Belajar Bertani News

Laki-laki dan Perempuan, Memang Beda di Pertanian?

petani

Kita semua pasti setuju bahwa laki-laki dan perempuan seperti dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan, seperti adam dan hawa yang selalu bersama. Laki-laki dan perempuan diciptakan sama, hanya dibedakan dari jenis kelaminnya saja. Namun berangkat dari perbedaan jenis kelamin, membawa gap yang besar bernama stereotip. Stereotip lahir dari dinding yang diciptakan oleh masyarakat dan kemudian dilanggengkan oleh sekelompok orang dengan membedakan peran serta nilai dari perempuan dan laki-laki. 

Bukan hal yang mengejutkan bahwa seringkali perempuan dipersepsikan sebagai kaum yang lemah dan lebih banyak menggantungkan diri pada kaum laki-laki, sedangkan laki-laki dipersepsikan sebagai kelompok yang memiliki kekuatan dan kemandirian.  Merujuk pada Global Gender Gap Report 2020 yang diterbitkan oleh World Economic Forum, Indonesia menempati urutan 85 dari 153 negara yang masih memiliki gap di antara laki-laki dan perempuan. Indonesia mendapatkan nilai 0.7 dari 1.00 (tingkat keseimbangan). Nilai ini didapatkan dengan melihat beberapa indikator seperti partisipasi dan kesempatan ekonomi, pencapaian pendidikan, dan pemberdayaan politik.

Ketidakadilan Gender Berkutat di Pertanian

Siapa yang menyangka bahwa sektor pertanian masih kental dengan ketidakadilan gender? Ya benar sekali, laki-laki dan perempuan sama-sama dibutuhkan dalam kegiatan usaha tani. Selama kegiatan usaha tani, tidak jarang para pemilik lahan atau penggarap melibatkan pekerja atau buruh tani untuk mengerjakan lahannya hingga selesai. Pembagian kerja di pertanian terdiferensiasi berdasarkan seksual seseorang, misalnya saja perempuan melakukan kerja selama proses produksi yang meliputi penanaman, pemeliharaan, panen, pasca panen, pemasaran, baik yang bersifat manajerial tenaga buruh, pada komoditi tanaman pangan ataupun tanaman industri yang diekspor. Sedangkan laki-laki umumnya bekerja untuk kegiatan yang memerlukan kekuatan atau otot, seperti pengolahan lahan, pembasmian OPT, dan lainnya.

Umumnya, sistem kerja di pertanian terbagi menjadi dua yaitu dengan sistem harian maupun borongan, dimana pekerja harian akan mendapatkan upah per hari, sedangkan pekerja borongan akan mendapatkan upah bergantung pada jumlah hari bekerja, hasil panen yang didapatkan, maupun pembagian upah dari suatu kelompok. Menurut data BPS 2020, upah buruh tani telah meningkat 0,12 persen menjadi Rp55.318 untuk upah nominal dan Rp52.214 untuk upah nominal per April 2020. 

Gaji

Sumber: Berita Resmi Statistik 2020

Sayangnya pada pengimplementasiannya pengupahan masih memiliki gap yang cukup jauh di antara laki-laki dan perempuan. Seringkali pekerja tani laki-laki mendapatkan upah yang lebih besar dibandingkan upah perempuan karena dianggap lebih banyak mengeluarkan tenaga secara harfiah. Misalnya saja, dengan curahan jam kerja yang sama antara 6 hingga 8 jam per hari, upah pekerja tani perempuan rata-rata Rp40.000 per hari, lebih kecil jika dibandingkan dengan upah pekerja tani laki-laki yang rata-rata Rp55.000 per hari. Perbedaan upah ini memang bukan berlandaskan alasan bias gender saja, namun juga ada tambahan peran dan beban kerja lebih yang dipercayakan kepada buruh tani laki-laki.

Meminimalisir Ketidakadilan Gender Bagi Petani

Saat ini, kita perlu fokus menyelesaikan permasalahan ketidakadilan gender di pertanian, salah satunya gap pada upah pekerja yang harus diperkecil perbedaannya. Memperkecil gap yang ada dapat memenuhi hak pekerja perempuan di pertanian sehingga kebutuhan rumah tangga tani mampu terpenuhi. Pengurangan gap upah juga harus dilakukan mengingat banyaknya perempuan yang juga berperan sebagai kepala keluarga tani dengan beban kerja yang tentu tidak mudah.

Umumnya, perempuan dalam rumah tangga tani mengemban beban kerja ganda dimana mereka mengerjakan pekerjaan domestik dan publik. Namun seringkali, pekerjaannya di ranah publik tidak dianggap berat karena membantu suaminya bertani, padahal perempuan membantu suaminya dengan bertani dan pekerjaan tani lainnya sekaligus membersihkan rumah, mengantarkan makanan ke kebun, dan mengurus anak-anaknya. Maka dari itu, CROWDE berusaha untuk meminimalisir gap upah di sektor pertanian dengan menghitung Hari Orang Kerja (HOK) pada setiap proyek budidaya sehingga perbedaan upah yang diperoleh antara petani perempuan dan laki-laki tidak berbeda jauh.

Perjalanan untuk keadilan gender masih sangat panjang dan berliku, namun sangat pantas dilakukan agar pekerja tani perempuan mendapatkan haknya. Jadi bagian dari perjalanan panjang ini bersama CROWDE!

References:

World Economic Forum. 2020. Global Gender Gap Report 2020. Weforum.org: https://bit.ly/3m2s6ZO 

Dian Novita Susanto. 4 Desember 2019. Perempuan, Pertanian, dan Kekuatan Ekonomi Indonesia. Timurmedia.com: https://bit.ly/3keDwJp 

Badan Pusat Statistik. 15 Mei 2020. Perkembangan Upah Pekerja/Buruh April 2020. Bps.go.id: https://bit.ly/35c4ATw 

0 comments on “Laki-laki dan Perempuan, Memang Beda di Pertanian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *