Tren gaya hidup sehat sudah semakin disadari oleh kebanyakan orang perkotaan. Meski demikian, masih banyak sistem pertanian konvensional yang diterapkan oleh petani Indonesia. Yang biasa menggunakan pupuk anorganik serta pestisida. Padahal residunya dianggap berbahaya bagi tubuh manusia. Karena bila dikonsumsi terus-menerus akan menjadi racun bagi tubuh. Tapi apakah benar makanan organik lebih sehat dari yang non-organik? Ingin tau jawabannya? Yuk, simak ulasan berikut!

Residu pestisida yang dianggap berbahaya tidak ada di makanan organik

Yang menjadikan makanan organik lebih sehat adalah karena proses pembudidayaannya tidak menggunakan pestisida. Biasa petani menggunakan pestisida untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan serangga. Pada pembudidayaan tanaman organik, petani memilih menggunakan predator alami atau perangkap serangga untuk memberantas hama dan serangga. Selain itu, petani hanya menggunakan pupuk alami, seperti pupuk kandang atau pupuk kompos. Jadi tidak heran bila tanaman budidaya organik tidak bisa terlalu cerah warnanya dan ukurannya pun tidak terlalu besar.

Sedangkan makanan anorganik menggunakan pestisida yang terkadang jumlahnya terlampau banyak dari yang dianjurkan pemerintah. Itu yang berbahaya karena residunya bisa menjadi racun bagi tubuh. Namun, bila pestisida yang digunakan dalam batas wajar atau sesuai anjuran pemerintah – hal tersebut tidak menjadi masalah. Karena cukup dengan mencucinya pada air yang mengalir, kandungan pestisida sudah bisa hilang.    

Makanan organik juga tidak mengandung bahan pengawet

Makanan organik juga tidak memakai bahan pengawet. Jadi, petani lokal yang memproduksi bahan-bahan makanan organik harus bisa segera menyalurkan hasil produksinya kepada konsumen. Kalau tidak, bahan makanan organik tersebut akan cepat busuk. Ini yang kemudian membuat konsumen bisa mendapatkan bahan makanan dengan lebih fresh. Karena lebih fresh, rasanya pun jadi lebih enak.

Pada makanan organik yang telah dikemas pun, kemasan harus dipastikan kedap udara. Untuk menjaga keawetan makanan di dalamnya. Atau biasanya makanan tersebut dibekukan terlebih dulu supaya lebih awet.   

Lalu, apakah makanan anorganik tidak sehat?

Makanan organik baik dikonsumsi oleh bayi, ibu hamil dan menyusui. Tujuannya untuk mengurangi risiko anak terpapar pestisida. Namun menurut studi, kandungan gizi yang terkandung di antara makanan organik dengan anorganik adalah sama. Makanan organik bukan berarti lebih bergizi, hanya saja lebih sehat karena pembudidayaannya tidak menggunakan pestisida. Sehingga lebih aman bagi tubuh untuk jangka panjang. Meski begitu, pestisida juga tidak akan mempengaruhi atau mengurangi kandungan gizi pada makanan.   

Hanya saja sistem pertanian organik lebih ramah lingkungan dan bisa buat jangka panjang

Dengan tidak menggunakan pestisida dan pupuk anorganik, lahan pertanian jadi tidak mudah rusak. Lahan jadi tidak terkena polusi dari bahan sintetis. Serta tidak menghilangkan kandungan unsur hara pada tanah. Sehingga mampu menjaga kelestarian lahan pertanian.

Pestisida sebenarnya hanya membuat hama dan serangga tanaman jadi lebih kebal. Yang artinya, petani harus terus menambah dosis penggunaan pestisida setiap kali budidaya. Lama-kelamaan, lahan rusak karena kandungan alami pada tanah yang dibutuhkan untuk proses budidaya perlahan mati. Sehingga petani harus melakukan proses peremajaan pada lahannya agar bisa digunakan untuk kegiatan budidaya kembali.


Bahan makanan organik bisa dihasilkan melalui budidaya dengan metode hidroponik atau vertical garden. Metode ini sekaligus menjadi solusi akan keterbatasan lahan pertanian. Juga mengurangi biaya produksi untuk pembelian pestisida dan pupuk anorganik yang harganya memang lebih mahal. Plus harga jual jadi lebih tinggi, yang mana menguntungkan petaninya.

CROWDE mengajak kamu untuk memberi permodalan pada proyek ekosistem pertanian berkelanjutan. Mulai dari toko tani penyedia kebutuhan pertanian, lalu petani yang menjalankan proyek usaha tani, hingga offtaker yang menyalurkan hasil panen petani langsung ke konsumen. Manfaat dari ekosistem berkelanjutan adalah untuk membantu mempertahankan ketahanan pangan di Indonesia. Sekaligus memaksimalkan dana investasi milik investor. Yuk, bergotong-royong bersama untuk Indonesia!

 

Referensi:

Glori K. 19 Februari 2018. Kompas.com: https://bit.ly/2E3MIOT