News

Belajar dari Krisis Venezuela, Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menghindarinya?

Krisis ekonomi yang terjadi di Venezuela sudah ramai kita dengar sejak pertengahan tahun lalu. Bagaimana tidak, tingkat inflasi yang terjadi di Venezuela sejak Juli 2018 sudah mencapai 82.766%. Bahkan diperkirakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF), tingkat inflasi ini akan terus memburuk bahkan bisa mencapai 1 juta%.

Kemudian nilai mata uang Venezuela, yaitu Bolivar terjun bebas hingga per US$1 setara dengan 248.000 Bolivar. Dengan adanya fenomena luar biasa ini, tisu saja dijual dengan harga 2,6 juta Bolivar dan daging ayam dijual seharga 14,6 juta Bolivar. Akibatnya banyak penduduk Venezuela yang pergi ke luar negeri untuk bisa bertahan hidup. Krisis ekonomi yang terjadi memang lebih parah dari krisis ekonomi yang pernah dilanda Indonesia pada tahun 1998 lalu. Namun, jangan sampai Indonesia merasakan pil pahit itu lagi. Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari agar hal tersebut tidak terjadi. Berikut CROWDE punya ulasannya untuk kamu. Yuk, simak!  

Menjaga kestabilan nilai tukar rupiah

Nilai tukar rupiah cenderung tidak stabil dalam beberapa bulan belakangan. Ini bisa disebabkan karena terjadinya defisit pada neraca perdagangan Indonesia. Geliat kinerja perdagangan dalam negeri menurun. Mungkin karena peminat barang impor semakin melonjak dan mengesampingkan produk buatan asli Indonesia. Sehingga pertumbuhan ekonomi ikut terhambat. Bahkan pada kuartal II tahun 2018, defisit transaksi berjalan di Indonesia sudah mencapai 3,04% terhadap PDB. Impor membuat permintaan akan dolar Amerika Serikat meningkat, sehingga mendorong rupiah Indonesia semakin melemah. Termasuk juga tren traveling ke luar negeri yang semakin menjamur, yang ikut menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah.

Kalau tidak ingin krisis ekonomi Venezuela terjadi di Indonesia, kamu bisa mulai dengan mengutamakan untuk membeli produk asli buatan Indonesia saja. Jangan sedikit-sedikit impor. Terus, kamu juga harus lebih bangga dengan sektor pariwisata yang dimiliki Indonesia. Tanpa harus sering liburan ke luar negeri. Agar nilai tukar rupiah tidak terus anjlok.

Kurangi jumlah utang luar negeri

Nah, untuk yang satu ini, pemerintah tidak sepenuhnya salah. Pemerintah utang ke luar negeri juga untuk membangun Indonesia agar rakyatnya lebih sejahtera. Dapat menikmati fasilitas infrastruktur yang memadai. Tapi kenapa enggak investor domestik saja yang diberdayakan? Toh, hasilnya untuk mereka juga. Andai para “crazy rich” yang ada di Indonesia ini lebih memilih menginvestasikan uangnya ke pemerintah Indonesia, pemerintah bisa deh kurangi utang luar negerinya. Dari pada habis buat beli mobil sport, hasil impor luar negeri yang nilainya miliaran.

Jumlah utang luar negeri Indonesia pada kuartal I tahun 2018 sudah mencapai Rp 5.021 triliun. Terjadi kenaikan hingga 50% dari tahun 2014 yang nilainya hanya Rp 2.601 triliun. Coba kalau masyarakat Indonesia sendiri percaya dan tidak memilih untuk berinvestasi di luar negeri, pasti Indonesia akan jauh dari krisis ekonomi. Bahkan pemerintah telah berupaya menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate untuk menarik minat investor asing dan terutama investor dalam negeri. Dinaikkan sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Juni 2018 lalu.    

Nilai ekspor harus lebih ditingkatkan

Seperti yang telah disebutkan di atas, cobalah untuk tidak tergoda membeli barang impor. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus mengupayakan bagaimana caranya produk dalam negeri setara kualitasnya dengan produk impor. Dengan terus membeli produk dalam negeri, artinya kamu sudah ikut mendukung perkembangan UMKM yang ada di Indonesia. Agar mereka terus semangat menciptakan produk berkualitas ekspor. Dengan begitu, nilai ekspor dalam negeri bisa meroket.

Lagi-lagi pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Butuh kontribusi dari masyarakatnya juga. Sekarang coba bayangkan, bila pemerintah sudah terus berupaya meningkatkan nilai ekspor tapi masyarakatnya tetap saja memilih produk impor – tentu saja upaya pemerintah jadi sia-sia.

 

Oleh karenanya, agar peristiwa yang terjadi di Venezuela tidak menimpa Indonesia, penting untuk kita semua ikut berkontribusi. Dimulai dari sektor pertaniannya saja dulu, yang merupakan penyokong kebutuhan pangan seluruh masyarakat Indonesia. Pasti semua butuh makan kan? Nah, jika dari segi kebutuhan pangan Indonesia bisa sama sekali tidak impor, itu sudah cukup mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Lagi pula sekarang kamu sudah bisa langsung memberi kontribusi ke sektor pertanian melalui permodalan proyek budidaya petani. Semua bisa dilakukan dengan mudah lagi. Coba temukan semuanya di sini!

CROWDE sebagai startup fintech bidang pertanian, yang memberdayakan petani di seluruh Indonesia melalui teknologi dan permodalan. CROWDE punya proyek ekosistem berkelanjutan di bidang pertanian, peternakan, dan juga perikanan. Kamu sudah bisa menyalurkan permodalan ke toko tani, pelaku usaha tani, dan juga ke offtaker penyalur hasil pertanian untuk dijual langsung ke konsumen. Jadi bukan tidak mungkin kamu sebagai rakyat Indonesia bisa ikut juga berkontribusi mencegah krisis ekonomi terjadi. Toh, semua hasilnya nanti akan kembali ke kamu lagi!

 

Referensi:

Admin. 23 Agustus 2018. BBC Indonesia: https://bit.ly/2SJBBPh

Chandra Gian Asmara. 28 Agustus 2018. CNBC Indonesia: https://bit.ly/2LW23Tm

0 comments on “Belajar dari Krisis Venezuela, Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menghindarinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *