News

Pertanian dan Kemiskinan, Apa Hubungannya?

Kemiskinan

Siapa sangka kalau pertanian yang lokasinya jauh dari hingar bingar perkotaan akan menjadi salah satu penggerak utama roda perekonomian negara kita saat ini? Seperti yang disebutkan BPS dalam Berita Resmi Statistik, kondisi ekonomi Indonesia telah mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen (y-on-y). Namun, pertanian mengambil peran sebagai pengungkit ekonomi yang tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q) bahkan secara y-o-y, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19 persen. Tumbuhnya sektor pertanian ditopang oleh subsektor tanaman pangan yang tumbuh paling tinggi yakni sebesar 9,23 persen. Pertumbuhan ini tentu membuktikan kontribusi pertanian yang begitu besar bagi suatu negara, khususnya negara agraris seperti Indonesia. Tapi, mengapa kemiskinan masih membayangi kehidupan petani Indonesia?

Kondisi Ekonomi di Pedesaan

Meski sektor pertanian tumbuh subur secara ekonomi, lalu mengapa masyarakat di pedesaan masih terjerat oleh lingkaran kemiskinan? Di wilayah pedesaan sendiri, kemiskinan tercatat naik hingga 333,9 ribu orang atau 0,22 persen pada Maret 2020 dengan total penduduk miskin di pedesaan sebanyak 15,26 juta orang (12,82 persen). Pedesaan yang identik dengan pertanian, memberikan kita gambaran tentang kemiskinan petani di Indonesia saat ini yang jumlahnya lebih dari 33,4 juta orang. Kemiskinan di pedesaan mengarahkan kita kepada kelompok masyarakat yang sangat bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya sebagai sumber mata pencaharian. Realita ini tentu memposisikan petani sebagai kelompok rentan karena kita tidak bisa memprediksi bagaimana sumber daya alam di kemudian hari.

Penyebab kemiskinan pedesaan tidak bisa dilihat secara sederhana, lho! Karena berkaitan dengan keadaan-keadaan yang melatarbelakanginya. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kemiskinan di pedesaan bisa disebabkan karena keterbatasan sumber daya alam, ekosistem pertanian, atau pada individu petani itu sendiri. Melihat ironi yang ada di pertanian kita, penting untuk mengubah ekosistem dalam pertanian agar berdampak bagi kehidupan para petani.

CROWDE Mengambil Tantangan Ekonomi di Pertanian

Dengan melihat permasalahan yang ada di pertanian, kita pasti berpikir cara melepas kemiskinan dari masyarakat pedesaan yang sudah turun temurun tidak terselesaikan. Sebenarnya, kemiskinan bisa diatasi dengan membangun ekonomi pedesaan melalui pertanian, dimana pertanian menjadi sektor yang menyumbang pendapatan bagi pedesaan. Namun perlu diketahui bahwa ekonomi tidak bisa berkembang tanpa adanya faktor pendorong salah satunya keterbukaan akses bagi petani yang selama ini sangat terbatas untuk didapatkan. Akses tersebut bisa berupa akses informasi, akses teknologi, akses permodalan, dan akses pasar.

Selama ini, petani dihadapkan dengan keterbatasan akses yang menyulitkan petani untuk mendapatkan informasi budidaya tanaman, beradaptasi dengan teknologi, mendapatkan modal usahatani, bahkan juga menjual hasil panen dengan harga yang stabil. Upaya membuka akses bagi petani pada dasarnya telah dilakukan oleh CROWDE sejak 2017  dengan memberikan akses permodalan bagi para petani, membekali pengetahuan petani tentang literasi keuangan dan ilmu pertanian modern, memanfaatkan teknologi pertanian yang efektif, serta menyediakan pasar dimana petani tidak perlu khawatir dengan permainan harga dari tengkulak. Langkah yang sedang diambil CROWDE mengacu pada Sustainable Development Goals (SDGs) untuk menyeimbangkan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi sebagai agenda pembangunan dunia di tahun 2030. 

Hasilnya, jika dibandingkan dengan pinjaman modal dari rentenir, CROWDE dapat memberikan pinjaman permodalan dengan meningkatkan pendapatan usaha tani sebesar 15 persen per tahun. Seperti yang kita ketahui, pinjaman yang didapatkan dari rentenir atau tengkulak berpotensi memiliki suku bunga yang tinggi, tentu ini dapat menempatkan petani pada lubang hutang yang sulit terselesaikan. Demi tercapainya kesejahteraan petani, CROWDE menciptakan ekosistem pertanian yang lebih baik dengan melibatkan petani di dalamnya. Petani dapat menjual hasil panennya kepada mitra off-taker institusional dan eceran dengan harga yang sehat di setiap siklus panen sehingga hasil panen dapat terserap secara maksimal.

Bukan hanya meningkatkan pendapatan petani saja, CROWDE juga membuka akses inklusi keuangan bagi petani. Saat ini, 100 persen petani yang bermitra dengan CROWDE telah memiliki rekening bank untuk bertransaksi dan melakukan manajemen keuangan mereka juga jadi lebih baik, seperti memiliki pembukuan keuangan bisnis per siklus budidaya dan perencanaan bisnis kedepannya. Sebelum bermitra dengan CROWDE, 50 persen petani tidak memiliki rekening bank dan selalu menggunakan uang tunai saat bertransaksi dimana memiliki resiko yang lebih besar seperti penyelewengan dana dari pihak ketiga, kekeliruan manajemen keuangan, dll. Perubahan ini sangat berdampak bagi petani dalam memperbaiki kualitas hidup dan produktivitas pertanian di wilayah pedesaan.

Permasalahan pertanian yang melibatkan 29 persen pekerja di sektor strategis perlu diatasi secara gotong royong, bukan hanya CROWDE atau pemerintah saja, namun kamu juga perlu melangkah untuk pertanian yang lebih sejahtera. Jadi, bagaimana langkahmu untuk petani Indonesia?

Faktor Pengaruh Produktivitas Bisnis Pertanian

Referensi:

Badan Pusat Statistik.  15 Juli 2020. Berita Resmi Statistik: Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2020. Bps.go.id: https://bit.ly/3hvfpoD 

Badan Pusat Statistik.   5 Agustus 2020. Berita Resmi Statistik: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2020. Bps.go.id: https://bit.ly/3hv75VL 

Badan Pusat Statistik. 2018. Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) 2018. Bps.go.id: https://bit.ly/317tx0q 

0 comments on “Pertanian dan Kemiskinan, Apa Hubungannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *