Belajar Investasi Permodalan

Cari Tahu Risiko dari Skema Permodalan di Peer-to-Peer (P2P) Lending

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam instrumen investasi P2P Lending ada 3 skema permodalan, yaitu pinjaman, bagi hasil, dan syariah. Masing-masing dari mereka punya risikonya sendiri. Mulai dari risiko yang rendah, sedang, hingga risiko tinggi. Seperti prinsip yang berlaku di dalam investasi, semakin tinggi risiko – semakin besar pula profitnya. Sebaliknya, semakin rendah risiko investasi, profit yang dihasilkan juga semakin kecil. Balik lagi, ini tergantung pada karakter masing-masing orang. Lebih suka bermain aman, atau berani ambil risiko demi keuntungan yang lebih besar. Dan, kalau kamu masih bingung dengan tingkat risiko dari masing-masing skema permodalan yang ada di instrumen investasi P2P Lending dan instrumen investasi lainnya, jangan khawatir! Yuk, simak aja dipembahasan berikut!

Risiko investasi tingkat rendah

Bila kamu adalah investor yang sifatnya konservatif, yang lebih mengutamakan uang investasi tersimpan aman, tidak berharap tumbuh atau berkurang secara signifikan, pasti kamu harus memilih jenis investasi yang risikonya rendah. Jika dalam instrumen investasi P2P Lending, skema pinjaman adalah yang paling tepat buat kamu. Karena profit investasinya tetap dan jelas di awal, meski tidak menumbuhkan dana investasi kamu dengan maksimal. Instrumen investasi lain yang berisiko rendah adalah reksa dana pasar uang, deposito, dan SBN (Surat Berharga Negara). Investasi ini cocok untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek kamu. Mulai dari jangka waktu di bawah satu tahun hingga maksimal 2 tahun. Tingkat likuiditasnya juga terbilang tinggi. Jadi, bila sewaktu-waktu ingin kamu cairkan, tingkat kerugiannya tidak terlalu besar.  

Risiko investasi tingkat sedang

Kalau kamu adalah tipe investor yang moderat, dalam artian menginginkan profit yang lebih tinggi tapi tetap berhati-hati, kamu bisa memilih instrumen investasi berisiko sedang. Bila dalam instrumen investasi P2P Lending, kamu bisa mencoba skema syariah murabahah. Kamu bisa menjaga dana investasi milikmu dengan turut serta memiliki kendali dalam proses kerja sama. Keuntungan yang didapat bisa lebih tinggi dari skema pinjaman, namun risikonya juga tidak terlalu tinggi. Instrumen investasi lain yang memiliki risiko sedang, seperti reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, obligasi, dan emas batangan. Dimana untuk meminimalisir risiko pada jenis investasi ini, kamu harus menempatkan investasi pada jangka waktu menengah (di atas tiga tahun). Tingkat likuiditas dari instrumen investasi tersebut juga tidak terlalu tinggi. Sehingga jika dicairkan secara mendadak, akan menaikkan tingkat kerugiannya.  

Risiko investasi tingkat tinggi

Nah, buat kamu yang termasuk tipe investor agresif, kamu cocok untuk berani mengambil risiko lebih demi keuntungan (profit) yang tinggi pula. Pada instrumen investasi P2P Lending, kamu cocok memilih skema bagi hasil. Karena risiko dari skema tersebut tergolong tinggi, namun profitnya juga tergolong besar. Berkisar antara 20% – 30% per tahun. Adalagi instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi, seperti saham, reksa dana saham, dan juga properti. Jenis investasi ini hanya cocok untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang (di atas sepuluh tahun). Kalau hanya untuk mengejar profit di waktu singkat, bisa-bisa kamu bukan malah untung, tapi malah rugi. Karena tingkat likuiditasnya sangat rendah. Bila akan digunakan sewaktu-waktu, bisa-bisa nilai investasinya menyusut.

Coba kita ambil salah satu contoh, investasi properti. Ketika kamu mendadak membutuhkan dana investasi kembali, otomatis kamu harus menjual properti tersebut. Kamu pasti tau, menjual properti tidak cukup hanya dengan waktu 1 – 2 hari saja. Bisa membutuhkan waktu mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. Tapi cara lain agar properti kamu dapat segera terjual adalah dengan menurunkan harga jual di bawah harga pasarannya. Nah, dari itu kamu jadi tidak bisa mendapat untung besar. Kalau kamu tidak menjualnya terburu-buru, pasti kamu bisa memilih hingga mendapatkan harga terbaik agar return investasi jadi tinggi.

 

Dari semua itu, prinsip dasar untuk mengurangi risiko investasi adalah dengan melakukan diversifikasi. Berlaku juga di P2P Lending. Sebaiknya, kamu tidak hanya meletakkan dana investasi-mu pada satu proyek permodalan saja. Tapi usahakan untuk menyebarnya di beberapa proyek. Karena hasil akhir dari setiap proyek belum tentu akan sama. Kamu pasti berharapnya, semua profit akan selalu sesuai dengan ekspektasi. Namun, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dan, tidak semua hasil akan selalu sesuai dengan harapan kita. Jadi, lebih baik melakukan antisipasi terlebih dahulu, sebelum penyesalan datang di akhirnya.

Kalau sudah yakin begini, apalagi yang kamu tunggu? Langsung mulai investasi-mu di sini!

Terima kasih telah peduli pada petani Indonesia dengan membaca artikel CROWDE. Agar kami dapat menyajikan konten yang sesuai dengan kebutuhan kamu, mohon bantu kami mengisi survey berikut ini.

0 comments on “Cari Tahu Risiko dari Skema Permodalan di Peer-to-Peer (P2P) Lending

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *