Belajar Bertani Event

Hari Gizi Nasional: Apakah Gizi Keluarga Petani Terjamin?

Hari Gizi Nasional

Memperingati Hari Gizi Nasional yang jatuh di bulan Januari, kali ini CROWDE ingin menyorot dari perspektif petani. Kalau menurut kamu, apakah gizi keluarga petani terjamin mengingat mereka adalah penghasil utama bahan pangan? Ya, logikanya memang benar. Ibarat kalau perut terasa lapar, tinggal lari ke ladang untuk mengambil bahan pangan dan diolah sendiri, beres. Hanya saja, petani yang berbudidaya tanaman sayuran dan palawija, tetap harus berjibaku mencari pemasukan agar keluarganya tetap bisa makan telur, daging, dan bisa minum susu untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Sejak kecil kita sudah dikenalkan dengan prinsip 4 sehat 5 sempurna, kan? Yang mana terdiri dari makanan pokok, sayuran, lauk-pauk, buah-buahan, dan juga susu. Nah, jadi kalau nasi dan sayuran saja yang bisa terpenuhi, itu nggak cukup! 

CROWDE coba mewawancarai mitra petani di Kabandungan, Sukabumi untuk mengetahui bagaimana kenyataannya di lapangan. Yuk, simak ulasan di bawah!      

Cara keluarga petani penuhi pangan sehari-hari

Kenalan dulu, yuk, dengan Pak Dadan dan Pak Odim, mitra petani yang ikut berpartisipasi dalam wawancara kali ini. Diakui Pak Dadan ketika aktivitas bertani mampu dikerjakan sendiri, biaya produksi jadi lebih murah karena dikurangi oleh biaya HOK (Hari Orang Kerja). Sisa biaya itulah yang kemudian dimanfaatkan Pak Dadan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Ditambah nantinya, keuntungan hasil panen yang dijual bisa menjadi milik Pak Dadan seutuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sedangkan Pak Odim, harus pintar-pintar menyimpan uang setiap kali dia memperoleh keuntungan dari hasil panen. Diakuinya, antara waktu panen yang satu dengan yang berikutnya cukup berjarak – membuat dia harus menggunakan uang dengan lebih bijak untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Supaya bisa tetap mencukupi hingga waktu panen berikutnya tiba.      

Hasil panen dijual semua atau dikonsumsi

Baik Pak Dadan dan Pak Odim tidak hanya berbudidaya satu komoditas seperti cabai merah, namun beliau juga membudidayakan kacang panjang, buncis, sawi, dan terong yang hasilnya sebagian besar mereka jual dan hanya mengambil beberapa sesuai kebutuhan saja. Dengan mengambil dari hasil panen, membuat mereka tidak harus membelinya lagi di pasar, tinggal fokus membeli apa yang tidak bisa mereka produksi sendiri, seperti telur atau daging.  

Hari gizi nasional, konsumsi makanan bergizi penting nggak?

Ternyata, kedua mitra petani CROWDE ini sepakat bahwa mengkonsumsi makanan bergizi sangatlah penting. Terutama karena mereka memiliki anak-anak yang masih berada di masa pertumbuhan sehingga harus memperhatikan kebutuhan gizi anak-anaknya.   

Upaya memenuhi kebutuhan gizi keluarga 

Pak Dadan punya strategi untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya dengan mengurangi jatah jajan anak. Ketimbang anaknya mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat, lebih baik disiasati dengan mengurangi jajan di luar dan lebih sering makan di rumah. Dia mengatur paling tidak ada lauk-pauk berupa telur, daging, dan susu sekali-kali. Sedangkan Pak Odim yang nggak kalah perhatian pada kebutuhan gizi anggota keluarganya akan berusaha semaksimal mungkin agar keluarganya selalu bisa mengkonsumsi makanan bergizi. Jika tidak dari pemasukan hasil pertanian, hasil dari bisnisnya sedikit-sedikit akan diusahakan supaya kebutuhan gizi keluarganya tetap bisa terpenuhi.

Tuh, para petani aja peduli akan gizi, meski mereka harus berjuang agar anggota keluarganya bisa memperoleh gizi seimbang setiap hari. Jangan sampai petani sebagai pejuang pangan hanya peduli dengan kebutuhan gizi masyarakatnya, tapi tidak dengan keluarganya. Biar keluarga petani lebih sejahtera, hasil panen mereka harus lebih dimaksimalkan. Nah, untuk urusan itu serahin aja ke CROWDE. Mitra petani akan memperoleh dukungan yang sesuai kebutuhannya. Ayo, kamu yang belum gabung, langsung ke sini!

Baca juga: Ingin Tahu? Ini Harga Bahan Pangan di Berbagai Negara ASEAN

 

0 comments on “Hari Gizi Nasional: Apakah Gizi Keluarga Petani Terjamin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *