Inspiratif

Di Balik Layar, Potret Petani Wanita Modern Negeri Ini

“Dalam cerita fiksi pun, ada superhero yang tak terlihat namun tetap dianggap orang super.”

Berawal dari cerita seorang anak pemilik lahan pertanian di daerah Pauh Tinggi, Kota Batusangkar, Padang – Sumatera Barat. Hilda memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa untuk dapat menempuh pendidikan perguruan tinggi di bidang pertanian. Berbekal restu orang tua, saat ini Hilda sudah bisa ikut membantu para petani di daerahnya, meski awalnya masih secara terselubung.

Mengapa demikian?

Nah, penulis berkesempatan mewawancarai sosok petani wanita modern ini secara langsung. Ayo simak ulasannya berikut:

Kentalnya nilai budaya yang dianut masyarakat, memberi stigma tersendiri pada kaum perempuannya

Kota Batusangkar yang dikenal sebagai tempat lahirnya budaya Minangkabau. Tak heran bila masyarakat di sana masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai asli budaya mereka. Seperti berbicara soal perempuan, kaum perempuan benar-benar mendapat akses minim untuk mengembangkan dirinya. Mulai dari tidak diharuskannya memiliki pendidikan yang tinggi, harus bersedia untuk menikah muda bahkan pada usia di bawah 20 tahun, dan kebanyakan tidak bekerja, apalagi dibiarkan memiliki kreatifitas.

Hal inilah yang kemudian memberi gejolak tersendiri bagi Hilda yang ingin menjadi sosok perempuan berprestasi dan bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. “Untung saja saya bisa meyakinkan dan mendapat izin dari kedua orang tua saya untuk bersekolah di perguruan tinggi. Karena teman-teman saya kebanyakan hanya bisa pasrah menikah selepas lulus SMA dan menjadi ibu rumah tangga”, ungkap Hilda.

Memang tidak ada yang salah dengan nilai-nilai budaya. Perempuan yang memang ditakdirkan menjadi ‘pembantunya’ laki-laki dan tidak harus bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Namun, apakah salah bila perempuan ingin mendapat penghidupan yang lebih baik dengan berupaya menjadi pribadi yang lebih baik?

Terlepas ini melanggar nilai-nilai budaya atau tidak, namun setiap manusia masih memiliki hak asasi yang tidak boleh dibatasi oleh faktor apapun. Hal inilah yang kemudian meyakinkan Hilda untuk bisa mengupayakan masa depan yang lebih baik. Terutama ingin memajukan sektor pertanian di daerahnya.

Niat tulus ingin membantu ternyata tidak selalu berjalan mulus. Apa saja hambatan yang ditemukannya?

Lagi-lagi niat tulus tidak selalu dianggap sama oleh orang lain. Bagaimana tidak? Masyarakat Batusangkar yang notabene belum banyak tersentuh oleh modernisasi, masih sangat menutup diri. Masih sangat berpedoman dengan nilai serta ajaran nenek moyang mereka. Belum mau membuka diri untuk menambah pengetahuan baru.

“Lahan pertanian di sana luas dan subur. Namun, mereka masih menjalankan sistem pertanian tradisional. Sistem yang secara turun-temurun telah mereka terapkan. Mereka percaya bahwa sistem pertanian tradisional adalah ilmu terbaik yang akan selalu mereka bawa. Dan mereka tidak mengharapkan hasil panen yang berlebihan, asal cukup untuk makan sehari-hari”, tambah Hilda.

Oleh karenanya, pemberian informasi tentang ilmu pertanian terkini melalui program penyuluhan pemerintah juga tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat Batusangkar. Mereka masih percaya ilmu pertanian yang mereka miliki adalah cara yang terbaik. Karena memang untuk menerima sesuatu yang baru tidak selamanya mudah. Akan muncul rasa khawatir dan bingung apabila beralih. Tercermin pada penolakan yang mereka lakukan.

Hal ini yang kemudian menjadi hambatan tersendiri bagi Hilda untuk turut mengembangkan sektor pertanian di Batusangkar. Masyarakatnya masih bingung dalam menentukan pilihan.

Apa saja yang telah Hilda lakukan untuk memaksimalkan pertanian di daerahnya?

Namun, perjuangannya tidak terhenti sampai di situ saja. “Suatu saat ada petani tetangga saya yang hampir memasuki masa panen, namun tiba-tiba tanamannya terserang penyakit yang bisa buat gagal panen. Mereka hanya terus-menerus menyemprotkan pestisida ke tanaman tersebut, namun tidak juga berkurang. Lalu saya dengan perlahan memberi tahu kalau tanaman tersebut dimakan oleh serangga dan untuk menghilangkannya harus diberi insektisida. Beberapa hari kemudian, tanaman kembali bisa tumbuh dan tetangga saya tidak jadi gagal panen”, ceritanya kepada penulis.

Akhirnya setelah kejadian tersebut, Hilda mulai membantu petani di daerahnya untuk secara perlahan merubah sistem pertanian yang keliru. Hilda sedikit demi sedikit mulai mengajari cara pemilihan bibit berkualitas, cara pemanfaatan dan pengelolaan lahan, cara tanam yang benar, pembasmian hama dan serangga, hingga pada proses panen.

Masyarakat Batusangkar secara perlahan bisa menerima informasi baru yang ternyata bermanfaat. Untuk kemudian digabungkan dengan ilmu pertanian yang selama ini telah mereka terapkan. Hilda pun bersedia memberikan bimbingan kepada para petani di daerahnya untuk memaksimalkan potensi pertanian di Batusangkar. Meski petani di Batusangkar belum memiliki orientasi ke sektor agribisnis, namun Hilda tidak akan menyerah. Mungkin suatu saat, sektor pertanian di Batusangkar bisa menjadi faktor penggenjot perekonomian di daerah tersebut. Karena hal itu mungkin saja terjadi.

Berhasil atau tidak? Apakah telah berdampak pada petani di daerahnya?

Ibarat membabat hutan belantara, setidaknya Hilda telah berhasil menjadi sosok perempuan yang lebih baik di daerahnya. Terpelajar dan bisa memberi perubahan baik bagi daerahnya. Tidak hanya pasrah dengan keadaan dan tidak menyerah dengan kondisi sekitar.

Hilda telah banyak membantu petani yang hampir gagal panen. Yang berarti, Hilda telah banyak menyelamatkan potensi kerugian yang mungkin dialami petani. Kalau petani tidak rugi, berarti petani bisa mendapatkan keuntungan yang wajar. Dengan begitu, kalau usaha tani mereka konsisten mendatangkan keuntungan, pasti akan lebih banyak penduduk Batusangkar yang tertarik mencoba pertanian. Terutama akses modal akan lebih mudah kalau usaha tani mereka sudah bisa dipercaya.

Seperti di CROWDE, usaha tani yang memiliki rekam jejak terukur dan jelas memiliki keuntungan, yang akan ditawarkan kepada Teman CROWDE untuk didanai. Dan Teman CROWDE bisa memilih langsung proyek usaha tani mana yang kamu suka untuk kamu modali. Cara bantu petani di CROWDE mudah kok!

0 comments on “Di Balik Layar, Potret Petani Wanita Modern Negeri Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *