Belajar Bertani

Keren! Berikut Kisah Para Petani yang Berhasil Go International

Go International

Siapa bilang cuma artis atau penyanyi aja yang bisa go international? Petani juga bisa, lho! Jangan salah dengan profesi ini karena justru mereka yang buat kita tetap bisa makan. Itu mengapa, penghargaan sebagai bentuk apresiasi juga tidak lupa diberikan kepada mereka yang berprestasi, bahkan sukses memasarkan hasil produksinya di pasar internasional. Mau tahu siapa saja mereka? Berikut CROWDE punya ulasannya untuk kamu. Simak, yuk!  

Petani kentang asal Magelang

Dialah Agus Wibowo, petani kentang asal Magelang yang sukses dan berhasil go international mewakili Indonesia pada ajang Global Student Entrepreneur Awards di China. Agus yang juga merupakan petani milenial membudidayakan komoditas kentang granola secara turun-temurun. Namun, orang tuanya dulu masih bertani secara konvensional dan sering mengalami kendala terkait bibit yang harus mengambil dari luar daerah dengan kualitas yang tidak sesuai. Berangkat dari situ, Agus menginisiasi untuk memproduksi bibit kentang secara mandiri dengan kualitas yang baik. Untuk menghasilkan bibit berkualitas, dia berusaha mengembangkan sistem pertanian modern dengan menerapkan konsep green house. Bahkan bibit hasil produksinya bisa diturunkan hingga 3 – 4 kali tanam, yang tentu dapat menghemat biaya produksi petani hingga 40% – 50%. Selain itu, Agus juga menerapkan smart irigasi yang memanfaatkan teknologi seperti smartphone untuk mengendalikan proses produksi. Sehingga dia tak perlu selalu berada di tempat untuk bisa menyirami tanamannya. 

Untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan, Agus juga melakukan rotasi tanaman pada lahan pertaniannya dengan menanam komoditas sayur seperti kubis, tomat, hingga brokoli, dengan tujuan untuk menetralisir kondisi tanah supaya tanah tidak mengandung terlalu banyak bahan kimia. Ditambah pemberdayaan masyarakat sekitar, mulai dari ibu rumah tangga hingga pemuda yang berpartisipasi dari awal budidaya sampai pasca panen. Komoditas kentang produksinya sudah dipasarkan hingga keluar pulau Jawa dan menargetkan pasar internasional.    

Petani pisang asal Yogyakarta

Sering juga dipanggil sebagai Profesor Pisang, Mbah Lasiyo adalah seorang petani pisang asal Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dia sukses menangkarkan bibit pisang bernilai ekonomis di halaman rumahnya. Paling tidak ada ratusan bibit varietas pisang dari berbagai daerah, mulai dari pisang raja bagus, raja bulu dan kepok kuning, pisang ambon kuning, pisang susu, dan masih banyak lagi. Dia menggunakan pupuk organik hingga pestisida organik yang dihasilkannya dari tanaman rimpang seperti temulawak, lengkuas, temuireng, daun dlingo agar tanaman pisang miliknya dapat tumbuh subur. Jadi, beliau tidak menggunakan bahan kimia saat berbudidaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Berkat dedikasinya pada proses produksi pertanian organik yang mampu menghasilkan produk pangan organik yang sehat dan berkualitas, mengantarkan beliau hingga ke Italia pada tahun 2016 untuk menghadiri undangan dari organisasi komunitas pangan agar Mbah Lasiyo bisa membagikan ilmunya pada khalayak internasional.

Petani buncis asal Bandung

Petani muda asal Desa Suntenjaya, Bandung Barat bernama Ulus Pirmawan memilih membudidayakan komoditas baby buncis karena memiliki nilai jual tinggi dan peluang pasar internasional yang cukup luas. Hingga kini, baby buncis hasil produksinya sudah mampu menembus pasar internasional dengan ekspor ke Singapura. Bahkan, baby buncis kualitas super sudah diekspor hingga ke negara-negara lain di Asia. Bisnis pertaniannya semakin maju karena setiap hari dia mampu memenuhi kebutuhan buncis kualitas super untuk pasar dalam dan luar negeri. Saat masa panen, omzet yang bisa diperolehnya mencapai Rp400 juta per bulan. Ditambah program geratieks (gerakan tiga kali ekspor) yang dicanangkan pemerintah telah mampu melucutkan bisnisnya untuk terus berkembang. Melalui program tersebut, para pengusaha tani seperti Ulus semakin mudah mengurus perizinan ekspor sehingga dapat mendorong produksi dalam negeri dan meningkatkan nilai ekspor.     

Petani buah asal Bali

Adalagi Komunitas Petani Muda Keren (PMK) yang diketuai oleh Agung Weda yang berusaha membuat usaha pertaniannya go international dengan menggenjot nilai ekspor hasil tani. Menggunakan aplikasi ‘Farmer App’, Agung juga mengembangkan marketplace berbasis aplikasi yang dikelola oleh para petani milenial di bawah naungan Bali Organik Subak (BOS) miliknya. BOS sendiri sudah mengekspor manggis dari tahun 2018, dan di Bali menjadi yang terbesar secara volume. Bahkan, tahun lalu nilai ekspornya hampir menyentuh Rp100 miliar dengan volume ekspor mencapai 850 ton. Selain manggis, ada juga komoditas lain yang diekspor oleh mereka, yaitu sawo, alpukat, rambutan, dan mangga. Negara tujuan ekspor adalah Singapura, dan tahun ini mereka sudah mengekspor 300 ton mangga ke Vietnam serta menyusul 1.500 ton mangga lagi. Selain itu, ada juga rambutan yang telah diekspor ke Timur Tengah hingga alpukat yang diekspor ke Kamboja. BOS merupakan perusahaan yang dikelola anak muda berbasis IT dan sudah benar-benar memahami kondisi pasar, sehingga mereka bisa menyiapkan produk yang sesuai dengan keinginan pasar.  

Tuh kan, dengan menyimak kisah-kisah petani di atas saja, kita bisa menarik kesimpulan kalau pertanian kini sudah mulai bergeser menjadi lebih inovatif serta modern. Bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan karena ternyata memang menghasilkan. Apalagi bisa membawa kamu go international dengan beragam inovasi yang berhasil diciptakan. Apa kamu mau menjadi yang berikutnya? Jika memang sudah memiliki keinginan, segera saja wujudkan, nggak perlu menunggu lagi. Atau, bisa gabung bersama kami di sini!    

     

0 comments on “Keren! Berikut Kisah Para Petani yang Berhasil Go International

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *