Gaya Hidup Inspiratif

Mudik Dilarang, Bertani di Rumah Pakai Metode Kekinian

Pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik yang berlaku sejak 6 Mei lalu sebagai antisipasi penyebaran virus COVID-19 yang semakin masif. Ribuan petugas gabungan dari TNI, Polri dan instansi terkait sudah berjaga di pos-pos penyekatan. Jadi buat kamu yang ingin berniat mudik, mending urungkan niatmu. Ketimbang nanti juga disuruh putar balik. Terus, libur Lebaran ini enaknya ngapain, ya? Soalnya nggak bisa kemana-mana, pasti bakal bosan kalau nggak ada aktivitas.

Nah, daripada bingung, coba, deh, bertani di rumah. Apalagi bertani punya manfaat dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengusir stres, dan menjaga kesehatan otak. Mau bertani di rumah tapi nggak punya lahan luas? Tidak usah khawatir, ada kok metode budidaya yang cocok diterapkan pada lahan terbatas. Kamu tertarik? Berikut ulasannya!

Bertani di rumah dengan metode vertical farming      

Metode budidaya ini memang ditujukan untuk pertanian di lahan sempit. Sebab, seiring luas lahan pertanian yang terus menyusut, harus ada strategi budidaya baru agar sektor pertanian tetap bertahan. Salah satunya adalah metode vertical farming atau dikenal juga dengan vertikultur yang merupakan metode budidaya pertanian dengan media tanam berpola vertikal dan bertingkat. Dengan begitu, tidak membutuhkan media tanam yang luas karena bisa disusun menggunakan model bertingkat dengan cara ditempelkan pada dinding atau digantung. Pekarang rumah kamu pun akan terlihat lebih estetik dengan adanya vertical farming. Jenis tanaman yang bisa kamu budidayakan dengan metode ini seperti cabai, seledri, bawang, bayam, dan tomat. Serta, agar bisa menghasilkan produk organik, gunakan pupuk cair organik yang bebas bahan kimia saat proses budidaya. 

Pakai media udara, metode aeroponik juga cocok

Aeroponik merupakan istilah yang diambil dari bahasa Yunani yaitu ‘aero’ dan ‘ponus’ yang artinya ‘udara’ dan ‘daya’. Sehingga metode aeroponik diartikan sebagai cara bercocok tanam dengan menggunakan udara tanpa media tanah. Lho, memangnya bisa? Ya, menggunakan wadah khusus, akar tanaman akan dibiarkan terbuka dan menggantung pada tempat tersebut, serta harus dijaga kelembabannya. Tanaman yang ditanam menggunakan metode aeroponik membutuhkan air berisi larutan unsur hara yang akan disemprotkan dalam bentuk kabut pada akar tanaman. Uap atau kabut itu yang akan diserap oleh akar tanaman untuk tumbuh. 

Bertani

Baiknya lagi, tanaman dengan metode budidaya aeroponik dikenal tahan terhadap gulma dan hama karena tidak ada ruang tumbuh bagi mereka. Jenis tanaman yang bisa dibudidayakan dengan metode ini adalah jenis sayuran daun yang waktu panennya singkat, seperti kangkung, bayam, sawi, dan selada. Selain itu juga ada beberapa jenis tanaman umbi, seperti kentang dan ketela pohon. Tapi perlu diingat, sebelum benih atau biji tanaman dipindah ke tempat khusus aeroponik, benih harus kamu semai dulu di rockwool yang disusun dalam tray pembibitan. Proses pemindahan baru dilakukan setelah tumbuh paling tidak dua helai daun.  

Ada juga metode hidroponik water culture

Metode water culture merupakan teknik budidaya hidroponik yang paling sederhana. Menggunakan media air sebagai sumber nutrisi yang membuat tanaman seakan terapung di atas air. Kamu cukup menyiapkan bak berisi air yang nantinya akan menjadi tempat bagi rakit styrofoam berisi tanaman untuk mengapung. Tanaman juga tidak perlu disiram lagi karena air sudah menjadi media utama sehingga pasokan air selalu tersedia. Tapi kamu perlu melakukan pengontrolan kepekatan larutan secara berkala agar tidak terjadi pengendapan larutan nutrisi (pupuk cair) di dasar kolam/bak yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sama seperti metode aeroponik, bibit/benih tanaman harus lebih dulu disemai pada rockwool. Baru setelah muncul minimal dua helai daun baru dipindahkan ke styrofoam agar mengapung di atas air. Jenis tanaman yang cocok dibudidayakan dengan metode ini seperti selada, tomat, cabai, terong jepang, melon, dan timun jepang.

Buat yang suka buah, coba metode tabulampot

Tabulampot yang merupakan singkatan dari tanaman buah dalam pot adalah metode budidaya yang banyak diterapkan di lahan sempit. Jadi cocok banget buat kamu yang nggak punya pekarangan luas, terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Tabulampot membutuhkan paparan cahaya matahari yang cukup untuk bisa tumbuh subur. Kamu tinggal mencari spot yang sesuai agar tanaman tidak mudah mati.

Banyak juga jenis tanaman buah yang bisa kamu tanam dengan metode ini, salah satunya jenis tanaman semusim seperti semangka, melon, dan stroberi. Bisa juga jenis tanaman buah tahunan seperti mangga, kelengkeng, rambutan, apel, jeruk, buah naga, dan alpukat. Serta, jenis tanaman yang nggak bisa tumbuh dan berbuah maksimal dengan metode tabulampot contohnya durian. Kelebihan dari tabulampot adalah tanaman lebih cepat berbuah karena fase pertumbuhan vegetatifnya bisa lebih pendek dan merangsang fase pertumbuhan generatifnya. Namun kekurangannya, buah hasil dari budidaya tabulampot nggak selebat pada tanaman buah yang ditanam langsung di tanah.   

Itu dia keempat metode kekinian yang memang cocok diterapkan pada lahan yang terbatas. Jadi cocok banget buat kamu praktikkan ketika ingin bertani di rumah. Kalau sudah berhasil bertani di lahan sempit, kamu bisa coba merambah bisnis pertanian yang lebih serius dengan bertani di lahan yang lebih luas dan ikut bergabung dalam ekosistem CROWDE. Kenapa nggak? Tinggal daftar di sini!

0 comments on “Mudik Dilarang, Bertani di Rumah Pakai Metode Kekinian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *