Petani di Indonesia tidak hanya terdiri dari petani laki-laki, namun juga ada yang perempuan. Menurut data BPS tahun 2018, tercatat ada sebanyak lebih dari 8 juta petani perempuan di Indonesia. Sebagian dari mereka bahkan adalah kepala rumah tangga yang memiliki otoritas penuh dalam pengambilan keputusan. Bahkan, pada tahun 2017 sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja perempuan paling banyak, yaitu mencapai 13,7 juta jiwa. Hampir semua kegiatan usaha pertanian, khususnya budidaya tanaman pangan, pasti tidak lepas dari campur tangan para petani perempuan yang ikut membantu hingga berhasil panen. 

Meski demikian, isu kesetaraan gender masih membuat hadirnya gap yang memunculkan beragam perbedaan antara petani perempuan dengan yang laki-laki, seperti upah kerja mereka yang lebih kecil, tingkat kapabilitas yang dianggap rendah, serta stigma para petani perempuan yang hanya dianggap sebagai pelengkap bagi para petani laki-laki. Padahal, banyak penelitian menyebutkan bahwa pendapatan perempuan (istri) jauh lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan perekonomian suatu keluarga. Dengan begitu, perannya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kaum perempuan sering menjadi penyelamat perekonomian keluarga karena selain perannya menjalankan tugas domestik, seperti mengurus rumah tangga dan anak-anak, mereka juga dapat menjalankan tugas korporat dan menghasilkan penghasilan tambahan bagi keluarga. Tidak terkecuali para petani perempuan yang berperan sebagai pencari nafkah karena suami sebagai pencari nafkah utama tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga. Peran tersebut tentu dapat menyiasati serta mengatasi kemiskinan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga yang menjadi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG). 

Kemiskinan di kalangan perempuan akan mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak lebih besar dari laki-laki. Ketika penghasilan perempuan meningkat, jumlah perempuan miskin ikut berkurang, tentu akan berdampak positif pada anak-anak yang juga memperoleh manfaat karena kaum perempuan biasanya lebih banyak membelanjakan uang mereka untuk kebutuhan anak. Ini akan menimbulkan efek ganda sebab juga dapat meningkatkan kesejahteraan anak yang menjadi masa depan bangsa.  

Para petani perempuan dituntut untuk ikut berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga tidak hanya bergantung pada apa yang diperoleh dari suami sehingga mereka juga memegang peranan sosial-ekonomi di lingkungannya. 

Peran petani perempuan dalam SDG tidak hanya untuk mengentas kemiskinan tapi juga untuk tujuan mengatasi terjadinya kelaparan. Mereka yang pandai bercocok tanam bisa menyelamatkan keluarganya dari kelaparan. Sumber pangan yang satu-satunya berasal dari hasil budidaya pertanian membuat petani perempuan berada di lingkaran paling depan dalam mengupayakan kecukupan pangan bagi keluarganya agar terbebas dari faktor kelaparan. 

Agar mereka bisa menyelamatkan lebih banyak manusia dari kelaparan dan kemiskinan, yuk dukung terus peran petani perempuan di Indonesia dalam menjalankan usaha pertanian. Pemerintah melalui Kementan juga berperan aktif melibatkan mereka dalam pembangunan sektor pertanian seperti dengan membuat program pengarusutamaan gender (PUG) yang didalamnya termasuk Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kawasan rumah pangan lestari. KWT menjadi bukti nyata adanya keterlibatan kaum perempuan sebagai penggerak dan pelaku utama optimasi lahan dan penerapan pengendalian hama tanaman.

Apa yang diupayakan oleh Kementan juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak melalui penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE). Dan, CROWDE ingin mengucapkan Selamat Hari Kartini untuk seluruh petani perempuan di negeri ini. Terimakasih atas perjuangan kalian untuk tidak pernah menyerah memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk Indonesia. Kalau kamu juga ingin memberi apresiasi kepada mereka bisa, lho! Caranya dapat kamu temukan di sini!