Uncategorized

Budidaya Jagung: Mengenal Fase Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif

Vegetatif

Budidaya jagung tidak membutuhkan perawatan yang rumit, bahkan pemula di bidang pertanian pun banyak yang berhasil membudidayakannya. Tanaman jagung bisa dibudidayakan pada lahan kering atau lahan sawah dengan rata-rata pH tanah 5 – 7. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman ini adalah sekitar 85 – 200 mm per bulan. Pertumbuhan dari tanaman jagung melalui fase vegetatif dan generatif sekaligus secara berurutan yang dikelompokkan ke dalam 3 tahap. Nah, apa saja tahapannya? Yuk, kita bahas satu per satu di bawah ini!

Dimulai dari fase perkecambahan (VE)

Pada fase ini tanaman jagung memulai proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan  umur 14 HST atau bahkan lebih. Ini wajib diperhatikan sebab tanaman yang terlambat tumbuh akan ternaungi dan gulma akan bersaing dengan tanaman. Akibatnya, tanaman tumbuh dengan tidak normal dan tongkolnya jadi relatif lebih kecil.

Lalu, berlanjut ke fase pertumbuhan vegetatif 

Merupakan fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai keluarnya bunga jantan (tasseling) dan sebelum keluarnya bunga betina (silking). Fase ini dapat diidentifikasi dari jumlah daun yang terbentuk, sebagai berikut:

  • Fase V3 – V5 (jumlah daun yang terbuka 3 – 5)

Fase ini terjadi saat tanaman jagung berumur 10 – 18 hari setelah berkecambah. Atau, dengan kata lain, 15 – 23 HST ketika kondisi normal dan 16 – 32 HST saat kondisi kering atau dingin. 

  • Fase  V6 – V10 (jumlah daun terbuka sempurna 6 – 10)

Fase ini terjadi saat tanaman jagung berumur antara 18 – 35 hari setelah berkecambah.

  • Fase V11 – Vn (jumlah daun terbuka sempurna 11 sampai daun terakhir 15 – 18)

Fase ini terjadi ketika tanaman berumur antara 33 – 50 hari setelah berkecambah. Pada fase ini, kekeringan dan kekurangan hara akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tongkol. Kekeringan pada fase ini juga akan memperlambat munculnya bunga betina.

  • Fase tasseling/VT (keluarnya bunga jantan)

Terjadi pada kisaran 45 – 52 hari yang ditandai oleh adanya cabang terakhir dari bunga jantan sebelum kemunculan bunga betina (rambut tongkol). Tahap VT akan dimulai pada 2 – 3 hari sebelum rambut tongkol muncul, dimana pada periode ini tinggi tanaman jagung hampir mencapai tinggi maksimumnya dan mulai menyebarkan serbuk sari. 

Dan diakhiri oleh fase reproduktif

Adalah fase pertumbuhan setelah keluarnya rambut tongkol/bunga betina (silking) sampai masak fisiologis. Terdiri dari beberapa fase, yaitu:

  • Fase R1 (silking)

Tahap ini diawali oleh munculnya rambut dari dalam tongkol yang terbungkus kelobot, biasanya dimulai pada 2 – 3 hari setelah fase tasseling.

  • Fase R2 (blister)

Fase R2 terjadi sekitar 10 – 14 hari setelah fase silking, dimana rambut tongkol menjadi kering dan berwarna gelap. Ukuran tongkol, kelobot, dan janggel hampir sempurna, biji sudah mulai nampak dan berwarna putih melepuh, pati mulai diakumulasi ke endosperm, kadar air pada biji sekitar 85%, dan akan terus menurun sampai panen.

  • Fase R3 (masak susu)

Fase ini terjadi sekitar 18  – 22 hari setelah fase silking. Pengisian biji pada awalnya berbentuk cairan bening, lalu berubah seperti susu. Bila terjadi kekeringan pada fase R1 – R3 akan berdampak pada penurunan ukuran dan jumlah biji yang terbentuk di tongkol jagung. Kadar air pada biji dapat mencapai 80%.

  • Fase R4 (dough)

Fase R4 mulai terjadi pada 24 – 28 hari setelah fase silking. Bagian dalam biji berbentuk seperti pasta (belum mengeras). Separuh dari akumulasi bahan kering yang terdapat pada biji sudah terbentuk, dan kadar air biji menurun menjadi sekitar 70%. Terjadinya kekeringan pada fase ini akan berdampak pada bobot biji.

  • Fase R5 (pengerasan biji)

Fase R5 akan terbentuk pada 35 – 42 hari setelah fase silking. Seluruh biji sudah terbentuk sempurna, embrio sudah masak, akumulasi bahan kering pada biji akan segera terhenti, dan kadar air pada biji sudah turun menjadi 55%.

  • Fase R6 (masak fisiologis)

Tanaman jagung akan memasuki tahap masak fisiologis pada 55 – 65 hari setelah fase silking. Biji-biji pada tongkol telah mencapai bobot kering maksimum. Lapisan pati yang keras pada biji juga telah berkembang dengan sempurna dan telah terbentuk pula lapisan absisi berwarna coklat atau kehitaman. Kemudian, pembentukan lapisan hitam (black layer) berlangsung secara bertahap, dimulai dari biji pada bagian pangkal tongkol menuju ke bagian ujung tongkol.

Supaya proses pertumbuhan jagung dapat sesuai, penting juga untuk menggunakan benih varietas unggul yang sudah bersertifikat. Varietas benih yang kamu gunakan sebaiknya disesuaikan juga dengan lokasi budidaya. Misal, untuk lokasi budidaya di dataran rendah kamu bisa menggunakan varietas BISI 18 atau NK 6172 dan varietas Pioneer P21 Dahsyat untuk daerah marginal yang kurang subur. Selain itu, gunakan varietas benih yang memiliki ketahanan terhadap penyakit dan memiliki daya kecambah di atas 90%

Nah, sebelum mulai bertani, penting banget, kan, untuk mencari informasi seputar budidaya pertanian biar prosesnya bisa berjalan lancar. Nggak usah bingung harus mencarinya kemana karena kamu bisa memperoleh informasi lainnya di sini! Atau, buat yang nggak mau ribet, gabung aja di CROWDE biar kamu bisa dapat pendampingan selama proses budidaya untuk menghindari gagal panen. Mau? Langsung daftar di sini

0 comments on “Budidaya Jagung: Mengenal Fase Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *