Permodalan

Perjalanan P2P Lending Hadir di Indonesia Sampai Bisa Membantu UMKM

Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 265 juta jiwa. Membuatnya menjadi negara yang berpredikat padat penduduk. Sejalan dengan hal tersebut, potensi bisnis di Indonesia juga sangat besar. Bahkan, bisnis UMKM di Indonesia mampu menyumbang terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) sebesar 60%. Dengan jumlah para pelaku UMKM yang diprediksi mencapai 58,97 juta orang di tahun 2018. Jika dibagi berdasarkan banyaknya usaha per kategori, usaha kecil di Indonesia menjuarai dengan jumlah terbanyak, yaitu 93,4%. Sedangkan, untuk usaha menengah ada sebanyak 5,1%, dan yang paling sedikit justru usaha kategori besar yang hanya 1%.

UMKM juga mampu menyerap tenaga kerja paling banyak di Indonesia. Itu mengapa tidak heran bila pemerintah sangat menginginkan UMKM di negara ini bisa naik kelas. Tidak hanya menjalankan bisnis kecil-kecilan, namun didorong untuk bisa mengembangkan usahanya menjadi lebih besar. Agar bisa memberi dampak yang lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Nyatanya untuk bisa berkembang, UMKM membutuhkan akses permodalan untuk mengembangkan usahanya. Sesuai juga dengan hasil riset dari World Bank tentang permasalahan utama yang dihadapi oleh UMKM di Indonesia. Yaitu, tidak adanya akses permodalan.

Jika menilik ke belakang, data OJK tahun 2016 lalu menyebutkan bahwa kebutuhan pembiayaan (pinjaman) nasional mencapai Rp 1.600 triliun. Dan, baru sekitar Rp 600 triliun yang bisa dilayani oleh bank dan lembaga keuangan lainnya. Masih ada kebutuhan sebanyak Rp 1.000 triliun yang harus dipenuhi. Karena terbatasnya akses pinjaman, sebagian dari para pelaku bisnis tanah air mengalami kegagalan. Juga berdampak pada terjadinya kerugian PDB sebesar 14% di tahun 2015.

Persoalan ini kemudian ditangkap sebagai peluang bagi para pelaku industri fintech, khususnya untuk mengembangkan layanan peer-to-peer (p2p) lending. Hadir dengan berupaya memberi akses pinjaman modal usaha kepada para pelaku UMKM yang masih belum terlayani oleh institusi perbankan dan lembaga keuangan konvensional.

Lalu, melihat peluang pasar yang besar, mulailah sekitar tahun 2016 banyak bermunculan layanan p2p lending di Indonesia. Ditambah dengan keluarnya regulasi resmi dari OJK di tahun 2016 yang melegalkan keberadaan fintech lending di Indonesia.

Semakin bertambahnya tahun, jumlahnya semakin banyak saja. Akhirnya, pertumbuhan industri ini pun dapat melesat dengan cepat. Diikuti pula oleh para pengguna layanannya yang semakin bertambah. Karena, ternyata mampu menjadi solusi dari masalah permodalan UMKM selama ini. Berdasarkan ketentuan dari OJK, fintech lending bisa menyalurkan pinjaman modal ke UMKM hingga maksimal Rp 2 miliar.

Para investor juga berlomba-lomba memberi pendanaan pada startup fintech yang memiliki layanan p2p lending. Bahkan, di tahun 2017, fintech lending berhasil menjadi startup yang paling banyak mendapat pendanaan selain e-commerce. Jika kamu mau menjadi investor yang ikut berkontribusi memberi permodalan ke berbagai usaha UMKM di bidang agrikultur, bisa kok! Cara mudahnya bisa kamu temukan di sini!  

 

Referensi:

Aditya Hadi Pratama. 29 Desember 2017. Techinasia: https://bit.ly/2CRv2pt

Dwi Aditya Putra. 6 Juli 018. Liputan6.com: https://bit.ly/2M1oZ22

Terima kasih telah peduli pada petani Indonesia dengan membaca artikel CROWDE. Agar kami dapat menyajikan konten yang sesuai dengan kebutuhan kamu, mohon bantu kami mengisi survey berikut ini.

0 comments on “Perjalanan P2P Lending Hadir di Indonesia Sampai Bisa Membantu UMKM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *