News

Pertanian di Indonesia: Ceritamu Kini…

pertanian

Kamu pasti masih ingat saat masih kecil, ketika pergi ke mana saja, mata ini masih mampu memandang hamparan sawah juga kebun yang luas sekali, sejauh mata memandang. Terutama saat pergi ke kota-kota seperti Tangerang atau Bandung.

Namun sekarang, jumlah sawah yang mampu dilihat oleh mata semakin berkurang. Mata ini malah disuguhi gedung-gedung yang tinggi menjulang, atau pembangunan pabrik di mana-mana. Beberapa waktu yang lalu, saat penulis pergi ke Semarang, keadaan pun serupa. Jumlah sawah semakin sedikit, berganti dengan bangunan-bangunan yang gagah.

Ke mana para petani?

Berdasarkan data di tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Setjen Pertanian yang diambil dari Badan Pusat Statistik, bisa kita lihat jika sebenarnya, lahan pertanian di Indonesia masih cukup besar. Apalagi jika melihat lahan tersebut (dari data) bukan hanya sawah. Namun juga tegalan atau kebun, ladang dan lahan yang tidak digunakan. Dan uniknya, jumlah lahan yang sementara tidak digunakan justru malah lebih luas dibanding lahan yang digunakan untuk usaha.

Tentu ada beberapa jawaban untuk pertanyaan kenapa jumlah lahan yang tidak digunakan jauh lebih besar daripada lahan yang digunakan untuk sektor pertanian. Salah satunya?

Kabarnya, Sektor Pertanian di Indonesia Tidak Pernah Diurus Serius

Mengutip pernyataan Kompas–dan mungkin juga hal yang sudah kamu tahu–Indonesia tampak kurang serius dalam mengurus sektor pertanian. Yang kita sudah lihat, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah seakan memberikan segalanya ke bidang industri dan manufaktur. Terbukti sih, karena selama beberapa tahun terakhir, yang kita lihat adalah perubahan di sana-sini, dalam segi pembangunan. Namun jarang kita dengar adanya sebuah prestasi atau pembangunan setara di bidang pertanian.

Bukan. Bukan berarti penulis tidak sedang mensyukuri apa yang sudah terjadi di Indonesia saat ini. Namun alangkah baiknya jika sektor pertanian, sektor perekonomian yang sedari dulu dibangga-banggakan, juga tidak dilupakan begitu saja.

Masih mengutip artikel dari Kompas, baiknya saat ini, pemerintah tetap memproteksi lahan pertanian potensial untuk pangan supaya tidak kalah pada kepentingan pembangunan semata.

Benar. Jika melihat dari Data Kementerian Pertanian, selama tahun 2005 – 2009, investasi modal dalam negeri naik sekitar 23,03% dari Rp. 30,7 triliun menjadi Rp. 37,8 triliun. Namun, 51,4 – 75,4% jumlah tersebut masuk ke sektor industri. Ada juga kok investasi asing di sektor pertanian, namun proporsinya jadi yang paling rendah. Sudah begitu, berdasarkan data 2005 – 2009, investasi tersebut mengalami penurunan dari 3,9% (2005) menjadi 1,2% (2009). Tahun 2009, dari total investasi asing sebesar 10,81 miliar dollar AS, yang masuk ke sektor pertanian itu cuma 0,129 miliar dollar AS aja. Dari sini, bisa disimpulkan jika apa yang disampaikan oleh Kompas dalam artikelnya adalah benar, bahwa pemerintah memang belum begitu serius mengurusi sektor Pertanian di Indonesia.

Baru-baru ini, dalam lawatannya ke Vatikan guna menghadiri Seminar “Pemberantasan Kemiskinan Melalui Pertanian dan Perkebunan Demi Perdamaian dan Kemanusiaan”, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dalam pidato kunci, mengatakan jika kinerja ekonomi Indonesia yang positif tidak mungkin terjadi kalau tidak ada kontribusi signifikan dari sektor pertanian. Dan masih menurut Luhut, sektor pertanian punya kontribusi besar. PDB sektor pertanian rata-rata 4,1 miliar Euro per tahunnya, di periode 2010 hingga 2018. Luhut juga menjelaskan jika tahun 2014, sektor pertanian mempekerjakan sekitar 40,12 juta orang, atau sekitar 33% tenaga kerja Indonesia.

