Komoditas

Restoran Jepang Mulai Menjamur, Pesona Edamame Makin Dilirik

edamame

Edamame yang dikenal sebagai kedelai Jepang memiliki perbedaan dengan kedelai biasa. Warnanya hijau terang serta ukurannya yang lebih besar, lebih nikmat disantap setelah direbus atau dikukus. Tidak perlu proses panjang untuk bisa menikmati komoditas ini. Biasanya, di restoran Jepang edamame dijadikan sebagai hidangan pembuka. Kandungan protein yang tinggi bahkan bisa disetarakan dengan telur atau daging, menjadikannya primadona di kalangan vegetarian. Tidak hanya sampai di situ saja, pesona edamame lainnya bisa Teman CROWDE simak di bawah ini. Berikut ulasannya:

Mengenal komoditas edamame yang sebenarnya

Di negara asalnya, Jepang, edamame sudah menjadi komoditas penting. Kalau kamu mengunjungi restoran Jepang, pasti kamu bisa dengan mudah menemui komoditas ini. Edamame sendiri merupakan kacang kedelai yang dipanen saat masih mudah dan hijau. Sehingga dinilai lebih kaya akan kandungan mineral daripada yang sudah matang.  

Tanaman edamame paling banyak dibudidayakan di wilayah Jember, Bogor, dan Bandung. Pemeliharaannya pun tergolong tidak begitu sulit. Cukup dirawat dengan penyiraman secara teratur dan penggunaan tanah subur sebagai media tanam. Tanaman edamame mulai dapat dipanen setelah masa tanam 60 – 65 hari.

Permintaan pasar dalam dan luar negeri

Peluang pasar dalam dan luar negeri memang masih terbuka lebar. Kebutuhan dunia akan komoditas ini mencapai 100.000 ton/tahun. Namun Indonesia untuk wilayah Jawa Timur saja baru bisa mengekspor 7.650 ton/tahun. Kendala untuk produk ekspor terletak pada keharusan untuk menyediakan tempat penyimpanan (cold storage) yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Sedangkan untuk pasar dalam negeri, hasil produksi yang dijual biasanya dalam kondisi segar.

Negara tujuan utama ekspor edamame adalah Jepang. Harga komoditas ini dalam bentuk beku di pasar dunia berada di kisaran US$ 1,86 – US$ 2/kg. Sedangkan untuk pasar lokal, harga edamame segar berkisar Rp 10.000 – Rp 17.000/kg. Konsumsi komoditas ini terbesar di tanah air berasal dari restoran-restoran yang menyajikan menu makanan Jepang karena edamame termasuk salah satu bahan bakunya.

Proyek bisnis yang menjanjikan

Dari segi keuntungan, komoditas ini dinilai lebih menjanjikan dibanding kedelai biasa. Biaya produksi yang dihabiskan rata-rata mencapai Rp 35 juta/hektar. Sedangkan per hektarnya dapat menghasilkan 8 ton edamame per 1 kali panen. Jika hasil panen dijual dengan harga terendah yaitu Rp 10.000/kg, keuntungan bersih yang bisa diperoleh mencapai Rp 45 juta/hektar. Bukankah ini nilai yang menggiurkan?

Jika Teman CROWDE tertarik menanam modal untuk petani edamame di Indonesia caranya mudah sekali. Tinggal download aplikasi CROWDE melalui Google PlayStore dan pantau jalannya proyek semudah menjentikkan jari.

0 comments on “Restoran Jepang Mulai Menjamur, Pesona Edamame Makin Dilirik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *