Media News

Nasib Petani di Tengah Pandemi: Harga Pangan Hingga Daya Beli Turun

Tengah Pandemi
Kumparan.com, Jakarta – Di tengah pandemi virus corona, sektor pertanian masih tumbuh sebesar 16,4 persen. Namun, pertumbuhan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi para petani. Setidaknya ada tiga kenyataan kurang baik yang harus dialami petani berdasarkan temuan dari startup pertanian CROWDE saat mengunjungi para mitra petani di Sukabumi. Berikut ini kondisinya:

Petani Hadapi Harga Pangan yang Terus Turun

CROWDE mengakui masyarakat juga menjerit karena harga pangan yang terus naik-turun. Namun, petani justru lebih menderita. Alasannya, di tengah pandemi para petani terpaksa harus menjual hasil panennya dengan harga yang lebih rendah dari biasanya. Itu artinya, keuntungan yang diperoleh petani juga semakin berkurang.
Terbatasnya akses mobilisasi karena sejumlah kebijakan pemerintah membuat petani juga kesulitan mendistribusi hasil panen ke daerah-daerah lain. Sehingga hanya bisa memasarkannya di pasar lokal. Pada akhirnya membuat fluktuasi harga pangan menjadi semakin parah.
Ketika keuntungan berkurang, petani juga menjadi semakin sulit untuk memulai budidayanya kembali. Para petani juga mengaku kesulitan membeli obat-obatan untuk penyakit tanaman dengan tepat waktu. Akibatnya, proses budidaya mereka jadi tidak maksimal.

Daya Beli Turun, Petani Merugi

Berbagai kebijakan yang diterapkan saat pandemi seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dirasa telah mengubah pola konsumsi pangan masyarakat. Kondisi itu menyebabkan turunnya daya beli terhadap bahan pangan sehingga petani semakin merugi.
Banyaknya tempat makan dan tempat-tempat lain yang biasa membutuhkan bahan pangan sebagai bahan baku harus terpaksa tutup, hingga akhirnya mengurangi tingkat pembelian hasil produksi tani. Petani ditinggalkan pembeli sehingga banyak hasil panen yang tidak laku terjual dan dibiarkan busuk. Mereka merugi karena tidak mendapat pemasukan yang maksimal.

Kesejahteraan Petani Jadi Terancam

Petani yang terus diminta untuk memenuhi kebutuhan pangan, ternyata tidak membuat posisi mereka diuntungkan. Terlebih diperparah oleh kondisi saat ini yang membuat kondisi petani semakin terpuruk. Harga bahan pangan yang tidak stabil, diikuti akses distribusi yang terbatas, dan diperparah oleh daya beli konsumen yang menurun, membuat mereka semakin berada di ujung tanduk.
Bahkan, data menunjukkan pada bulan Mei lalu, Nilai Tukar Petani (NTP) berada di bawah angka 100, yang artinya petani mengalami defisit dimana pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Melihat fakta yang terjadi di lapangan, CROWDE berupaya meminimalisir dampak yang dialami para mitra petani dengan menempatkan Farmers Consultant(FC) dan Field Agent(FA) sebagai tim yang bertugas untuk memonitor dan membimbing petani saat menjalankan budidaya. FC dan FA akan menampung segala cerita dan keluhan mitra petani CROWDE, yang ditempatkan langsung di lokasi proyek usaha tani.
“Untuk bisa maju bersama dan mendukung petani, berbagai fasilitas harus diberikan seperti menyediakan koordinator di lapangan, memberikan akses pasar hasil panen, juga memberi modal saprodi dan biaya atau upah pekerja”, ungkap Marketing Creative Lead CROWDE, Aldy Ramadiansyah.
Artikel ini telah tayang di Kumparan.com. Klik selengkapnya di sini: https://bit.ly/32ZSRXA

0 comments on “Nasib Petani di Tengah Pandemi: Harga Pangan Hingga Daya Beli Turun

Leave a Reply

Your email address will not be published.