Kamu tau kan pestisida bermanfaat sekali untuk membasmi serangga, hama dan penyakit tanaman. Tapi sayangnya pestisida kebanyakan berasal dari bahan kimia sintetis yang ternyata bisa berdampak negatif untuk jangka panjang. Apalagi bila digunakan secara berlebihan. Jika ingin menghilangkan dampak negatif tersebut, sudah banyak peralihan yang menyarankan untuk menggunakan pestisida organik. Namun, masa peralihan tidak selalu berjalan mulus. Sebenarnya apa sih dampak negatif dari penggunaan pestisida non organik? Berikut CROWDE kasih tau ke kamu ya!

Lahan jadi rusak dan membahayakan makhluk hidup

Penggunaan pestisida yang dilakukan secara terus-menerus akan menumpuk residu yang membuat tanah menjadi tidak subur. Mengurangi kandungan unsur hara pada tanah dan mematikan makhluk hidup pengurai yang terkandung di dalam tanah. Sehingga lama-lama tanah menjadi kering dan tidak subur lagi untuk ditanami. Apalagi bila residu dari pestisida menempel pada buah dan sayuran yang kita konsumsi sehari-hari. Juga akan membahayakan tubuh manusia.  

Pestisida bukan barang murah yang bisa merugikan petani

Pestisida dari tahun ke tahun harganya semakin melonjak. Tidak sedikit yang bernilai ratusan ribu hanya untuk ukuran beberapa cc saja. Bahkan harga jualnya tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual sayuran. Akibat dari itu, petani semakin menjerit. Belum lagi keselamatan petani yang terancam. Jenis pestisida semprot dapat menjadi racun bagi orang yang menghirupnya. Membuat badan menjadi lemas, saluran pernafasan terganggu, dan memunculkan penyakit pneumonia di paru-paru. Biaya pengobatan di zaman sekarang kan juga tidak murah guys.

Menjadikan hama dan penyakit lebih resisten

Beberapa pestisida justru membuat beberapa jenis hama dan penyakit semakin kebal. Dan malah menambah jumlah hama tanaman karena mampu mematikan parasit. Padahal parasit merupakan musuh alami hama. Sehingga petani harus semakin menambah jumlah takaran pestisida mereka. Membuat pengeluaran semakin bertambah dan semakin cepat merusak lahan pertanian.  

Pastinya akan mengancam ketahanan pangan di Indonesia

Menurut data yang didapat, sekitar 69% tanah atau lahan di Indonesia telah dikategorikan rusak parah lantaran penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan. Sehingga dapat mengancam ketahanan pangan di Indonesia. Ditambah dengan minimnya pengetahuan petani yang membuat mereka tidak dapat mengukur kadar PH tanah dan tidak bisa memperkirakan penggunaan obat-obatan secara tepat, sesuai kebutuhan. Tidak tau mana jenis obat-obatan yang boleh digunakan dan yang tidak boleh. Juga ketidak-mampuan petani dalam negeri untuk memilih benih unggul.  

 

Oleh karenanya, ada CROWDE! Selain membantu permodalan proyek usaha tani, CROWDE juga berkomitmen untuk membantu petani secara berkelanjutan. Dengan membantu menyalurkan hasil panen petani, dan yang terpenting adalah membentuk paguyuban petani. Tujuannya, untuk secara terus-menerus memberi tambahan ilmu pengetahuan kepada para petani Indonesia. Yuk, segera gabung di CROWDE sekarang!