Jika kamu sering mendengar berita tentang kapal yang ditenggelamkan oleh pemerintah Indonesia, itu benar adanya. Pemerintah hanya sedang meneguhkan kedaulatan negaranya atas kepemilikan tunggal atas perairan Indonesia. Semua itu bukan dimaksudkan untuk bertindak kejam, tapi pemerintah memang harus memperjuangkan apa yang dimiliki negaranya untuk dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Yang bukan termasuk warga negara Indonesia, jangan harap bisa ikut menikmati sumber daya alam milik Indonesia.

Saat ini kapal asing hanya diperbolehkan berada sejauh 30 – 40 mil dari garis pantai. Padahal sebelumnya, kapal asing berani menjelajahi perairan Indonesia hingga jarak 5 mil dari garis pantai. Karena peraturan baru ini, masyarakat Indonesia – khususnya yang berprofesi sebagai nelayan merasa sangat diuntungkan. Sehingga bisa ikut memberi pengaruh pada peningkatan pendapatan negara yang berasal dari ekspor komoditas perikanan nasional. Berikut CROWDE beri ulasan selengkapnya. Yuk, simak!

Ekspor hasil perikanan Indonesia meningkat secara signifikan

Data di tahun 2014, menunjukkan jumlah nelayan ikan tangkap mengalami penurunan. Dari tahun 2003 yang berjumlah 1,6 juta nelayan, menjadi hanya 868.414 di tahun 2013. Hal ini ditengarai oleh terbatasnya jumlah ikan tangkapan di perairan Indonesia. Karena peraturan yang berlaku sejak tahun 2001, memperbolehkan kapal asing masuk ke perairan Indonesia. Ikan di perairan kita habis ditangkap oleh hampir 10.000 kapal asing yang hilir mudik setiap harinya. Nelayan kita justru kehabisan sumber daya alam di negerinya sendiri. Sebanyak 115 perusahaan eksportir ikan laut juga terpaksa tutup karena kekurangan pasokan ikan untuk diekspor.

Hingga akhirnya di masa pemerintahan Presiden Jokowi, keluar Perpres 44 yang melarang kapal asing masuk ke perairan Indonesia. Bagi yang terbukti melakukan illegal fishing, kapal tersebut langsung ditenggelamkan atau dibakar. Hingga kini sudah ada 488 kapal asing yang bernasib demikian. Dampak dari keputusan tersebut langsung bisa dirasakan. Sektor perikanan bisa kembali bangkit dan bahkan ekspor hasil ikan tangkapan dalam negeri terus mengalami kenaikan hingga 10 – 12 persen setiap tahunnya. Dan, neraca perdagangan perikanan Indonesia berhasil menempati urutan pertama di Asia Tenggara.

Awal tahun 2019, ekspor ke pasar Jepang dan Amerika juga sudah deal

Perusahaan plat merah, Perindo (Perum Perikanan Indonesia) telah menandatangani kesepakatan jual-beli komoditas perikanan dengan sejumlah perusahaan Jepang dan Amerika. Seperti, perusahaan Alpha Marine Japindo Co. Ltd. di Osaka yang sepakat membeli ikan berjenis tuna segar (loin skinless) dari Indonesia sebanyak 210 ton yang bernilai 3,12 juta Dolar AS. Belum lagi awal tahun kemarin, Indonesia juga telah mengekspor ikan tuna beku (loin skinless) ke perusahaan Musashi Industry Co. Ltd. asal Tokyo bervolume 600 ton dengan nilai 3,3 juta Dolar AS. Tidak ketinggalan, perusahaan asal Amerika Serikat – ATA Group Companies Inc. juga menjalin kerja sama jual beli komoditas perikanan dengan Indonesia senilai 150 juta Dolar AS. Komoditas yang diminati tidak hanya ikan tuna, tapi juga ikan kerapu, udang, dan kepiting.

Komoditas udang masih menjadi primadona ekspor

Total ekspor hasil perikanan hingga akhir tahun 2018 lalu adalah senilai 5 miliar Dolar AS. Yang mana sumbangan terbesarnya berasal dari komoditas udang, sebanyak 180.000 ton atau senilai 1,8 miliar Dolar AS. Komoditas udang masih menjadi primadona ekspor hasil perikanan Indonesia. Sehingga bila jumlahnya semakin ditingkatkan, akan memberi pemasukan yang positif bagi perekonomian negara. Pemerintah optimis bisa meningkatkan jumlahnya tahun ini hingga di atas 2 miliar Dolar AS. Karena, 80% sumbangan ekspor untuk komoditas udang adalah hasil budidaya dan sisanya merupakan hasil tangkapan. Sehingga pemerintah dan para pembudidaya komoditas udang terus bersinergi untuk bersama-sama mencapai target tersebut.

Kalau kamu juga ingin ikut berpartisipasi, bisa kok! Caranya mudah lagi! Cuma tinggal klik di sini, semuanya jadi mungkin. Apalagi kamu bisa sekaligus dapat untung. Paket lengkap ini mah namanya!   

 

Referensi:

Herman. 12 Februari 2019. Berita Satu: https://bit.ly/2SJB13w

Rina Anggraeni. 22 Februari 2019. SINDONews: https://bit.ly/2GZ7EIV

Lily Rusna Fajriah. 11 Desember 2018. SINDONews: https://bit.ly/2GXqkss