Komoditas

Cabai Merah, Komoditas Pertanian yang Selalu Jadi Raja

cabai merah

Siapa yang tidak suka dengan cabai merah? Apalagi buat penduduk Indonesia, komoditas yang satu ini sudah menjadi barang wajib sehari-hari. Meskipun penggunaannya hanya sedikit, sudah cukup memberi rasa khas Indonesia. Dilansir dari Kontan.co.id pada November 2017 lalu, data Kementan (Kementerian Pertanian) menyebutkan kebutuhan nasional akan cabai merah mencapai 92.000 ton dan petani Indonesia berhasil surplus dengan menghasilkan 106.000 ton cabai merah. Dengan demikian Indonesia sukses menjadi swasembada cabai merah dan bahkan berpeluang untuk melakukan ekspor ke luar negeri. Besarnya pangsa pasar dan permintaan yang tidak akan pernah menurun memberi jaminan keuntungan dari komoditas yang satu ini. Teman CROWDE ingin tahu informasi lain tentang komoditas cabai merah? Yuk simak ulasannya berikut:  

Pesona Cabai Merah Tak Terelakkan

Budidaya cabai merah memang susah-susah gampang. Kunci utamanya terletak pada pemilihan serta penggunaan bibit cabainya sendiri. Sebab apabila menggunakan bibit yang berkualitas rendah, resiko terserang hama penyakit menjadi lebih tinggi. Ditambah saat musim penghujan biasanya petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pestisida. Pasalnya setiap selesai diguyur hujan, dua jam setelahnya tanaman cabai merah harus segera disemprot pestisida. Kegiatan ini dilakukan berulang jika hujan kembali turun.

Namun, pemerintah tetap melakukan upaya untuk mempertahankan swasembada cabai merah ini. Dilansir dari Kompas.com, Ditjen Holtikultura telah membentuk petani champion di sejumlah daerah sebagai sentra produksi baru, menambah luas areal tanam, serta mengupayakan alat dan mesin pertanian baru. Dukungan inilah yang kemudian dapat membantu petani Indonesia memaksimalkan produksinya.

Harga Jual Yang Dijamin Pemerintah

Dengan berhasilnya Indonesia menjadi swasembada cabai merah membuat harganya menjadi lebih stabil. Ditambah upaya pemerintah membuat Toko Tani Indonesia (TTI) yang dikutip dari Detik.com hingga Oktober 2017 sudah terdapat 2.839 di 32 provinsi. Munculnya TTI adalah untuk memotong mata rantai penjualan hasil pertanian kepada konsumen. Sehingga petani mendapat akses langsung menjualkan hasil taninya kepada konsumen melalui TTI.

Harga jual cabai merah di TTI memang lebih murah dibandingkan pasar tradisional meskipun perbedaannya tidak signifikan. Misal data yang didapat dari Pasar Induk Kramat Jati harga cabai merah adalah Rp 19.000/kg sedangkan di TTI terdapat selisih harga Rp 1.000 menjadi Rp 18.000/kg. Hal ini tentu bertujuan untuk memperkuat pasar dengan memberikan pilihan lain kepada para konsumen.

Mulai Modali Sekarang, Yuk!

Untuk skema hasil yang didapat dari budidaya komoditas ini seperti yang tertera pada situs Farming.id jika lahan seluas 500m2 dengan populasi 1000 tanaman maka produktivitas yang ditaksir adalah 1000kg/m2. Sedangkan jika dikonversi ke ha maka hasilnya menjadi 20 ton/ha. Bukankah sekarang sudah semakin nyata keuntungannya bagi Teman CROWDE?

Kenapa tidak mulai modali para petani cabai merah sekarang untuk keberhasilan yang akan datang. Hanya dengan minimal Rp 10.000 Teman CROWDE sudah bisa ikut bantu petani Indonesia mempertahankan swasembadanya di tanah air sendiri. Lakukan dengan mulai men-download aplikasi CROWDE di Google PlayStore sekarang.

0 comments on “Cabai Merah, Komoditas Pertanian yang Selalu Jadi Raja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *