Belajar Bertani

Bagaimana Petani Bertahan di Pergantian Musim?

Iklim

Apakah kamu menyadari bahwa saat ini kita dihadapkan dengan pergantian musim yang labil? Sebelumnya, kita merasakan cuaca panas hingga kegerahan, lalu di hari selanjutnya tiba-tiba hujan deras secara terus-menerus. Ya, perubahan cuaca merupakan bagian dari perubahan iklim yang terkadang bisa terjadi secara drastis.

Pergantian musim yang labil merupakan ancaman nyata yang harus dihadapi oleh kita yang tinggal di bumi. Mungkin anak muda seperti kita masih mengesampingkan fakta bahwa ini tidak begitu mengancam bagi kehidupan manusia. Namun, apa yang akan terjadi di masa mendatang? Kita nggak ada yang tahu. Bisa-bisa cuaca panas makin terasa panas atau cuaca dingin akan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Secara tidak langsung kita sudah merasakan perubahan cuaca secara ekstrim di Indonesia, dimana kenaikan suhu hingga 1 derajat celcius dan terjadinya pembekuan es di wilayah-wilayah dingin seperti Dieng. Perubahan suhu secara ekstrim ini berisiko mengakibatkan kepunahan makhluk hidup dan rusaknya ekosistem.

Tak hanya berdampak pada kondisi lingkungan di masa depan saja, perubahan iklim juga turut memberikan dampak buruk bagi sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sektor yang rawan terhadap perubahan iklim karena produktivitas di suatu lahan pertanian sangat bergantung pada kondisi cuaca dan suhu udara. Perubahan suhu secara ekstrim dapat mempercepat metabolisme serangga bekerja, sehingga tanaman pertanian terancam mengalami kerusakan. 

Apa dampak pada tanaman saat terjadi pergantian musim yang tak pasti?

Perubahan suhu tinggi akan menjadi habitat yang ramah bagi serangga, sehingga memicu peningkatan metabolisme serangga untuk makan lebih banyak daripada biasanya. Di sisi lain, tanaman akan mengalami kesulitan beradaptasi terhadap suhu yang menghangat walaupun sebenarnya tanaman mempunyai sistem untuk menghadapi berbagai ancaman, misalnya serangan ulat. Saat ulat menggigit daun, tanaman akan menghasilkan hormon Jasmonate (JA) untuk segera memproduksi senyawa dan menggagalkan serangan ulat. 

Sementara saat temperatur sudah panas, tanaman memulai triknya untuk mendinginkan seluruh badannya dengan mengangkat daun menjauhi tanah yang panas. Tumbuhan juga membuka stomata sehingga air dapat menguap untuk mendinginkan daun. Sayangnya pertahanan dari tumbuhan saja tidak cukup, mengingat temperatur yang panas menghambat tanaman untuk bertahan dan bertumbuh. Sebagai manusia, kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi tanaman sehingga tanaman mampu menghasilkan pangan yang kita butuhkan.

Lalu, apakah petani tahu serangan organisme pengganggu adalah dampaknya?

Mungkin banyak dari kita yang menyangka bahwa para petani telah mengetahui informasi mengenai perubahan iklim dan risiko budidaya ketika terjadi perubahan iklim. Tapi ternyata, selama ini petani tidak memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim, lho! Padahal mereka adalah aktor utama yang setiap hari berinteraksi dengan tanaman. Menyedihkan bukan? Petani harus berjuang mempertahankan tanaman budidaya dengan pengetahuan yang didapatkan hanya dari pengalamannya bertani. Tentu itu tidak cukup untuk membuat petani bisa bertahan menghadapi perubahan iklim demi menjaga lahan pertaniannya.

Masih banyak petani yang hanya mengandalkan pengalamannya sebagai acuan dalam berbudidaya. Dimana seringkali mereka justru tidak mengetahui penyebab utama dari munculnya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), atau perawatan apa yang perlu dilakukan saat memasuki musim kering dan penghujan. Petani yang masih mengandalkan ilmu dari pengalamannya bertani, tentu tidak cukup memberi jaminan bahwa langkah yang mereka ambil merupakan langkah yang tepat. Apabila OPT tidak diatasi dengan langkah yang tepat, maka akan merugikan petani karena dapat menurunkan hasil panen 40 hingga 60 persen.

Keterbatasan pengetahuan petani bisa diatasi dengan memberikan akses informasi yang luas mengenai pertanian dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya, termasuk perubahan iklim serta risiko yang mungkin muncul. Sejak tahun 2016, CROWDE telah berusaha secara perlahan membuka akses informasi kepada petani dengan memberikan pendampingan dan monitoring selama kegiatan budidaya pertanian. Dalam pendampingan dan monitoring, CROWDE telah memiliki 19 Field Agent di beberapa wilayah Indonesia yang dapat membantu petani dengan memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh petani. Selain itu, pendampingan juga dilakukan dengan memberikan penjelasan atau berbagi pengalaman oleh pihak yang telah memiliki pengalaman lebih banyak tentang teknik budidaya termasuk teknik pembasmian OPT dengan menyesuaikan jenis OPT dan dosis yang digunakan. 

Pendampingan ini tentu dilakukan agar para petani mampu meningkatkan kesejahteraan mereka melalui lahan pertaniannya. Karena sejatinya, peran petani tidak hanya menjaga tanamannya saja, namun juga menjaga kehidupan kita semua. Ambil langkahmu untuk menjaga petani bersama CROWDE!

Baca juga:

5 Tips Sukses Menjadi Petani Muda Era Milenial

References:

Monika Novena. 4 Februari 2020. Perubahan Iklim Picu Kenaikan Suhu, Ini Dampak pada Tanaman Pertanian. Kompas.com: https://sains.kompas.com/read/2020/02/04/134600623/perubahan-iklim-picu-kenaikan-suhu-ini-dampak-pada-tanaman-pertanian?page=all 

0 comments on “Bagaimana Petani Bertahan di Pergantian Musim?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *