Belajar Bertani Permodalan

Fintech Ilegal Menjamur, Ini Dia Cara CROWDE Kelola Dana Permodalan

Fintech Ilegal

Fintech ilegal sudah menjadi buah bibir masyarakat. Apakah ada orang di sekitarmu yang pernah menjadi korban? Ya, janji manis mereka ditambah kondisi mendesak yang sering bikin hilang akal, membuat masyarakat mudah sekali terjerat tanpa memikirkan dampak buruknya. Sebenarnya, fintech ilegal sangat mudah untuk dideteksi. Nah, bagaimana caranya? 

Pertama, perusahaan tersebut tidak memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kedua, tidak terdaftar sebagai anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Ketiga, memberikan bunga dan denda yang terlalu besar atau bahkan terlalu kecil, serta tidak transparan. Seperti yang kita ketahui, kalau OJK punya standar nilai bunga yang harus dipatuhi oleh para pelaku fintech, yaitu 16% – 30% per tahun untuk pinjaman produktif dan maksimal 0,8% per hari untuk pinjaman konsumtif/pribadi (payday loan). Keempat, perusahaan tersebut tidak mengikuti tata cara penagihan yang beretika. Pasti sudah pada tahu, kan, kalau ada yang suka menagih dengan cara-cara kasar, cenderung mengancam, tidak manusiawi, dan bertentangan dengan hukum. Nah, perusahaan yang melakukan hal seperti ini sudah jelas masuk dalam kategori fintech ilegal. 

CROWDE merupakan perusahaan fintech legal yang sudah terdaftar di OJK dan AFPI. Beroperasi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sesuai hukum dan tidak merugikan masyarakat. Lalu, bagaimana cara CROWDE mengelola dana permodalan milik lender? Ini dia ulasan khususnya untuk kamu. Simak, yuk!

Meminimalisir risiko dengan penyaluran modal secara cashless 

Bekerja sama dengan toko pertanian setempat yang akan menyediakan berbagai kebutuhan budi daya petani. Hingga kini, CROWDE telah bermitra dengan 3.215 toko tani yang berada dekat dengan lokasi proyek usaha tani. Mulai dari kebutuhan pupuk, pestisida, bibit, hingga alsintan yang dibutuhkan petani. Selain itu, kami juga bermitra dengan LSM dan pemerintah agar dapat mendukung petani di daerah pedesaan di seluruh Indonesia.  

Nggak ngoyo kayak fintech ilegal, balikin modal bisa pakai hasil panen

Tidak menggunakan cara-cara yang kasar apalagi mengancam, CROWDE memberlakukan sistem pengembalian modal menggunakan hasil panen. Mengapa? Tujuannya agar tidak memberatkan petani dengan sistem pembayaran cicilan setiap bulan karena budi daya petani punya jangka waktu yang berbeda-beda. Sebagai contoh, bila mitra petani punya proyek budi daya jangka waktu 3 bulan, dengan begitu petani boleh mengembalikan pinjaman modalnya setelah 3 bulan atau setelah petani mendapatkan hasil panen. 

Nantinya hasil panen tersebut akan disalurkan ke mitra off-taker kami, baik pembeli eceran maupun sektor industri seperti Japfa, Indofood, hingga Lotte Mart. Ini dilakukan agar mitra petani mendapat akses pasar yang memadai sehingga hasil panen dapat terserap maksimal dan meningkatkan keuntungan mereka. 

Menerapkan alur pengajuan pinjaman yang sistematis

Ketika calon mitra petani setuju untuk melakukan pengajuan permodalan, mereka akan diminta menyerahkan KTP, Kartu Keluarga (KK), Surat Nikah, dan mengisi form RAB yang telah disediakan oleh CROWDE sesuai nilai per item yang telah disepakati bersama. Setelah semuanya sesuai, maka Farmer Consultant (FC) kami akan melakukan peninjauan lahan pertanian yang akan digunakan untuk budi daya petani. Setelah itu, hasil survei yang diperoleh akan diserahkan kepada tim risk untuk dianalisis lebih lanjut. Kelayakan kondisi lahan, pengalaman petani, hingga kualitas panen yang dihasilkan petani juga menjadi bahan pertimbangan bagi kami. Apabila lolos, akan dilanjutkan dengan proses penandatanganan kontrak kepada mitra petani. 

Saran dari penulis, di masa sekarang ini kita perlu lebih berhati-hati dan tetap menggunakan akal sehat sekalipun sedang berada dalam kondisi kepepet. Namun, jika kamu atau ada orang di sekitarmu yang sudah terlanjur berurusan atau terjerat dengan layanan fintech ilegal, kamu disarankan untuk segera melaporkannya ke OJK dan pihak berwajib dengan mengikuti langkah-langkah berikut: 

  1. Mengumpulkan bukti teror, ancaman, intimidasi, pelecehan, atau tindakan tidak menyenangkan lainnya. 
  2. Melaporkan bukti-bukti tersebut dengan mendatangi kantor polisi terdekat untuk membuat laporan.
  3. Bisa juga dengan mengirimkan pengaduan tersebut ke situs resmi OJK di https://konsumen.ojk.go.id/formpengaduan atau menghubungi layanan konsumen Kontak OJK 157.

Mending pilih yang pasti-pasti aja, kan? Lagi pula kalau niatnya ingin ikut dukung, pasti tidak akan ada yang dirugikan. Seperti CROWDE, yang ingin mendukung usaha petani agar bisa berkembang dan mereka bisa hidup lebih sejahtera dengan menciptakan sistem permodalan yang ramah petani. Kalau masih nggak percaya, coba buktikan dengan bergabung di sini!

Baca juga: Fintech Pertanian, Solusi Akses Permodalan Bagi Petani Indonesia

Referensi: 

PressRelease.id. 7 Januari 2021. Investree: Cara Menghindari dan Melaporkan Kerugian Karena Fintech Ilegal. Pressrelease.kontan.co.id: http://bit.ly/36ubMvR 

 

0 comments on “Fintech Ilegal Menjamur, Ini Dia Cara CROWDE Kelola Dana Permodalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *