Untuk membangun sektor pertanian di Indonesia jadi lebih baik, cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengatasi setiap masalah yang menjadi penghalang perkembangannya. Seperti, kurangnya akses permodalan bagi petani untuk menjalankan usaha budidaya. Kemudian, CROWDE hadir untuk membantu petani mendapat akses permodalan dengan lebih mudah. Namun, dalam perjalanannya tidaklah selalu mulus. CROWDE juga menemukan sejumlah tantangan, seperti terjadi keterlambatan pengembalian modal milik lenders. 

 

Lalu, kenapa hal tersebut bisa terjadi?

 

Proyek permodalan yang merupakan usaha budidaya di sektor pertanian memang memiliki risiko yang tinggi. Hal ini dikarenakan sektor pertanian di Indonesia masih sangat bergantung dengan alam. Cuaca yang tidak menentu bisa mengganggu proses budidaya dan menyebabkan gagal panen. Penyebab lainnya adalah karena komoditas budidaya yang rentan terhadap penyakit. Apalagi bila ditanam tidak sesuai musimnya. Selain itu, harga jual komoditas yang anjlok juga bisa menyebabkan keterlambatan pengembalian modal karena keuntungan tidak sesuai dengan yang diprediksikan. Belum lagi kondisi yang terjadi di luar kendali, seperti bencana alam. 

Fitur Pengembalian Partial

Penyebab-penyebab di atas memang masih sering terjadi. Itu mengapa, proyek permodalan budidaya petani dikategorikan berisiko tinggi, meski memiliki profit yang besar pula. Dalam hal ini, CROWDE memahami petani yang mengalami keterlambatan pengembalian modal. Tanpa, mengesampingkan amanah yang telah dipercayakan para lenders kepada CROWDE. Sebagai jalan keluarnya, CROWDE memfasilitasi fitur pengembalian partial. Dimana, petani bisa mengembalikan modal milik lenders dengan cara dicicil sesuai perjanjian yang telah disepakati, dan persentase sesuai porsi masing-masing.

 

Sebagai contoh:

Proyek budidaya tomat milik petani Hamid membutuhkan permodalan sebesar Rp50 juta. Kemudian, Pak Abu menyalurkan pendanaan sebesar Rp20 juta atau 40% dari total modal yang dibutuhkan. Kemudian Pak Alex dan Bu Rasti juga ikut memberikan pendanaan masing-masing sebesar Rp15 juta atau 30% dari total modal yang dibutuhkan. Namun, seiring berjalannya waktu, petani Hamid baru bisa mengembalikan modal yang dipinjamnya sebesar Rp10 juta. Uang inilah yang kemudian langsung diberikan kepada para lenders di proyek tersebut sesuai dengan porsinya. Yang berarti, Pak Abu mendapat cicilan pertama sebesar Rp4 juta, Pak Alex sebesar Rp3 juta, dan Bu Rasti mendapat Rp3 juta. 

 

Meskipun begitu, fitur pengembalian partial tidak menjamin seluruh modal pokok milik lenders akan kembali 100%. Masih ada banyak hal yang bisa saja terjadi di tengah jalan saat petani menyelesaikan proses cicilan pengembalian modal. Namun, fitur ini menjadi bentuk tanggung jawab dari petani, dan juga CROWDE sebagai pihak penghubung antara petani dengan lenders. Agar uang yang telah dicicil petani dapat segera didistribusikan kepada para lenders, tanpa harus menunggu semuanya terkumpul.

 

CROWDE juga tidak lupa mencantumkan tingkat risiko di setiap proyek permodalannya. Tingkat risiko dinilai berdasarkan skor kredit masing-masing proyek permodalan untuk kemudian dipilih oleh para lenders berdasarkan profil risiko mereka, apakah konservatif, moderat, atau agresif.

 

Semua pilihan ada di tangan kamu, so jangan ragu lagi untuk memulai!