News

Mendapat Legalitas OJK, CROWDE: “Kami Ada untuk Petani”

Legalitas OJK

CROWDE resmi memperoleh legalitas OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dengan status berizin dan diawasi OJK per tanggal 17 September 2021.

 

Setidaknya 29,76% dari masyarakat Indonesia sangat bergantung pada sektor agrikultur sebagai sumber penghidupan mereka. Tapi sayang, mereka masih kesulitan memperoleh modal usaha untuk memulai budidayanya. Modal awal yang dibutuhkan tentu tidak sedikit. Sebut saja, untuk budidaya cabai merah di lahan seluas 1 ha, paling tidak petani membutuhkan modal sekitar Rp60 juta. Dana sebesar ini yang terkadang tak dimiliki petani saat musim tanam. Mau pinjam ke lembaga perbankan, tapi tak punya agunan. Sistem cicilan per bulan juga menyulitkan petani. Akhirnya, akses mereka tertutup. Menurut Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK, Slamet Edi Purnomo juga menyebut bahwa realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sektor pertanian masih di bawah 7%.

Ini yang melandasi kemunculan CROWDE sebagai perusahaan financial technology (fintech) yang fokus pada sektor agrikultur. Kami ingin memberi akses permodalan ramah petani ke para pelaku di sektor tersebut dengan pemanfaatan teknologi agar usaha petani dapat berkembang dan tujuan inklusi keuangan dapat terwujud. Pencapaian visi-misi ini makin mudah terwujud setelah CROWDE secara resmi mendapat legalitas OJK (berizin dan diawasi OJK) melalui surat keputusan Nomor: KEP102/D.05/2021. CROWDE berkomitmen penuh untuk mendukung petani, memberi solusi atas permasalahan yang masih dihadapi petani, serta ikut mencapai ketahanan pangan di Indonesia.  

Memperoleh legalitas OJK ‘Berizin dan Diawasi’, membuat CROWDE ingin semakin terlibat untuk mendukung pertumbuhan inklusi keuangan dengan menyediakan akses permodalan ramah petani melalui ekosistem pertanian digital yang menghubungkan mitra petani dengan para pelaku lain di sektor agrikultur, dan menyiapkan lebih banyak lagi agripreneur yang dibutuhkan Indonesia”, ungkap Yohanes Sugihtononugroho, CEO & Co-Founder CROWDE.    

Bicara soal ekosistem pertanian digital, sebenarnya apa yang CROWDE lakukan? Ya, CROWDE menghubungkan proses budidaya dari hulu ke hilir dengan melibatkan berbagai stakeholder. Mulai dari institusi pemodal, toko penyedia kebutuhan budidaya pertanian (toko tani), sampai off-taker seperti pabrik industri pengolahan pangan, e-commerce, pasar modern, serta pasar ekspor. Sehingga mitra petani tinggal fokus menjalankan budidayanya untuk memaksimalkan hasil panen.

Dengan status legalitas OJK, CROWDE sudah bekerja sama dengan Bank BJB, Bank Supra, dan Bank Mandiri untuk menyalurkan dana KUR yang dimiliki lembaga perbankan tersebut kepada mitra petani. Selain itu, agar penyaluran modal berjalan dengan sistem cashless, kami bermitra dengan 41 toko tani yang akan menyalurkan permodalan ke mitra petani di daerahnya dalam bentuk saprotan (sarana produksi pertanian). Terakhir, kami juga bermitra dengan 158 off-taker (baik retail, maupun institusional) agar dapat memberi jaminan akses pasar bagi mitra petani.

Karena baru ada 4,5 juta petani dari total 33,4 juta petani Indonesia yang menggunakan internet selama satu tahun belakangan, CROWDE ingin mendigitalisasi mereka dengan mengenalkan berbagai teknologi. Seperti aplikasi AgScout yang dapat mempermudah proses monitoring dan pendampingan mitra petani oleh tim kami di lapangan (field agent). Teknologi ini dapat mempermudah mitra petani untuk mendapat rekomendasi yang sesuai seputar proses budidaya bila ada kendala. Juga hadir aplikasi AgSales yang dapat mempermudah petani untuk mengajukan permodalan di manapun mereka berada, sekaligus membekali mereka dengan literasi keuangan. 

Yohanes menambahkan, ke depannya produk permodalan ramah petani milik CROWDE juga akan memfokuskan pada usaha milik wanita tani, petani muda, hingga lini usaha tani lainnya demi perwujudan inklusi keuangan, digitalisasi petani, dan ketahanan pangan Indonesia.  

 

Baca juga: Moto Hidup “Never Give Up”, Bawa Dia Menuju Sukses