News

Melalui Program Radhia Tani, CROWDE Berdayakan Kelompok Wanita Tani

Kelompok Wanita Tani

Kamu tau nggak? Ternyata jumlah petani perempuan di Indonesia nggak sedikit, lho! Data BPS 2018 menyebut jumlahnya hampir 24% dari total 25,4 juta petani Indonesia. Karena perannya sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga, tugas mereka jadi lebih berat. Akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) agar dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya dalam bertani, serta menjadikan keluarga sebagai subjek pembangunan pertanian. Sebab, produktivitas wanita tani yang meningkat memiliki peran dan potensi yang strategis dalam mendukung peningkatan pendapatan rumah tangga pertanian di desa.

Tidak ketinggalan, untuk ikut serta meningkatkan pemberdayaan para wanita tani, CROWDE juga membentuk program Radhia Tani. Sebuah program pelatihan budidaya dan inkubasi bisnis bagi kelompok wanita tani. Didukung oleh UNCDF (United Nations Capital Development Fund) melalui program Women Enterprise Recovery Fund, Radhia Tani ingin meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan pemberdayaan wanita tani di Indonesia.

Radhia Tani melibatkan 19 trainers muda yang terpilih dari 259 pendaftar. Mereka akan dilatih selama 3 minggu untuk menjadi pendamping yang kompeten bagi para petani di Sumatera, Jawa, dan Bali. Mereka akan diajarkan budidaya pertanian seputar good agricultural practice, manajemen pasca panen, ilmu tanah, hama dan penyakit tanaman, serta bimbingan bisnis yang berkaitan dengan aktivitas marketing, sales, dan pengembangan produk, juga materi terkait lainnya.

Program Radhia Tani dimulai sejak bulan November lalu dan sudah menyambangi banyak kelompok wanita tani di wilayah Jawa Barat. Salah satu daerah yang menjadi tempat tujuan Radhia Tani adalah Tasikmalaya. Di sana ada 83 wanita tani yang ikut serta dalam program ini. Dengan mendapat pelatihan langsung dari para ahli di bidang pertanian, mereka jadi lebih paham seluk-beluk macam varietas unggul padi. Sehingga harapannya mereka dapat memilih sendiri varietas yang tepat untuk ditanam sesuai kebutuhan yang diharapkan. Karena sebelumnya, mereka cenderung hanya ikut-ikutan tetangganya dalam memilih varietas padi yang akan ditanam. Selain itu, mereka juga diajarkan soal budidaya praktis yang ekonomis dengan memanfaatkan alam sekitar.

Program ini sangat bermanfaat, saya jadi tahu macam-macam varietas unggul dan perlakuan benih tanaman. Saya tertarik mengikuti pelatihan selanjutnya yang membahas tentang pemanfaatan lahan pekarangan. Biar saya bisa bercocok tanam juga di halaman rumah untuk skala rumah tangga“, ungkap Ibu Herni, salah satu peserta Radhia Tani. 

Tapi kenapa, sih, pemberdayaan wanita tani menjadi penting? Ya, menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga – itu karena wanita yang berdaya adalah sumber kekuatan bagi kemajuan bangsa. Wanita yang mandiri dan berdaya dapat meningkatkan kualitas SDM karena wanita juga berperan sebagai pendidik bagi anak-anak mereka di lingkup keluarga. Terlebih bagi para petani perempuan yang tergabung dalam kelompok wanita tani diharap mampu memaksimalkan hasil panen mereka dan memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam pangan hortikultura agar bisa ikut menjamin ketersediaan bahan pangan di lingkup keluarga, demi cita-cita ketahanan pangan nasional.

Yohanes Sugihtononugroho, CEO & Co-Founder CROWDE juga mengungkapkan bahwa peran perempuan di sektor pertanian amatlah penting, apalagi di tengah kondisi saat ini. CROWDE berupaya untuk melatih optimisme mereka lewat menanam dan menggarap usaha tani bersama kelompok wanita tani lainnya, karena menanam berarti memberikan harapan bagi masa depan mereka dan juga bangsa.

 

Baca juga: Jangan Remehkan Peran Petani Perempuan Indonesia