News

Pertanian Juga Punya Mimpi, Mampukah Terwujud?

Mimpi

Sebentar lagi, kita akan sama-sama merayakan kemerdekaan Indonesia ke-75 tahun di tanggal 17 Agustus. Namun, apakah saat ini kamu sudah memiliki bayangan bagaimana Indonesia akan berkembang 25 tahun lagi? Apakah mimpi-mimpi yang dimiliki sudah bisa terwujud?

Pada usianya yang akan genap 100 tahun pada 2045, Indonesia diharapkan telah mampu mencapai visi negara yaitu menjadi Indonesia Emas. Salah satu langkah yang dapat dilakukan secara bersama yaitu dengan mencapai ketahanan pangan melalui lumbung pangan nasional. Sayangnya, mimpi kita bersama ini tidak mudah untuk digapai, apalagi menghadapi barisan isu krusial yang terkait daya dukung sumber daya lahan, manusia, dan kebutuhan pangan di masa mendatang.

Pada tahun 2045, kita akan menjadi saksi dari perkembangan era, dimana teknologi tidak dapat terbantahkan kehadirannya. Sektor pertanian adalah salah satu sektor yang akan mengalami digitalisasi melalui pengadopsian teknologi yang dapat mengefektifkan pekerjaan petani. Namun, perkembangan ini dihadapkan pada keterbatasan SDM pertanian dan ketersediaan lahan yang berpotensi menyebabkan para petani menjadi kesulitan akses modal.

Fenomena aging farmer menyisakan petani lanjut usia di pertanian, sedangkan para pemuda lebih memilih untuk menggantungkan hidupnya di perkotaan. Luas lahan baku sawah yang kian menyusut setiap tahunnya akibat konversi, fragmentasi dari pewarisan, dan penurunan konsistensi unsur hara pada tanah, juga turut menjadi hambatan tercapainya mimpi Indonesia. Akumulasi dari permasalahan tersebut dapat mengarahkan para petani untuk mengambil pinjaman kepada tengkulak dengan suku bunga tinggi dan kesulitan melirik pinjaman dari institusi perbankan karena terkendala persyaratan administrasi. Ini masih menjadi permasalahan klasik namun pelik untuk diselesaikan.

Jadi bagaimana langkah pemerintah untuk mencapai mimpi besar ini?

Saat ini, pemerintah sedang mulai melakukan pembangunan proyek food estate sebagai awal mula mewujudkan mimpi sebagai lumbung pangan sekaligus mengatasi krisis pangan dunia akibat Covid-19 yang diprediksi akan terjadi oleh FAO. Food estate direncanakan akan berlokasi di Kalimantan Tengah di atas kawasan eks Proyek Lahan Gambut (PLG) seluas 165.000 hektar dengan 85.500 ha merupakan lahan fungsional dan sisa luas lahan masih berupa semak belukar yang perlu land clearing. Dalam pengembangan kawasan ini, Kementerian Pertahanan akan bersinergi bersama dengan Kementerian PUPR, Kementerian Pertanian, Kementerian LHK, juga Bulog yang akan berperan sebagai offtakers untuk lahan tersebut. Pelaksanaan proyek food estate diharapkan dapat memberikan masa depan yang cerah bagi petani kecil di Kalimantan Tengah bukan semakin memperkuat ketimpangan yang telah ada.

Ternyata, apabila merujuk pada Global Food Security Index (GFSI), kita masih berada pada urutan ke 62 untuk ketahanan pangan. Ini bukan hanya tentang ketersediaan (availability) saja, tetapi juga keterjangkauan (affordability) dan keamanan pangan yang bergizi (safety). Untuk mencapai ketahanan pangan sesuai index tersebut, pemerintah Indonesia masih perlu bekerja sama dengan pihak-pihak yang kompeten untuk penguatan akses pembiayaan bagi petani, pembangunan irigasi, dan pemilihan pangan yang sehat serta bergizi.

Ketahanan pangan telah dicapai oleh negara-negara ini, bagaimana caranya?

Ketahanan pangan juga dapat dicapai dengan pengadopsian teknologi pertanian seperti yang dilakukan negara Jepang, Belanda, dan India untuk mengembangkan produktivitas pertanian di negaranya. Jepang dengan kecanggihan teknologinya dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi produksi melalui pengadopsian mesin  bajak enam. Pemerintah Jepang turut andil dalam menentukan komoditas dan harga agar para petani tidak khawatir hasil panennya mendapatkan harga yang rendah.

Sedangkan Belanda memanfaatkan teknik greenhouse untuk memaksimalkan lahan pertanian yang tidak besar dan menerapkan pertanian berkelanjutan sehingga Belanda mampu menjadi negara pengekspor kedua setelah Amerika Serikat. Kemudian India yang sempat sangat bergantung pada impor, bangkit dengan menciptakan kebijakan makro melalui pengalokasian anggaran yang besar untuk pertanian, pembangunan pusat penelitian petani yang dilengkapi dengan alsintan setiap radius 20 kilometer, serta menjaga semangat petani. 

Pengadopsian teknologi pertanian sejak dini, pengaplikasian pertanian organik, pemberian modal untuk petani, dan pembangunan infrastruktur pertanian sangat perlu dilakukan oleh pemerintah. Usaha-usaha tersebut wajib dilakukan secara gotong royong bersama seluruh kelompok masyarakat untuk menyongsong mimpi-mimpi yang telah disusun. Bersama CROWDE, kita bangun pertanian Indonesia untuk terciptanya ketahanan pangan menjadi lumbung pangan  Mari ambil peranmu bersama CROWDE untuk tercapainya lumbung pangan nasional!

Referensi:

Kadir. Oktober 2019. Tantangan Menuju Lumbung Pangan 2045. Researchgate.net: https://bit.ly/3iamAT7

The Economist Intelligence Unit. December 2019. Global Food Security Index 2019. Foodsecurityindex.eiu.com: https://bit.ly/3fuk6xb

Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. 10 Juni 2020. Mulai 2020-2022, Pemerintah Targetkan Optimalisasi Produksi 165.000 Hektare Lahan Pangan di Kalteng. Setkab.go.id: https://bit.ly/33ugOaY

0 comments on “Pertanian Juga Punya Mimpi, Mampukah Terwujud?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *