Inspiratif

Hari Kemerdekaan: Para Petani Sudah Merdeka?

Hari Merdeka, Nusa dan Bangsa

Hari Lahirnya Bangsa Indonesia..

Merdeka!

Sekali Merdeka tetap Merdeka! Selama Hayat masih Dikandung Badan!

Potongan lagu berjudul Hari Merdeka ini tentu saja akrab di telinga kita. Bersama lagu-lagu bernuansa kemerdekaan lainnya, susul-menyusul menggelorakan semangat kemerdekaan, juga mengingatkan kita kembali jika tanah air ini direbut oleh para pahlawan lewat keringat dan darah.

Dan disitu, ada banyak campur tangan. Termasuk para petani di Indonesia. Yang kalau di lihat, usia negeri ini tidak ada apa-apanya dibanding usia pertanian di Indonesia. Eksistensi petani di Indonesia sudah lebih dahulu diakui sebelum republik ini.

Dalam banyak teks dan naskah bersejarah, tertulis jika petani Indonesia memiliki peran besar saat masa-masa sebelum kemerdekaan dahulu. Bahkan setelahnya. Petani adalah salah satu penopang utama jaminan kemerdekaan RI.

Mulai dari menyediakan tempat persembunyian, pasokan logistik, adalah satu dari sekian banyak sikap heroik yang ditunjukkan para petani. Namun, pertanyaannya, di tengah euforia kemerdekaan RI yang sudah kita nikmati selama puluhan tahun, sudahkah Petani di Indonesia benar-benar merasakan merdeka?

Sebanyak 31,8% penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Logikanya, jika semua penduduk merasakan dan merayakan kemerdekaan, harusnya petani pun menjadi salah satunya. Tapi pertanyaannya kembali diulang. Apakah para petani di Indonesia bisa dikatakan merdeka?

Tolak Ukur Kemerdekaan Petani Indonesia

Bukankah seharusnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa yang harus dirasakan oleh seluruh penduduknya? Lalu bila berbicara soal pejuang pangan tanah air, boleh ditelusuri lagi, apakah mereka juga telah merasakan kemerdekaan yang sudah berjalan selama 73 tahun ini?

Mayoritas petani kita berada di pedesaan. Data menyebutkan di tahun 2016, tingkat kemiskinan di pedesaan semakin menurun. Dari 17,67 juta jiwa menjadi 17,28 juta jiwa. Ini prestasi pemerintah yang perlu diapresiasi. Namun, saat ini bukan lagi hanya pertolongan pemerintah yang dibutuhkan sektor pertanian Indonesia, namun bantuan dari semua pihak yang mengaku bertumpah darah satu.

Indikator kesejahteraan petani tidak cukup hanya diukur dari Nilai Tukar Petani (NTP) ataupun Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP). Pertimbangannya juga perlu dilihat dari biaya produksi yang dikeluarkan petani. Jika semakin sedikit, jelas petani jadi lebih untung. Ditambah lagi akses permodalan bunga ringan yang juga akan sangat berpengaruh pada keuntungan petani.

Hasil yang petani peroleh dari usaha taninya tidak habis digunakan untuk membayar bunga atau habis untuk membiayai besarnya biaya produksi selanjutnya. Sehingga hasil tersebut sempat dirasakan dan digunakan untuk kebutuhan hidup petani tersebut.

Kebijakan impor juga dapat membuat nasib petani semakin terpuruk. Petani harus didukung dan diberi kesempatan untuk berperan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Karena bila terjadi kesenjangan ekonomi, petani-lah yang paling merasakan akibatnya. Padahal mereka berjuang terus untuk menjaga ketersediaan pangan di Indonesia.

Ternyata yang menjadi penting, tolak ukur kesejahteraan petani Indonesia menjadi acuan kemerdekaan seluruh masyarakatnya. Bagaimana tidak? Masyarakat Indonesia yang didominasi berprofesi sebagai petani kalau tidak sejahtera, berarti menjadi gambaran atas kondisi yang sebenarnya. Makanya jangan hanya semata-mata menyalahkan petaninya kalau penerusnya terus berkurang.

Lantas Bagaimana Bisa Merdeka jika Terus Dijauhi?

Bertani, meskipun jumlah peminatnya terus menurun, namun masih menjadi profesi dengan pelaku yang terbanyak di Indonesia. Namun bukan berarti bertani adalah salah satu profesi yang diincar oleh para pekerja di Indonesia.

Menyerap banyak tenaga kerja terbanyak, andil terhadap PDB terbesar kedua, namun mereka yang akhirnya menjadi petani memilih pekerjaan ini dengan terpaksa. Sektor pertanian justru minim peminat dari lulusan perguruan tinggi–yang didominasi oleh kalangan anak muda. Padahal, justru di sektor ini lah tingkat pendidikan itu penting, untuk mendukung pertumbuhan dan juga inovasi pertanian di Indonesia.

Dalam laporan Sakernas tahun 2016, kebanyakan sumber daya manusia yang mengisi sektor pertanian adalah pekerja dari lulusan SD sebanyak 39,4%, kemudian tidak taman SD 30%, lulusan SMP 16,6%, lulusan SMA/SMK 12,8%, sisanya perguruan tinggi (D1, D2, D3, dan Universitas) sebanyak 1,3%.