Apa yang disampaikan oleh Luhut juga didukung oleh data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Dalam rilisan data neraca perdagangan di April 2018, ekspor Indonesia mencapai 14,47 miliar dollar AS, hasil yang sebenarnya menunjukkan jika kinerja ekspor Indonesia justru melemah sekitar 7,18% dibandingkan bulan sebelumnya. Tapi kalau dilihat secara menyeluruh, kinerja ekspor yang menurun tersebut masih tertolong sama kinerja sektor pertanian yang punya kontribusi positif terhadap neraca perdagangan April 2018. Sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan sekitar 6,11%, dengan nilai 0,3 dollar AS. Naik dibanding bulan sebelumnya. Ini belum termasuk dengan kenaikan tahunan dari ekspor produk pertanian Indonesia sebesar 7,38%.

Terlihat indah, kan? Pertanian di Indonesia menjadi salah satu penopang perekonomian di Indonesia. Bahwa sebenarnya Indonesia memiliki luas lahan sawah baku seluas 8,1 juta hektare dengan luas panen seluas 15,16 juta hektare. Belum menghitung potensi yang dimiliki sekitar 24,3 juta hektare. Potensi yang sampai kini belum juga dimaksimalkan.

Nah, setelah membandingkan paparan pemerintah dan BPS dengan fakta di lapangan, sebenarnya sektor pertanian di Indonesia masih bisa digenjot lagi hasilnya. Dimaksimalkan agar kedepan, bukan hanya menjadi penopang saja, namun menjadi sumber perekonomian utama.

Lah, memang bisa? Kalau bisa, apa yang harus dilakukan?

Mungkin bisa dimulai dengan kamu, kamu dan kamu bercita-cita menjadi petani yang memadukan teknologi dengan pertanian. Semacam entrepreneur di bidang pertanian. Menarik, gak?

Sektor Pertanian Kurang Regenerasi Sumber Daya Manusia

Faktanya, nggak begitu menarik bagi kebanyakan orang.

Oke. Keadaannya adalah: Pemerintah menyadari jika investasi asing terhadap sektor pertanian dibilang (atau dibagikan) sangat minim. Namun, pemerintah juga merilis jika pemerintah melakukan banyak langkah untuk memanjakan sektor pertanian. Itu kenapa jika mengutip pada tulisan di atas, sebenarnya pertanian di Indonesia terbilang baik-baik saja, malah ikut menopang kenaikan ekonomi di Indonesia.

Lantas kenapa Indonesia masih terlihat belum memaksimalkan sektor pertanian sebagai “jagoan” perekonomian? Yang ternyata, kini Indonesia, yang dulu dipercaya sebagai negara agraris, berdasarkan data yang dirilis oleh lembaga riset dan analisis ekonomi internasional Inggris, The Economist Intelligent Unit (EIU) dan Barilla Center for Food and Nutrition (BCFN) pada Desember 2016, malah memberikan data jika pertanian Indonesia berada di peringkat 21 dari ranking 25 besar di Dunia. Di bawah Indonesia, ada Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi dan India. Tidak heran sih, mengingat 3 negara pertama dikenal dengan minyaknya, sementara India jadi lebih fokus ke pengembangan teknologi.

Kita sudah tahu jika Indonesia memiliki lahan pertanian yang begitu luas. Tapi, kondisi ini belum diimbangi dengan produksi yang melimpah. Salah satu penyebabnya adalah jumlah petani yang kian menyusut dari tahun ke tahun. Malahan, berdasarkan data sensus pertanian tahun 2013 diketahui kalau 61,8% petani berusia di atas 45 tahun dan cuma 12,2% saja yang berusia di bawah 35 tahun. Situasi berbeda dialami petani tanaman pangan, di mana sekitar 47,57% petaninya berusia di atas 50 tahun.

Paparan ini belum termasuk hasil kajian yang dilakukan oleh KRKP yang didukung oleh Oxfam Indonesia pada tahun 2016. Hasil kajian ini menunjukkan kalau 54% responden anak petani hortikultura bilang kalau mereka tidak ingin menjadi petani. Sementara 63% anak petani padi mengaku mereka tidak mau menjadi petani. Jelas hal ini memberikan bukti nyata jika betapa sektor pertanian tidak punya daya tarik yang bisa mengalahkan sektor lainnya, terutama industri. Karena anak-anak muda saat ini mengaku jika mereka lebih senang menjadi buruh industri karena punya pendapatan yang lebih pasti.

Bekerja menjadi buruh industri juga menjadi satu dari sekian banyak alasan banyaknya anak-anak muda di daerah melakukan urbanisasi. Kondisi ini jelas mengancam produktivitas sektor pertanian yang motornya berasal dari wilayah perdesaan.

Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, saat ini sih masih aman. Karena masih ada sekitar 50,2% penduduk di pedesaan dari total penduduk di Indonesia. Namun keadaan itu diproyeksi bisa terjun bebas menjadi 33,4% saja penduduk pedesaan pada tahun 2025.

Lalu apa efek dari tingginya urbanisasi ini? Let’s do the math.

Dengan semakin tingginya jumlah penduduk pedesaan yang melakukan urbanisasi, berarti banyak desa yang ditinggalkan. Sementara kita tahu jika wilayah pertanian di Indonesia mayoritas berada di daerah-daerah pedesaan. Jika yang muda melakukan urbanisasi, yang tua yang tinggal dan melakukan aktivitas pertanian. Jelas bukan sebuah keadaan yang menguntungkan. Jadi, meskipun Kementerian Pertanian terus berinovasi sehebat apapun, tapi kalau petaninya sudah sepu dan tua untuk berpikir, maka proses edukasi pun jadi sangat susah.

Misi Membangkitkan Semangat untuk Bertani Pada Kaum Muda Indonesia. Apakah Hanya Wacana?

Perlu ada kebijakan pemerintah untuk mendorong tenaga kerja muda supaya mau fokus di bidang pertanian, khususnya mereka yang ada di desa. Pendidikan vokasi khusus pertanian, sepertinya bakal punya peran penting dalam misi meningkatkan semangat untuk pertani bagi para pemuda Indonesia dan membangun desa juga sektor tersebut.

Masalahnya, saat ini pendidikan vokasi belum memiliki perencanaan dan pengemasan yang begitu bagus. Ambil contoh, sangat banyak kabupaten maupun daerah yang punya potensi di bidang pertanian, tapi malah tidak memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang spesialis di bidang pertanian, misalnya.

Itu baru satu faktor. Belum lagi faktor-faktor lain seperti perkara kepemilikan, faktor akses dan aset lahan, kepastian harga jual dan pendapatan, juga ketersediaan infrastruktur pendukung yang menjadi faktor penting untuk mempengaruhi minat orang tua dan anak untuk menjadi petani.

Kenapa orang tua juga memainkan peran penting dalam mendorong anak-anak muda di Indonesia supaya mau terjun ke bidang pertanian?

Kamu pasti sudah umum mendengar atau mengalami sendiri cerita teman-teman yang mengambil pendidikan pertanian, malah memilih berkarir di bank, marketing atau membuka usaha sendiri. Apakah salah? Tentu tidak. Ini adalah soal pilihan. Tapi juga jadi membingungkan jika pilihan berkarir bisa berbanding terbalik dengan saat memilih pendidikan.

Sudah banyak cerita jika para petani, pemilik kebun dan pengolah alam justru menginginkan anak-anaknya bekerja di kota, berdasi dan jauh-jauh dari tanah dan sawah. Para orang tua yang menyandarkan ekonomi mereka pada sektor pertanian justru tidak mau turunan mereka mengikuti jejak yang sama.

