Belajar Bertani News

Risiko Usaha Pertanian Buat CROWDE Bermasalah, Kenapa Begitu Riskan?

Crowde Bermasalah

Semua permasalahan datang bukan tanpa sebab. Usaha pertanian yang memang berisiko, punya banyak tantangan dalam praktiknya. Meski proses dari hulu ke hilir sudah diatur sedemikian rupa, tetap masih ada saja risiko yang mengancam. Risiko ini menjadi tantangan yang sering kali membuat CROWDE bermasalah. Tapi, sebenarnya risiko apa, sih, yang dihadapi usaha pertanian hingga riskan menimbulkan masalah? CROWDE punya jawabannya, nih. Yuk, simak di bawah ini! 

Adanya ketidak-pastian produksi karena faktor alam

Seperti yang kita ketahui bersama, metode budidaya pertanian di Indonesia masih sangat tradisional. Petani di Indonesia masih didominasi oleh mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Mereka masih enggan mencoba hal baru yang kekinian dan masih berpegang pada tradisi lama. Padahal, tradisi lama tersebut membuat usaha pertanian mereka kian berisiko. Sebut saja, terjadinya perubahan iklim membuat cuaca sering berubah-ubah sesukanya. Cuaca yang tidak menentu ini membuat tanaman budidaya riskan terserang hama/penyakit tanaman hingga menyebabkan jumlah produksi menurun, bahkan berisiko terjadi gagal panen. 

Belum lagi urusan bencana alam yang jika ini sampai terjadi, sudah pasti membuat petani merugi. Banyak proyek usaha tani di CROWDE yang juga mengalaminya, sehingga menjadi kendala dan membuat CROWDE bermasalah. Sulit memang menghindari risiko tersebut, tapi kami berusaha untuk meminimalisirnya.   

CROWDE bermasalah karena petani mengalami musibah tak terduga

Setidaknya ada ribuan petani yang ikut bergabung di CROWDE untuk mendapatkan akses permodalan. Mereka datang dengan berbagai karakter, kemampuan, dan peristiwanya masing-masing. Termasuk, musibah tak terduga yang sulit untuk kami prediksi di awal. Sebut saja, ada mitra petani kami yang punya usaha trading buah-buahan. Bukan merugi karena hasil buahnya jelek, namun pada saat proses distribusi (pengantaran) — mitra petani mengalami kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya fasilitas, aset, dan juga buah yang dibawa.

Peristiwa seperti ini memang benar-benar di luar dugaan. Meski CROWDE sudah menjamin akses pasar bagi para pelaku usaha trading pertanian agar harga jualnya lebih pasti, tapi ternyata ada saja kendala yang membuat proses penyelesaian proyek nggak sesuai rencana. Tapi bagaimana pun, kami tidak menyerah untuk tetap memberi dukungan bagi pemberdayaan petani lokal.      

Pemanfaatan teknologi masih terbatas

Beragam ide pemanfaat teknologi terus kami kembangkan untuk membantu proses budidaya pertanian jadi lebih efektif dan efisien. Dengan begitu, mampu meningkatkan profit petani dan kesejahteraan mereka. Seperti baru-baru ini, CROWDE bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) bertandang ke Kab. Sigi, Sulawesi Tengah untuk melakukan ekspansi sekaligus memperkenalkan teknologi berupa alat pendeteksi cuaca, pengukur pH, dan alat pengukur kelembapan tanah.

Teknologi ini bisa membantu mereka yang sering kesulitan mengetahui kapan musim kemarau dan penghujan akan datang. Mereka bisa melakukan prediksi untuk menyesuaikan jadwal tanam agar terhindar dari serangan hama/penyakit tanaman dan hasil panen pun lebih maksimal.

Namun, memperkenalkan teknologi baru tidak selamanya mudah. Petani kita yang sangat meyakini pengalamannya bertani, tidak serta-merta mau menerima input dari luar. Tapi, kami tetap berproses, meski membutuhkan waktu lebih panjang. Demi usaha budidaya pertanian yang lebih maju di waktu mendatang.  

Dampak pandemi, minat konsumen menurun

Kendala lain yang membuat tingginya risiko usaha pertanian adalah minat konsumen. Yang namanya usaha di bidang apapun, minat pasar adalah penentunya. Jika petani sudah berhasil memproduksi hasil panen yang melimpah, namun permintaan dari konsumen menurun, mau tidak mau mereka harus menurunkan harga jual atau hasil panen dibiarkan busuk dan mereka merugi. Pandemi juga memberi dampak nyata bagi usaha pertanian yang membuat pemasukan petani jadi berkurang dan berdampak ke pengembalian modal usaha.  

Crowde Bermasalah

Risiko tinggi di atas sering kali membuat para pemodal mundur dan tersisalah tengkulak yang membuat petani tidak punya pilihan lain. Padahal, tengkulak tidak selalu berpihak ke petani. Itu mengapa, meski usaha pertanian punya risiko yang tinggi, CROWDE ingin tetap memberi dukungan ke petani Indonesia dengan mengharapkan partisipasi dari berbagai pihak. Sebutan CROWDE bermasalah memang sering kami dengar, ini juga termasuk risiko yang harus kami hadapi. Namun, kalau kami juga mundur, siapa lagi yang akan berpihak ke petani? Karena mereka, masih membutuhkan kita.    

0 comments on “Risiko Usaha Pertanian Buat CROWDE Bermasalah, Kenapa Begitu Riskan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *