Setelah pada artikel sebelumnya di [(Mampu Cegah Virus Corona, Kenali Bisnis Pertanian Jahe dalam Pot)] telah dijelaskan tentang manfaat hingga peluang memiliki bisnis pertanian jahe, berikut ini adalah beberapa tips untuk Anda memulai bisnis pertanian jahe dengan teknik hortikultura atau di dalam pot.

1. Melakukan riset bisnis pertanian terlebih dulu
Jika Anda adalah pemula dalam dunia bisnis pertanian, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mempelajari lebih lanjut mengenai dunia bisnis pertanian. Dunia bisnis tidak selalu terpaku terhadap untung dan rugi, sebagai pemula tentu saja Anda akan menghadapi yang namanya “trial and error”, dan itu bukan lah sebuah hal yang baru bagi dunia bisnis, apalagi dalam bisnis pertanian. Namun yang paling penting adalah Anda harus terus belajar dan melakukan riset mendalam tentang bisnis pertanian atau tentang pertanian itu sendiri yang sudah bisa Anda temukan secara online.

2. Pahami cara membudidayakannya
Seperti yang tertera pada judul di atas, tidak jauh berbeda dari menanam jahe di lahan terbuka, berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk menanam jahe dalam pot atau polybag:

a. Siapkan Bibit Jahe
Tidak begitu berbeda jauh dengan menanam di lahan terbuka, ketika Anda ingin melakukan budidaya jahe di lahan tertutup seperti pada pot, hal pertama yang tentu harus Anda lakukan adalah menyiapkan bibit jahe yang sudah dirasa paling unggul. Lalu Anda dapat merendam bibit tersebut ke dalam larutan fungsingida dalam kurun waktu 15 menit, setelah itu Anda dapat menyemai bibit tersebut sebelum dapat dipakai ketika kering.

b. Siapkan Media Tanam
Jika pada lahan terbuka Anda akan sangat rumit untuk menyiapkan media tanamnya, menggunakan pot atau polybag justru akan lebih mudah karena memiliki media yang lebih kecil dan kompatibel untuk ditaruh didalam rumah. Siapkanlah media tanam Anda dengan mencampurkan pupuk organik, pasir halus dan tanah subur dengan komposisi 2:2:2 sebelum Anda menanam bibit jahe Anda.

c. Tanam
Setelah dua tahapan diatas sudah Anda kerjakan, Anda dapat memulai untuk menanam bibit jahe Anda pada media tanam Anda. Tidak ada teknik khusus dalam penanaman ini, tanamlah bibit jahe Anda secara biasa dan setelahnya Anda dapat menyiramnya dengan air lalu lakukanlah perawatan secara berkala.

3. Rencanakan strategi kedepan
Apalah arti sebuah aktivitas atau bisnis tanpa adanya perencanaan. Ini menjadi langkah kedua yang harus Anda lakukan ketika memulai sesuatu, tidak terkecuali jika Anda ingin melakukan sebuah bisnis pertanian. Rencanakanlah strategi finansial Anda dan juga lahan pertanian yang ingin Anda pakai. Lahan yang digunakan tidak harus besar, bisa dimulai dari yang kecil dulu, bahkan hanya di dalam pot. Jika membicarakan soal bisnis pertanian jahe, apalagi di saat sekarang ini yang mengharuskan Anda untuk di rumah saja, Anda tidak perlu khawatir akan hal itu. Anda dapat menyusun strategi berbisnis pertanian di rumah dengan teknik hortikultura atau bahkan hanya sekedar berinvestasi pada fintech pertanian.

4. Cari modal usaha pertanian di tempat yang terpercaya
Selain melakukan 2 hal di atas, hal selanjutnya yang harus Anda lakukan adalah mencari pemodal yang dapat bekerja sama dengan Anda. Di era yang serba modern ini, mencari modal usaha untuk bisnis pertanian Anda cukup sulit karena Anda harus benar-benar memilih jasa penyedia layanan modal usaha atau fintech pertanian yang terpercaya. Untuk hal ini Anda bisa mempercayakannya pada CROWDE sebagai penyedia layanan permodalan usaha pertanian yang juga mudah untuk Anda akses.

CROWDE adalah sebuah platform untuk menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani. Dengan metode crowd-lending, CROWDE bergerak sebagai platform permodalan yang mengelola dana masyarakat untuk disalurkan pada proyek usaha petani. Dengan cara ini, memungkinkan siapapun untuk memberikan modal dan memilih proyek permodalan mana yang ingin dimodali. CROWDE sendiri hadir dari kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. Kami melihat begitu banyak petani di Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini diakibatkan oleh sistem pengelolaan hasil tani yang harus melalui tengkulak untuk
dapat dijual di pasaran. Selain itu, banyak petani Indonesia yang tidak memiliki modal usaha dan lahan untuk bekerja, sehingga mereka sulit berkembang dan jadi kurang sejahtera. Ditambah banyak petani yang tidak mendapat bimbingan untuk menjalankan usaha pertaniannya. Untuk itulah, CROWDE hadir dengan tujuan untuk memberdayakan petani di Indonesia melalui permodalan dan ekosistem pertanian berkelanjutan.