Pun, banyak lulusan fakultas pertanian dari berbagai kampus yang menghindari bekerja menjadi petani karena ogah berpanas-panasan di lahan, gak suka kotor dan lebih nyaman bekerja di kantor. Cara berpikir “bermain aman dan nunggu gaji bulanan” yang banyak dianut mereka. Karena memang, realistis. Betul, kan? Karena menjadi petani untuk saat ini pun punya resiko yang besar kalau mau untung yang besar.

Bertani, atau menjadi petani dianggap bukan profesi yang menjamin finansial untuk saat ini, terutama jika melihat masa depan, di mana mereka juga harus memikirkan cicilan rumah, uang pendidikan, dan dana pensiun.

Ada kok keinginan besar para anak muda menjadi petani di Indonesia, namun diiringi dengan harapan jika infrastruktur pertanian di sini sudah sebagus Jepang atau Belanda. Yang mampu mengawinkan pertanian dengan teknologi dan juga sektor lainnya.

Hanya dengan Peningkatan Kesejahteraan dan Infrastruktur, para Petani di Indonesia bisa Makmur

Melihat hal ini (lahan pertanian yang semakin sedikit, petani yang didominasi oleh orang tua, keengganan anak muda untuk bertani), pemerintah juga melakukan hal-hal penting. Salah satunya adalah dengan memberikan fasilitas dan meningkatkan infrastruktur. Namun lagi-lagi, seperti yang sudah disampaikan di bagian sebelumnya, jika yang diberikan edukasi dan fasilitas adalah generasi tua, agak susah penetrasinya.

Menurut Kepala Bidang Penyelenggaraan Pendidikan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Siswoyo, profesi petani di Indonesia perlu di re-branding. Dan masih menurutnya, cara paling ampuh adalah lewat pendidikan. Upaya-upaya sudah dilakukan, mulai dari program Pertumbuhan Wirausaha Muda Pertanian sejak tahun 2016, dengan harapan dapat memperbarui pandangan sekaligus minat anak muda terhadap pertanian. Selain itu, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) milik Kementan juga sudah melakukan wisata pendidikan pertanian sejak tahun 2000-an, dengan target khusus anak-anak sekolah dari mulai TK hingga SMA.

Namun seperti yang kita tahu, langkah-langkah tersebut tidak begitu terdengar. Atau bahkan tidak terdengar, karena masih banyak daerah-daerah yang diketahui kuat di pertanian, malah dipenuhi Sekolah Teknik Mesin, bukan SMK Pertanian.

Benar, jika pemerintah memang tidak bisa sendirian dalam melakukan hal ini; mengedukasi serta membangkitkan semangat anak-anak muda supaya meminati sektor pertanian. Selayaknya pemerintah yang juga tidak bisa sendirian dalam meningkatkan kualitas sektor pertanian agar kedepannya tidak kalah dengan Tiongkok dalam hal ekspor sumber pangan. Namun bukan berarti pemerintah tidak mendapatkan pertolongan. Banyak sekali bantuan dan gerakan dari berbagai komunitas dan NGO untuk mengatasi hal ini. Yang juga dibantu oleh banyaknya startup-startup yang juga mulai menaruh perhatian lebih terhadap sektor pertanian di Indonesia.

Tapi tentu saja, beberapa bukan berarti semuanya. Pertanian dan petani di Indonesia masih membutuhkan bantuan kita semua. Baik untuk mengedukasi, meningkatkan kesejahteraan juga untuk mengangkat derajat profesi petani. Adalah tugas kita bersama untuk bisa mengangkat harga diri sektor ekonomi yang dulu begitu dibanggakan.

Caranya? Dimulai dari diri sendiri, dengan memuliakan dan membantu para petani di Indonesia. Bisa dengan menjadi petani di daerahmu. Atau bantu petani agar kesejahteraannya terjaga. Contohnya? Tidak bingung mencari modal untuk menanam, membantu agar petani tidak bingung dalam menjual hasil panen dan menjaga agar mereka selalu sejahtera.

Mudah, kan? Secara tulisan, iya. Praktiknya? Patut dibuktikan.

35 comments on “Pertanian di Indonesia: Ceritamu Kini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *