Siapa yang tidak suka hasil laut yang satu ini? Ya, rajungan merupakan sumber makanan yang memiliki habitat alami di laut. Rasanya yang lezat mengikuti harga jualnya yang tinggi. Tapi jangan salah, kandungan nutrisi di dalamnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Kandungan protein yang terkandung di dalamnya tergolong yang paling tinggi di antara teman-teman sejenisnya. Namun, tetap rendah lemak. Dagingnya juga lebih gurih serta daging di dalamnya lebih mudah diambil karena cangkangnya lunak. Tidak berhenti sampai di situ, komoditas ini memiliki pesona lain yang bisa Teman CROWDE ketahui melalui ulasannya berikut, yuk simak!

Rajungan layak menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia

Pada tahun 2017, nilai ekspor rajungan mencapai US$ 308 juta dan diprediksi tahun 2018 akan meningkat menjadi US$ 400 juta. Angka tersebut menempatkan komoditas ini pada posisi ke-3 komoditas ekpor terbesar Indonesia setelah tuna dan udang. Negara tujuan utama rajungan adalah Amerika Serikat. Terbukti bahwa 50% rajungan yang ada di AS berasal dari Indonesia.

Dengan adanya fakta tersebut menunjukkan kalau kualitas rajungan Indonesia telah diakui secara Internasional. Tahun 2017 lalu, ekspor rajungan ke AS secara keseluruhan sukses lolos seleksi oleh United States Food and Drugs Administration (USFDA) padahal mereka sangat ketat untuk soal kualitas. Oleh karenanya, peluang ekspor yang sangat besar ini harus dimanfaatkan dengan proses tangkap yang tetap memperhatikan kelestarian pertumbuhannya.  

Keberlanjutan hasil produksi rajungan serta harga jual di dalam negeri

Rajungan yang memiliki habitat hidup di air payau bisa dijaga keberlanjutan pertumbuhannya melalui pemeliharaan mangrove di sepanjang pesisir pantai Indonesia. Hal ini dikarenakan mereka membutuhkan mangrove sebagai tempat mereka kawin dan membesarkan telur.

Pemerintah juga tengah mengupayakan membuat tutupan mangrove yang nantinya bisa menjadi tempat budidaya komoditas ini yang sifatnya mendorong hingga ke tingkat rajungan siap matang dan bertelur. Sehingga hasil produksinya dapat lebih terjaga. Lagipula mereka tergolong komoditas yang cepat bereproduksi asal mereka yang sedang bertelur tidak ikut ditangkap.  

Harga komoditas ini di pasaran bisa mencapai Rp 75.000 – Rp 90.000/kg. Dalam 1 kg rajungan berisi rata-rata 12 ekor. Biasanya nelayan akan melaut sejauh 25 mil dari bibir laut dan pulang membawa 20 – 25 kg komoditas ini di musim penghujan.

Kenapa harus memilih rajungan untuk mendapat keuntungan?

Telah disebutkan sebelumnya kalau harga jual komoditas ini tergolong tinggi dan memiliki peluang besar untuk ekspor benar-benar nyata menggerakkan perekonomian nelayan. Apalagi sebagian besar rajungan ditangkap oleh nelayan kecil dengan ukuran kapal <10 GT. Oleh karenanya, penting untuk memberi dukungan kepada nelayan agar mereka dapat meningkatkan hasil tangkapannya dan ikut menjaga kelestarian produksi rajungan.

Ayo, Teman CROWDE juga bisa turut dukung hasil produksi komoditas ini agar tetap berlimpah di negeri kita. Caranya mudah, hanya dengan kunjungi CROWDE dan lihat apa yang bisa Teman CROWDE berikan untuk nelayan rajungan Indonesia ya!