Yuk, kenalan dulu dengan petani kita yang satu ini. Namanya Pak Manan, petani cabai merah asal Sukabumi yang sudah mulai bertani sejak tiga tahun lalu. Dalam sekali tanam, dia yang juga merupakan anggota GARAP, bisa panen cabai merah sampai 8 kali, dan dalam 1 kali siklus panen, dia mampu menghasilkan cabai merah rata-rata sebanyak 300 kg. Pak Manan ikut memberdayakan para petani perempuan di daerahnya dengan mempekerjakan mereka dalam proses budidaya, seperti membantu memetik cabai merah yang sudah siap panen. Untuk para petani laki-laki bertugas dalam pengemasan hingga siap untuk didistribusikan. Total pekerja di lahan Pak Manan berjumlah 18 orang.

 

Namun, budidaya cabai milik Pak Manan tidak serta merta berjalan tanpa hambatan. Bagi dia, tantangan terbesar saat membudidayakan komoditas cabai merah adalah masalah hama (patek). Sejumlah daerah penghasil cabai merah di Indonesia memang sering terserang penyakit patek (antraknosa) yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum sp karena situasi lingkungan yang lembab dengan suhu udara 29 – 32 derajat Celcius. Gejala serangan jamur patek ditandai dengan munculnya bercak-bercak hitam pada cabai yang membuatnya segera menjadi busuk kering dan menghitam, lalu merembet hingga tangkai buahnya pun rontok. Serangan jamur patek bisa menyebabkan kerusakan parah hingga sebesar 80 – 90 persen dari tanaman cabai.

 

Itu mengapa, para petani di daerah Pak Manan harus berupaya ekstra melakukan tindak pencegahan agar tanaman cabai mereka tidak terserang jamur patek. Salah satunya dengan mengurangi kelembaban di sekitar area tanam dengan menyiangi gulma karena kumpulan gulma dalam jumlah banyak bisa menyebabkan aliran air terhambat dan meningkatkan kelembaban.

 

Pandemi virus Corona yang masih terjadi hingga saat ini ternyata juga berdampak pada sektor pertanian. Terbukti pendapatan yang diterima Pak Manan ikut berkurang karena harga jual komoditas cabai merah yang turun drastis. Ini bisa jadi disebabkan oleh tingginya hasil produksi karena memang sedang masa panen, tidak diimbangi oleh permintaan pasar yang juga tinggi. Harga jual yang murah tidak serta-merta meningkatkan keinginan masyarakat untuk membeli. Mungkin masyarakat sedang mengurangi konsumsi mereka akan cabai merah, sehingga supply dan demand jadi tidak seimbang. Apalagi masa pandemi ini membuat kita jarang berbelanja di pasar dan tidak sedikit dari kita lebih memilih membeli bahan makanan yang lebih awet ketimbang yang mudah busuk seperti cabai merah segar.

 

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk ikut serta memberdayakan petani kita. Cara paling mudah adalah dengan selalu mengkonsumsi produk pangan lokal, jangan pilih yang impor. Apalagi kalau kamu punya usaha/bisnis kuliner, bahan bakunya bisa langsung ambil dari hasil produksi petani. Kamu jadi lebih untung, mereka pun senang hasil produksinya bisa terserap maksimal. Atau, ada lagi cara lain yang bisa kamu temukan di sini