Sektor pertanian dalam negeri masih juga menjumpai sejumlah tantangan yang sudah sering kita bahas, yaitu keterbatasan akses permodalan. Setiap proyek budidaya yang dilakukan oleh petani membutuhkan modal yang cukup besar. Sebut saja untuk menanam bawang merah di 1 ha lahan membutuhkan biaya produksi sekitar Rp70 juta – Rp80 juta. Oleh karena itu, petani harus memutar otak untuk mendapat pinjaman modal usaha agar budidaya mereka tetap berjalan. Sedangkan, para petani masih sering kesulitan mengakses permodalan dari bank. Karena untuk bisa memperoleh pinjaman modal usaha dari bank harus ada agunan, padahal petani tidak memiliki agunan. Selain itu, proses pengembalian modal ke bank harus dicicil setiap bulan, yang mana petani baru bisa mendapat pemasukan setelah berhasil panen yang jangka waktunya bisa lebih dari sebulan. Sehingga para petani di Indonesia membutuhkan solusi dari tantangan yang masih mereka hadapi hingga saat ini. 

 

Yaitu, hadirlah perusahaan financial technology (fintech) yang membantu para petani mendapat akses permodalan. Fintech tidak mengharuskan petani memiliki agunan ketika mengajukan pinjaman modal usaha. Lalu, proses pengembalian pinjaman modal bisa dilakukan di akhir proyek budidaya petani atau setelah petani panen dan memperoleh keuntungan.

 

Penyaluran modal usaha ke petani juga dilakukan secara bertahap sesuai dengan laporan pengeluaran dan pengajuan RAB. Kalau di CROWDE, untuk menekan risiko gagal bayar, skema penyaluran modal usaha ke petani dilakukan melalui kerjasama dengan toko pertanian setempat untuk memenuhi seluruh kebutuhan budidaya petani yang telah diajukan sejak awal. Serta bekerjasama dengan Jasindo Syariah sebagai pihak asuransi yang menjamin proyek budidaya petani. Sistem bagi hasil juga diterapkan agar kedua belah pihak (petani dan lender) mendapat keuntungan yang setara. Tidak ketinggalan, CROWDE juga bekerjasama dengan para off-taker dan sektor industri yang menjamin penyerapan hasil panen petani dapat dilakukan secara maksimal. Dengan begitu, proses pengembalian modal dari petani dapat berjalan dengan lancar.

 

Saat ini, sudah ada 22.000 petani yang bermitra dengan CROWDE dan permodalan sebesar Rp113 miliar pun berhasil disalurkan. Hal tersebut dapat terwujud tentu tidak lepas berkat dukungan 31.831 lenders yang telah bergabung bersama CROWDE sejak awal berdirinya. 

 

Ternyata kehadiran fintech juga membawa angin segar bagi perekonomian nasional. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan INDEF mencatat berdasarkan data OJK, nilai pinjaman fintech per Juni 2019 telah mencapai Rp44,8 triliun, meningkat 97,6% dalam satu tahun terakhir. Sementara, jumlah transaksi borrower menembus 9,7 juta akun di periode yang sama. Penyaluran dana fintech dan investasi menyumbang output nasional sebesar Rp60 triliun atau naik 130% di tahun 2019. Penambahan pendapatan buruh tani juga terjadi, yaitu naik 1,29%, dan pendapatan pengusaha di bidang pertanian naik sebesar 1,34%.

Nyatanya kehadiran fintech mampu membantu para petani lokal menghadapi tantangan yang ada.  Secara otomatis juga akan menunjang pertumbuhan sektor pertanian dalam negeri. Karena bagaimanapun, penduduk Indonesia masih sangat bergantung pada sektor pertaniannya untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Jika kamu tertarik juga berpartisipasi meringankan permasalahan petani dan memajukan sektor pertanian di Indonesia, jangan ragu untuk ikut bergabung bersama CROWDE. Kalau bisa dilakukan secara bergotong-royong, pasti bebannya jadi lebih ringan.