Seperti banyaknya prestasi di bidang pertanian yang berhasil ditoreh, tidak ketinggalan pula pada nilai investasinya. Ternyata pada akhir tahun 2017 lalu, data BKPM menyebutkan nilai realisasi investasi yang masuk ke Indonesia baik melalui penanaman modal asing maupun dalam negeri, mencapai angka Rp 160 Triliun. Lalu data terbaru yang dirilis oleh Kementan, terhitung dari Januari – Agustus 2018, realisasi investasi di bidang pertanian sudah mencapai angka Rp 60 Triliun. Terjadi kenaikan hingga 110% dari tahun 2013 hingga tahun 2018. Bagaimana hal ini bisa terjadi ya Teman CROWDE? Yuk, coba kita telusur lewat pembahasan yang satu ini!

Genjot realisasi investasi dengan menderegulasi peraturan

Kementan melakukan perubahan secara internal terhadap aturan perizinan, pelayanan, serta memberi kemudahan akses untuk melakukan investasi di bidang pertanian. Tujuannya, pemerintah memang ingin membuka seluas-luasnya iklim investasi di dalam negeri. Agar penguatan ekonomi di Indonesia bisa tercapai. Investasi dari pemodal dalam negeri yang telah berjalan ada yang ditujukan untuk sektor perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, karet, teh. Selain itu juga, ditujukan untuk sektor peternakan terutama unggas dan sapi, serta tidak lupa untuk sektor hortikultura.

Tingkatkan kinerja ekspor dengan permudah izinnya

Di internal Kementan sendiri telah memberlakukan sistem Single Submission Online (SSO) dan pengurusan izin dokumen ekspor akan disusun sesingkat mungkin. Yang sebelumnya untuk pengurusan dua dokumen tersebut membutuhkan waktu 3 bulan, sekarang dipangkas hanya membutuhkan waktu 3 jam saja. Dengan begitu alur ekspor ke luar negeri dapat dilakukan dengan lebih lancar. Selain itu, pemerintah juga mendorong petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen agar sesuai dengan standar ekspor. Juga membantu memperlancar jalur distribusi ekspor hasil produksi pertanian dalam negeri.

Investasi tersebut disalurkan kemana saja ya?

Pemerintah membagi investasi yang diterima ke berbagai sektor. Seperti ke sektor industri gula, pemerintah melakukan pengembangan kebun tebu seluas 200.000 ha untuk memenuhi kapasitas pabrik gula di Indonesia. Juga mendorong pengembangan lahan 500.000 ha untuk perkebunan tebu yang akan menyuplai kebutuhan bahan baku 14 pabrik gula baru yang akan beroperasi di tahun 2019. Dari pengembangan pabrik gula yang dilakukan pemerintah, diharap mampu membuka lapangan kerja baru untuk 3,87 juta penduduk. Lalu investasi paling besar juga ditujukan untuk sektor peternakan, terutama unggas dan sapi. Hingga terjadi kenaikan sebesar 55,1%. Berarti, bukankah investasi di bidang pertanian juga menggiurkan? Karena peminatnya begitu banyak!


Kalau kamu sendiri apakah tertarik untuk berinvestasi di sektor pertanian?

Karena ternyata manfaatnya bisa berdampak untuk jangka panjang. Seperti CROWDE yang hadir sebagai startup fintech bidang pertanian, yang memberdayakan petani di seluruh Indonesia melalui teknologi dan permodalan. Kamu diberi kemudahan untuk berinvestasi langsung ke sektor pertanian, peternakan, dan juga perikanan. CROWDE punya proyek ekosistem berkelanjutan. Kamu bisa melakukan permodalan mulai dari ke toko tani, pelaku usaha tani, hingga offtaker penyalur hasil pertanian ke konsumen dengan pemanfaatan teknologi. Sekarang masih mau cari yang lain? Kenapa enggak di CROWDE aja!