Permodalan

Ekosistem P2P Lending, Siapa Saja yang Ikut Terlibat?

Peer-to-Peer (P2P) Lending hadir sebagai sarana bagi pribadi atau sebuah usaha untuk dapat memperoleh pinjaman. Tidak berhenti sampai di situ, P2P Lending juga hadir sebagai pilihan instrumen investasi baru. Yang akan memberi kemudahan kepada siapa pun untuk melakukan investasi. Peminjam dan investor akan dipertemukan secara online dalam sebuah platform yang akan memfasilitasi keduanya. Peminjam akan diseleksi berdasarkan credit scoring, sedangkan investor akan dikelola dana investasinya hingga dana tersebut kembali beserta profit investasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa P2P Lending memang memiliki ekosistemnya sendiri. Yuk, kita bahas satu per satu. Siapa saja pihak yang terlibat di dalam ekosistem P2P Lending? Simak di ulasan berikut!

OJK sebagai regulator

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berperan sebagai pembatas dan pembimbing bagi sektor jasa keuangan di Indonesia. Era digitalisasi yang sudah merambah ke sektor keuangan harus mendapat pengawasan yang lebih detail demi keamanan. Karenanya, semua perusahaan fintech yang menjalankan layanan P2P Lending harus sudah terdaftar agar dapat ikut diawasi oleh OJK. Dengan begitu, dapat berjalan dengan lebih aman dan tidak menimbulkan peluang kecurangan. Dengan adanya OJK sebagai regulator, membuat konsumen punya tempat untuk mengadu bila sampai terjadi hal yang merugikan mereka.   

Industri jasa keuangan menjadi sebuah industri yang riskan akan risiko. Karenanya, OJK telah mengeluarkan sebuah regulasi dalam POJK No.1/POJK.07/2013. Regulasi ini mengatur para pelaku usaha jasa keuangan harus memiliki layanan pengaduan (unit layanan konsumen) dan dibatasi penyelesaian per pengaduan tidak boleh lebih dari 20 hari kerja. Dilanjutkan pada tahun 2016, keluar lagi regulasi nomor 77/POJK.01/2016 yang isinya mengatur tentang tata cara pendaftaran dan pengajuan izin bagi perusahaan fintech lending. Juga membatasi penyaluran pinjaman modal usaha hingga maksimal Rp 2 miliar.   

Asosiasi sebagai wadah penyaluran pikiran & gagasan

Para pelaku fintech adalah mereka yang bergerak di sektor jasa keuangan dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menjalankan usahanya. Mereka tergabung dalam sebuah asosiasi yang bernama Asosiasi Fintech Indonesia. Asosiasi fintech memiliki visi untuk menjadi mitra terpercaya dalam mewujudkan ekosistem fintech Indonesia. Sehingga, perusahaan fintech dan masyarakat bisa saling bekerja sama dan saling merasa aman untuk terlibat langsung dalam aktivitas bisnis ini.

Asosiasi Fintech Indonesia akan melakukan berbagai riset agar dapat memaksimalkan teknologi untuk mewujudkan keuangan inklusif di Indonesia. Hasil riset kemudian akan digunakan untuk merumuskan kebijakan yang dapat mendorong industri fintech lending semakin maju di Indonesia. Asosiasi Fintech Indonesia membangun komunitas dan mengadakan berbagai kegiatan yang sifatnya mengedukasi agar masyarakat dapat lebih mengenal layanan keuangan berbasis teknologi. Asosiasi ini juga menghubungkan antar lembaga fintech nasional dan internasional. Dengan begitu, industri fintech dapat memiliki komunitas berskala global yang bisa menjadi wadah untuk pertukaran ide, berbagi informasi, demi praktik yang lebih baik lagi.         

Borrower adalah sebagai peminjam

P2P Lending merupakan sarana yang memudahkan usaha kecil dan menengah mendapat akses permodalan. Memfasilitasi banyaknya pelaku UMKM yang masih sulit mengakses permodalan di institusi perbankan. Karena itu, P2P Lending hadir menawarkan sebuah solusi agar usaha mereka bisa terus berkembang. Dan, mampu membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak lagi. P2P Lending menawarkan pengajuan pinjaman bagi peminjam dengan persyaratan mudah. Seperti, proses pengajuan yang dilakukan secara online, tanpa agunan, cepat, serta tidak berbelit.    

Investor adalah pemberi pinjaman/pemodal

Pemodal adalah seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Siapa saja bisa menjadi pemodal. Bahkan, P2P Lending sudah menjadi sebuah instrumen investasi baru yang juga dapat memudahkan investor melakukan diversifikasi. Pemodal akan memilih sendiri proyek permodalan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Pemodal dapat memilihnya berdasarkan tinggi rendahnya risiko, jenis proyek yang dijalankan, jangka waktu, serta besarnya profit yang ditawarkan. Atau bisa juga dari profil si pemilik usaha yang menjalankan proyek permodalan.

 

Di CROWDE, layanan P2P Lending memfokuskan pada permodalan usaha agrikultur di Indonesia. Dimana pertanian adalah sektor yang masih sedikit mendapat saluran modal dari institusi perbankan. Itu mengapa, sektor ini perlu mendapat perhatian lebih, tidak hanya dari pemerintah, namun juga dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Bila kamu tertarik menjadi bagian dalam sebuah ekosistem P2P Lending di Indonesia, jangan ragu untuk gabung sekarang! Cara mudahnya bisa kamu temukan di sini!      

Terima kasih telah peduli pada petani Indonesia dengan membaca artikel CROWDE. Agar kami dapat menyajikan konten yang sesuai dengan kebutuhan kamu, mohon bantu kami mengisi survey berikut ini.

0 comments on “Ekosistem P2P Lending, Siapa Saja yang Ikut Terlibat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *