Indonesia memiliki luas lahan pertanian seluas 7,1 juta ha. Lahan seluas ini harus bisa dikelola dengan baik agar mampu menghasilkan hasil produksi yang maksimal. Karena, lahan seluas apapun bila tidak ada upaya pengelolaan secara berkelanjutan, juga tidak akan bisa memberi hasil yang maksimal. Lalu, apa itu ketahanan pangan? Ketahanan pangan diartikan sebagai sebuah kondisi ketersediaan bahan pangan yang mencukupi. Sehingga, masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. Agar ketersediaan mencukupi, hasil produksi bahan pangan harus sesuai atau bahkan melebihi kebutuhan seluruh penduduknya. Namun, apakah untuk mencapai ketahanan pangan itu mudah? Atau justru punya banyak tantangan yang harus dihadapi? Nah, ulasan berikut akan membahas seputar tantangan yang akan dihadapi dalam mencapai ketahanan pangan nasional di masa depan. Apa saja? Yuk, simak yang berikut ini!

Laju pertumbuhan penduduk yang semakin masif

Fakta menunjukkan laju pertumbuhan penduduk semakin lama, semakin cepat. Bahkan diperkirakan pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 305 juta jiwa. Ini tantangan dari ketahanan pangan yang paling utama. Dimana, tolak ukur dari adanya predikat ketahanan pangan adalah kecukupan pangan dari penduduknya sendiri. Bila penduduk yang diberi makan jumlahnya semakin banyak, otomatis total kebutuhannya akan semakin bertambah. Terbukti di Indonesia sendiri, kebutuhan beras sudah naik sebanyak 19,6% dan jagung naik 20%. Karenanya, harus dilakukan optimalisasi lahan pertanian agar Indonesia selalu punya peluang untuk meningkatkan hasil produksi dalam negeri.

Berbagai terobosan telah dijalankan oleh Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan produksi lahan pertanian Indonesia. Seperti, melakukan peningkatan alat mesin pertanian menjadi lebih dari 2000%, melakukan rehabilitasi irigasi hingga 500%, dan lahan untuk ditanami benih unggul juga naik hingga 562%. Upaya ini masih harus dilanjutkan dengan memberi banyak terobosan lain yang berguna untuk meningkatkan hasil produksi pangan dalam negeri.

Persoalan logistik juga masih jadi tantangan

Kemudahan penduduk dalam mengakses bahan pangan juga termasuk pada faktor harga jualnya. Harga bahan pangan dari Sabang sampai Merauke, harus diupayakan kestabilannya. Namun, persoalan logistik masih menjadi salah satu kendala hingga menyebabkan terjadinya fluktuasi harga bahan pangan nasional. Selain lahan pertanian yang harus dioptimalkan, faktor pendukung seperti logistik juga harus diperhatikan.

Hasil produksi pangan yang tak jarang bersifat musiman, harus diberikan solusi jangka panjang. Terutama untuk komoditas musiman yang tidak boleh dibiarkan langka ketika sudah tidak musimnya lagi. Atau jangan sampai harga jualnya jatuh saat musimnya tiba. Sebut saja komoditas bawang merah. Tempat penyimpanan untuk produk bawang merah harus tersedia dengan kualitas yang memadai. Pemerintah harus mau berinvestasi pada teknologi terbaik sebagai tempat penyimpanan komoditas musiman. Agar stok dalam negeri dapat tersedia sepanjang tahun tanpa adanya fluktuasi harga. Bila produksi yang cukup didukung oleh logistik pergudangan, serta transportasi distribusi yang memadai, ketahanan pangan di masa yang akan datang sudah tidak perlu diragukan lagi.

Kurangnya sumber daya manusia di sektor pertanian

Indonesia memang sedang mengalami darurat regenerasi petani. Hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani seperti orang tuanya. Profesi petani yang dekat dengan kehidupan di ladang, tidak sejahtera, dan masih tradisional, tidak menarik bagi generasi penerusnya. Bahkan, hanya ada sekitar 4% penduduk usia 15 – 35 tahun yang ingin menjadi petani. Karena itu, pemerintah sebaiknya tidak hanya berfokus pada upaya pengoptimalisasi alat pertanian. Namun, juga fokus pada pengembangan teknologinya. Anak muda yang dekat dengan dunia teknologi harus diarahkan untuk masuk ke sektor pertanian. Sehingga bisa merevolusi image pertanian tradisional menjadi pertanian yang lebih modern. Yang akhirnya, bisa membuat mereka tertarik untuk ikut mengembangkan sektor pertanian dengan cara mereka. Asalkan tujuan akhirnya bisa sama-sama meningkatkan hasil produksi bahan pangan dalam negeri.

Tantangan pasti selalu ada, tinggal bagaimana kita menghadapinya dan memberi solusi sebagai jalan keluar. Semua menjadi ringan bila dikerjakan bersama-sama. Jangan hanya pemerintah yang bergerak, kamu sebagai masyarakat sipil juga bisa kok ikut membuat perubahan. Agar seluruh tantangan ketahanan pangan di masa depan, sudah bisa diantisipasi sedini mungkin. Caranya juga mudah, coba cek di sini! Tunggu apa lagi? Do it now!

 

Referensi:

EH Ismail. 9 Agustus 2018. Republika (online): https://bit.ly/2UqkTFK

Selfie Miftahul Jannah. 14 Februari 2019. Tirto: https://bit.ly/2u0tGlZ

Redaksi. 9 Agustus 2018. Kumparan: https://bit.ly/2NUOEfo

Terima kasih telah peduli pada petani Indonesia dengan membaca artikel CROWDE. Agar kami dapat menyajikan konten yang sesuai dengan kebutuhan kamu, mohon bantu kami mengisi survey berikut ini.