Setelah hampir tiga bulan berjalan pandemi ini berhasil mempengaruhi kehidupan manusia dan dalam waktu sekejap membuat perekonomian nasional ambruk. Lalu, bagaimana kabar sektor pertanian Indonesia di masa pandemi ini? Yuk, kita telusuri bersama CROWDE yang punya ulasan seputar 6 fakta pertanian selama pandemi Covid-19 berlangsung. Simak di bawah ini, ya!

Adanya ancaman kelangkaan pangan

Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyebut akan ada ancaman kelangkaan pangan di masa pandemi. Oleh karena itu, Indonesia telah berupaya untuk terus mengontrol ketersediaan pangan/bahan pokok hingga ke daerah-daerah. Presiden Jokowi juga telah memerintahkan jajarannya untuk meninjau kesiapan ketahanan pangan mulai dari produksi hingga tahap distribusi. Kondisi pandemi mengakibatkan keterbatasan mengakses makanan ditambah adanya larangan perpindahan penduduk secara masif yang membuat munculnya risiko kelangkaan pangan.  

Tingkat kesejahteraan petani menurun

Petani sebagai produsen bahan pangan tidak berarti kehidupannya menjadi aman di tengah pandemi. Justru kesejahteraan petani ikut terancam karena terjadi penurunan harga komoditas pangan hingga ke level terendah di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Anjloknya harga komoditas pertanian sangat merugikan petani yang berakibat pada ketidakmampuan mereka membeli bibit dan memperbaharui tanaman. Sebagai contoh, harga cabai merah keriting di berbagai pasar di Yogyakarta pada awal Februari 2020 mencapai Rp70.000/kg, namun pada April 2020 harganya turun drastis menjadi Rp17.000/kg, sementara di tingkat petani harga jualnya lebih kecil, yaitu hanya Rp7.000/kg. Padahal, masyarakat tetap membeli dengan harga normal bahkan cenderung meningkat di berbagai pasar swalayan. Apalagi petani kecil yang tidak memiliki akses pasar yang luas sehingga hasil produksi mereka hanya dijual seadanya di pasar lokal dengan harga murah. Padahal, harga kebutuhan lain yang tidak mereka produksi terus meningkat dan berdampak pada bertambahnya kerentanan hidup petani. 

Kunci utama kesuksesan adalah kesehatan petani

Di tengah pandemi seperti sekarang ternyata agar sektor pertanian tetap bertahan dan menjadi pemenang apabila kondisi kesehatan petani tetap terjaga dan jauh dari paparan virus corona. Selain itu, kesejahteraan petani harus terjamin agar dapat menjalankan budidaya pertanian dengan maksimal untuk menyuplai kebutuhan pangan masyarakat Indonesia selama pandemi berlangsung. Orientasi pertanian tidak lagi berada pada sekedar ketahanan pangan, namun harus sudah menuju ke kemandirian dan kedaulatan pangan. 

Permintaan kebutuhan pangan meningkat

Sektor pertanian seharusnya bisa menjadi pengaman dalam menghadapi virus corona. Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar untuk memaksimalkan produksi pertanian apalagi masyarakat sangat membutuhkan panganan yang sehat saat ini. Jangan sampai aktivitas pertanian terhenti karena produk impor yang masuk ke Indonesia sudah berkurang, dan sekarang sumber pangan benar-benar bergantung pada hasil produksi dalam negeri. Jadi, masyarakat akan lebih banyak mengkonsumsi produk lokal yang tentu lebih aman. Justru ini waktu yang tepat untuk memperkenalkan kembali produk lokal yang nggak kalah baik dengan produk impor.  

Indonesia tetap bisa ekspor komoditas pertanian

Pada bulan April lalu Indonesia berhasil mengekspor 12.192 ton komoditas pertanian asal Sulawesi Utara ke 11 negara, yaitu Belanda, Vietnam, Cina, Italia, Jerman, Mesir, bahkan ke Amerika Serikat. Komoditas pertanian yang diekspor antara lain berupa rempah pala biji, bunga pala, serabut kelapa, minyak sawit, dan kelapa parut. Dari ekspor tersebut Indonesia berhasil menambah keuangan negara hingga Rp124,7 miliar. Itu berarti meski di tengah pandemi, sektor pertanian Indonesia tetap bisa menghasilkan dan produksinya tidak berhenti karena bahan pangan akan tetap menjadi kebutuhan utama manusia apapun kondisinya.

Urban farming menghasilkan pemasukan tambahan

Karena tingginya permintaan bahan pangan lokal, itu mengapa bertanam bahan pangan bisa menjadi solusi untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Apalagi bagi pekerja yang terkena dampak PHK, menjalankan budidaya pertanian bisa menjadi sumber pemasukan baru bagi mereka. Seperti budidaya sayuran yang tidak membutuhkan lahan yang luas bahkan bisa dilakukan di pekarangan rumah sehingga ideal untuk kawasan perkotaan sesuai konsep urban farming (pertanian perkotaan). Bahkan dengan urban farming bertanam sayuran kemudian bisa dikombinasikan dengan berternak ikan lele dan nila agar pemasukan jadi lebih besar.

 

Itu tadi keenam fakta pertanian yang terjadi selama pandemi Covid-19. Semoga sektor pertanian dapat tetap bertahan meski di tengah pandemi dan musibah ini dapat segera berlalu. Untuk kamu yang ingin dapat terus termotivasi menjalankan pertanian selama pandemi bisa ikut bergabung dengan CROWDE sekarang di sini!