Temuan dari The Smeru Research Institute pada ringkasan riset berjudul Hidup di Tengah Gejolak Harga Pangan (2012 – 2015) memaparkan temuan tentang persepsi bertani di mata anak muda, hingga mereka tidak lagi meminati.

Bagi anak-anak muda, bekerja di sektor pertanian bukanlah pilihan utama. Sektor ini dianggap lemah daya saing, jika pun ada yang tertarik, bisa dipastikan karena tidak memiliki pilihan lainnya.

Dan dari riset tersebut, saran yang diberikan untuk memikat anak-anak muda bekerja di sektor pertanian adalah diperlukannya sejumlah usaha dan upaya keras dalam mengikuti perkembangan zaman, yaitu:

“…penggunaan teknologi modern, keragaman bidang pertanian, ketersediaan lahan pertanian, kemudahan mengakses input pertanian, dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan ilmu pertanian yang didapatkan dari penyuluh dan sekolah pertanian….”

Oleh karenanya, butuh anak muda yang tidak apatis terhadap sektor pertanian. Hanya anak muda yang tahu betul bagaimana caranya mengikuti perkembangan zaman. Nah, kenapa tidak untuk menciptakan inovasi yang berguna bagi pertanian Indonesia. Biar teman-teman di sebelahmu juga ikut tertarik bertani.

Tidak lagi kamu harus pintar mencangkul atau menyiangi padi. Kamu bisa membuat sistem pertanian hidroponik yang tidak lagi bergantung pada media tanah, misalnya. Atau mencari akal bagaimana caranya membuat sistem pertanian terintegrasi dengan peternakan milik tetanggamu. Jadi, limbah ternak bisa digunakan sebagai pupuk, sebaliknya limbah tani bisa buat pakan ternak. Tentu butuh diolah lebih dulu menggunakan teknologi pertanian modern. Nah, kalau yang ini pasti anak muda lebih ahli kan?    

Apalah Arti Merdeka Jika Semua Kebutuhan Produksi, Petani Masih Bergantung dengan Pihak Lain?

Kita pasti tahu jika negara mengeluarkan kebijakan yang menyerahkan semua harga komoditas pangan, kecuali beras, pada mekanisme pasar, yang akhirnya membuat petani kian sulit dan makin terjepit. Bukan hanya itu, petani juga tidak bisa apa-apa saat menghadapi tengkulak di musim panen raya. Belum lagi jeratan rentenir dan perangkat pengijon. Tidak ditambah hal teknis lainnya, ini saja sudah membuat para petani di Indonesia jauh-jauh dari kata merdeka.

Kita tahu juga jika ketergantungan petani terhadap pestisida dan aneka bibit unggul yang dikuasai, atau malah dimonopoli oleh perusahaan multinasional juga ternyata masih tinggi. Benar ada bantuan pupuk dan bibit, namun itu semua belum mampu memerdekakan petani dari ketergantungan input luar.

Bahkan untuk mandiri saja, petani di Indonesia masih belum bisa merdeka.

Petani di Indonesia butuh Kemerdekaan. Petani di Indonesia butuh Perhatian Kita. Petani di Indonesia butuh Kamu. Mari Tanamkan Keberanianmu!

Tidak. CROWDE bukan ingin memberikan informasi negatif yang berhubungan dengan kemerdekaan dan nasib para petani di Indonesia saat ini. Yang tadi kamu sudah baca di atas adalah beberapa fakta yang perlu kamu tahu tentang pertanian di Indonesia, yang dahulu begitu akrab dengan hari kemerdekaan. Yang akhirnya, hubungan mesra pertanian Indonesia dengan masa kemerdekaan tidak membantu menutupi fakta bahwa ternyata saat ini, pertanian bukan lagi sebuah profesi yang orang dambakan.

Mengutip semangat kemerdekaan para pejuang, keadaan ini jangan membuat kita, sebagai orang luar, menyerah. Kita mungkin bukan pelaku, namun kita menikmati hasilnya.

Mereka adalah kita, sama-sama orang Indonesia.

Mereka butuh kita, agar bisa sedikit bernafas sedikit lebih lega di tengah segala masalah produksi dan distribusi yang kian hari kian berat.

Mereka butuh kita, agar berani untuk berpartisipasi mengangkat kembali derajat para petani di Indonesia.

Mereka, para petani di Indonesia, butuh kita untuk bangkit dan melakukan sesuatu, sekecil apapun, karena bantuan kita, berarti bagi mereka. Bukankah kita juga butuh mereka? Lalu, apa lagi yang menghalangimu?

Mari Tanamkan Keberanianmu untuk membantu para petani di Indonesia. Caranya? Mulai dari yang paling mudah dulu, yaitu dengan membantu proyek pertanian mereka. Modali petani agar mereka tahu bahwa mereka, para petani Indonesia, masih bisa berproduksi dan berkarya hingga hari ini dan seterusnya.

Mulai sekarang, kita bisa tanamkan keberanian untuk sama-sama mulai berinvestasi di sektor pertanian bersama CROWDE. Agar para petani tahu, bahwa mereka bisa merasakanan kemerdekaan. Dan Indonesia bisa tetap merdeka dengan ketersediaan pangan yang berlimpah.

0 comments on “Hari Kemerdekaan: Para Petani Sudah Merdeka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *