Walaupun Indonesia disebut sebagai negara agraris, bukan berarti sektor pertaniannya tidak memiliki sejumlah tantangan. Luas lahan yang berkurang, regenerasi petani muda yang kian berkurang, hingga sulitnya solusi akses permodalan bisa menjadi penghambat pertumbuhan sektor pertanian dalam negeri. Bicara soal sulitnya solusi akses permodalan, tentu ada masalah yang mendasarinya. Apa saja, ya, kira-kira? Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang mendasari kesulitan petani mendapat solusi akses permodalan di Indonesia.

  • Subsidi pertanian yang kurang terealisasikan

Subsidi yang ditujukan untuk para petani di Indonesia belum tersalurkan secara maksimal sehingga pemanfaatannya pun kurang memadai. Padahal subsidi pertanian yang berupa bantuan pupuk, bibit, dan alat pertanian sangat bermanfaat bagi para petani dalam menjalankan budidaya. Ditambah dengan sulitnya para petani dalam mengklaim dana KUR yang juga menjadi salah satu hambatan bagi sektor pertanian nasional.

  • Peran tengkulak sulit dihindari

Umumnya produk yang dihasilkan dari pertanian tidak langsung diantar kepada para konsumen, disinilah tengkulak memiliki peran pada dunia pertanian. Biasanya para petani menjual hasil panennya kepada para tengkulak dengan harga rendah karena jalur distribusi untuk sampai ke konsumen masih juga panjang. Tidak sedikit pula dari tengkulak yang tersebar di luar sana juga melakukan kecurangan. Terbatasnya modal pertanian mengakibatkan para petani harus meminjam modal usaha kepada para tengkulak dengan bunga yang tinggi sehingga sulit bagi para petani untuk mendapat keuntungan maksimal dan meningkatkan taraf hidup mereka.

  • Mustahil menggapai lembaga keuangan

Beberapa lembaga keuangan seperti perbankan tidak mudah mengucurkan dana kepada para petani yang ingin mengajukan modal untuk menjalan bisnis pertanian mereka. Ini dikarenakan para petani kurang mendapat trust dari sektor perbankan. Usaha pertanian yang memiliki risiko tinggi membuat sektor perbankan jadi lebih selektif. Ditambah dengan keribetan administrasi yang menjadi syarat dari lembaga keuangan membuat para petani semakin enggan dan mengurungkan niat mereka untuk mengajukan permodalan usaha pertanian.

Tentu hal ini cukup disayangkan mengingat peluang usaha dari bisnis pertanian sangat besar dan tidak akan pernah surut karena manusia selalu butuh makan yang bersumber dari hasil pertanian. Meskipun begitu, seiring berkembangnya teknologi, saat ini mulai muncul sebuah wadah atau platform untuk membantu pemberdayaan petani di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi dalam sebuah layanan fintech pertanian. Fintech pertanian bisa menjadi solusi kemudahan akses permodalan bagi petani di Indonesia.

Fintech pertanian sendiri cukup populer saat ini dan menjadi platform investasi P2P Lending. Tujuan didirikannya fintech pertanian sendiri tentu saja untuk memberikan modal usaha pertanian dalam upaya pemberdayaan para petani. Cara kerjanya pun lebih mudah karena lender dapat melakukan kegiatan permodalan melalui platform fintech pertanian dengan memilih proyek permodalan secara mandiri. Permodalan pada platform P2P Lending akan disalurkan ke petani sebagai modal usaha pertanian mereka. Para petani juga bisa mengaksesnya dengan lebih mudah secara online dan proses pengajuannya juga lebih sederhana.

Salah satu contoh layanan fintech yang bergerak di bidang pertanian ini adalah CROWDE. Sebagai sebuah fintech pertanian, CROWDE hadir untuk menjadi solusi bagi pemberdayaan petani di Indonesia. Jadi, bagi Anda yang tertarik ingin ikut membantu memberdayakan petani, Anda bisa menyalurkan permodalan melalui CROWDE sebagai layanan fintech pertanian di Indonesia. Untuk informasi lebih lengkapnya Anda dapat mengunjungi laman resmi mereka diĀ  https://crowde.co/.