Ada dua hal yang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo mengenai kondisi pertanian di Indonesia: swasembada pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.

Swasembada pangan berarti kita tidak harus bergantung pada negara lain untuk urusan perut kita, dan kesejahteraan petani berarti barisan pejuang yang memungkinkan kita untuk bisa makan dapat hidup nyaman dan bebas keresahan.

Nah, beberapa laporan memberi kabar baik bahwa sejak dua tahun terakhir, salah satu target telah tercapai, yaitu swasembada beras. Bahkan, produksi beras kita tahun lalu mencapai angka tertinggi sejak 10 tahun terakhir. Tepuk tangan!

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia masih mengimpor produk-produk pertanian, seperti gandum, kedelai, dan cabai. Artinya, swasembada pangan belum sepenuhnya tercapai di tahun 2017.

Beberapa laporan lainnya mengabarkan bahwa di tengah meningkatnya produksi beras, taraf hidup petani justru merosot. Hal ini tentu membuat kita prihatin, kan….

Kalau begitu, apa yang bisa dilakukan kita sebagai masyarakat Indonesia untuk membantu mencapai cita-cita besar tersebut? Banyak, dan beberapa di antaranya mampu dijawab oleh CROWDE.

Rintangan utama menuju swasembada pangan

Menurut pakar, ada berbagai faktor yang menghalangi swasembada pangan untuk tercapai sepenuhnya, salah satunya adalah kurangnya lahan tani yang produktif. Jadi, untuk bergerak satu langkah lebih maju menuju kemandirian pangan, kita harus memaksimalkan produktivitas lahan tani. Salah satunya adalah dengan membuat petani bekerja dan berkarya. Sayangnya, banyak petani kita yang tidak mampu bekerja karena tidak memiliki dana. Hey, modal dan bahan baku untuk bertani itu cukup mahal, lho!

Biasanya, untuk mengatasi masalah dana ini para petani terpaksa meminjam uang kepada lintah darat. Sayangnya, keputusan ini lebih sering menjebak mereka ke dalam bunga utang yang tinggi, dan mencekik leher mereka. Kalau sudah begitu, bagaimana mereka bisa produktif bertani? Kalau tidak produktif bertani, bagaimana mereka mendapat uang? Kalau tidak punya uang, bagaimana mereka membayar utang? Dan begitulah lingkarang setan terjadi.

Gotong-royong menuju swasembada pangan

Kesulitan para petani ini secara tidak langsung akan berdampak pada kita, masyarakat umum yang bukan petani. Jadi, jika kita bisa membantu mereka, maka itu artinya kita juga membantu diri sendiri.

Oleh karena itu, CROWDE memberikan jawaban yang baik.

Menginvestasikan sebagian harta kita kepada para petani. Permodalan petani dengan sistem bagi hasil seperti ini merupakan win-win solution, karena kita dan petani bisa mengambil untungnya masing-masing. Para petani bisa bekerja dan mendapat profit, kita bisa membantu petani sambil mendapatkan profit juga.

Jika kita berpikir kita harus memiliki ratusan juta untuk dapat melakukan itu semua, maka kita salah. Sebab, kita bisa memberi modal kepada petani bahkan dimulai dari Rp10.000 saja. Terjangkaunya nilai investasi ini memberikan peluang untuk lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk membantu para petani, sehingga lebih banyak pula petani yang bisa dibiayai. Bahasa CROWDE-nya, investasi gotong-royong.

Media digital menuju swasembada pangan

Efektifnya, investasi murah ini dilakukan oleh CROWDE melalui internet. Sehingga, hanya butuh waktu sedikit untuk investor menemukan proyek yang tepat baginya.

Dengan menggunakan media digital, penanam modal dan petani lebih mudah untuk terhubung. Tentunya dengan dipantau oleh tim CROWDE, sehingga risiko penipuan hampir tidak ada. Selain itu, sistem ini lebih efisien, mengarah langsung kepada orang-orang yang memang mencari kesempatan di sektor pertanian, sekaligus menggunakan metode pembayaran yang cepat.

Beberapa tahap yang harus ditempuh untuk berpartisipasi di CROWDE hanya:

  1. Mendaftar
  2. Mencari proyek yang sesuai
  3. Membayar

Simpel, kan?

CROWDE menuju swasembada pangan dan kesejahteraan petani

Nah, bayangkan apa yang terjadi setelah kamu ikut gotong-royong menanam modal kepada petani.

Setelah modal terkumpul, petani segera pergi ke ladang dan menyelesaikan proyek pertanian mereka. Setelah panen, pengolahan, dan penjualan hasil dilakukan, mereka mendapatkan untung yang dibagi denganmu. Tanpa harus membayar utang dan bunganya, mereka bisa menabung keuntungan yang didapatkan dari bertani. Dengan begitu, mereka bisa membayar lahan, kebutuhan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan anggota keluarganya. Alias, kesejahteraan yang meningkat.

Tanpa harus mencari cara untuk membayar utang dan bunganya, petani bisa produktif melakukan proyek pertanian lainnya. Dampaknya, pendapatan petani meningkat, lahan tani produktif bertambah, pendapatan desa bertambah, dan menciptakan peluang usaha baru bagi petani dan distributor.

Bayangkan jika ribuan, ratusan ribu petani melakukan ini secara berkelanjutan. Pendapatan per kapita di desa meningkat, produksi hasil tani lokal meningkat, dan, jika semuanya berjalan lancar,  kebutuhan pangan Indonesia bisa tertutupi oleh produksi. Artinya, kemandirian pangan untuk Indonesia. Alias, swasembada pangan dan kesejahteraan petani.

Yuk, bantu CROWDE menuliskan sebuah perjalanan untuk pertanian Indonesia yang lebih baik!