan dapat meningkatkan minat pemuda untuk terjun pada bisnis pertanian yang selama ini tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sebanyak 8 anak muda berusia di bawah 25 tahun telah mulai membangun jiwa agropreneur bersama CROWDE. Kesempatan kerja meningkat sebesar 50 persen bagi buruh atau petani kecil karena adanya permodalan pada proyek budidaya. Lebih dari 100 petani baru di daerah pedesaan mampu menumbuhkan usaha pertaniannya dan menjual hasil pertaniannya kepada 9 mitra off-taker institusional dan 118 mitra pengepul eceran lokal sehingga kesejahteraan ekonomi dapat tercapai dari adanya kepastian pasar dan harga.

Industri pertanian tidak bisa dipandang sebelah mata dengan peluang yang begitu besar melihat pangan akan selalu dibutuhkan selama manusia ada di suatu negara. Apakah kita sebagai pemuda akan melepas kesempatan ini begitu saja? Apakah kita akan membiarkan jumlah petani menurun hingga pangan tidak lagi diproduksi? Apakah usaha kita sudah cukup untuk memberdayakan lebih banyak anak muda untuk lebih mudah terjun ke industri pertanian?

Baca juga: Upayakan Hal Ini untuk Hindari Darurat Pertanian Indonesia

Referensi:

Badan Pusat Statistik. 2018. Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) 2018. Bps.go.id: https://bit.ly/317tx0q 

Damianus Andreas. 5 Mei 2018. Minimnya Jumlah Petani Muda Karena Faktor Pendapatan & Akses Lahan. Tirto.id: https://bit.ly/31LwmG5

0 comments on “Nasib Pertanian Lokal di Tengah Tantangan Regenerasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *