Tanggal 21 Juni 2020, para pelaku pertanian suka cita merayakan Hari Krida Pertanian yang ke-48 dengan memanjatkan rasa syukur terhadap Tuhan YME karena Indonesia sebagai negara agraris telah diberikan potensi sumber daya pertanian yang berlimpah. Sekaligus menjadi wujud apresiasi dan penghargaan kepada mereka yang telah bekerja keras menghasilkan berbagai produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk dalam negeri. Selain itu, Hari Krida Pertanian menjadi momentum yang tepat untuk meninjau semua kekurangan dan kesalahan, serta mengupayakan masa depan sektor pertanian yang lebih baik. Lalu pada momen ini, apa saja yang bisa kita upayakan agar Indonesia tidak mengalami darurat pertanian di masa yang akan datang? Simak ulasannya berikut!

Memperbanyak pemanfaatan teknologi pertanian

Selama lima tahun terakhir, pemerintah terus berupaya mewujudkan pertanian modern dengan cara menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) agar efisiensi dan efektifitas budidaya petani dapat meningkat. Para petani diharapkan bisa memodernisasi kegiatan budidaya, panen, hingga pasca panen secara keseluruhan. Kenapa hal ini harus dilakukan? Sebab, sistem pertanian modern dapat turut meningkatkan pendapatan petani karena efisiensi usaha tani meningkat hingga 35% – 48%.

 

Ditambah dengan modernisasi, semakin berkurangnya lahan budidaya petani yang bisa menyebabkan darurat pertanian dapat diatasi dengan melakukan konversi lahan rawa menjadi lahan pertanian. Pemanfaatan teknologi yang tepat dapat menjadi alternatif untuk peningkatan produksi pangan nasional di masa yang akan datang. Bahkan hingga tahun 2019, target pencapaian konversi lahan rawa menjadi lahan pertanian di Indonesia mencapai luas 523.928 ha. Dimana petani yang sebelumnya tidak bisa berbudidaya karena lahannya tergerus oleh bangunan komersial, kembali bisa berbudidaya.

Menciptakan lebih banyak petani milenial

Usia petani di Indonesia saat ini didominasi oleh rentang usia 45 – 60 tahun, yang mana dalam beberapa tahun ke depan, tenaganya untuk bertani sudah tidak sekuat yang masih muda. Jangan sampai bahan pangan semakin langka hanya gara-gara kita sebagai generasi muda tidak mau menjadi petani. Sektor pertanian juga butuh inovasi yang dapat diciptakan oleh para petani muda agar mampu menarik lebih banyak minat kaum milenial. Selain itu, dampak lain dari tidak adanya regenerasi petani adalah tergerusnya lapangan pekerjaan karena sektor pertanian menyediakan sekitar 40% lapangan pekerjaan di Indonesia. Dengan kata lain, dengan semakin banyaknya petani muda, akan membantu mengurangi angka pengangguran di Indonesia.

 

Oleh karena itu, adaptasi teknologi ke dalam sektor pertanian harus terus dilakukan mulai dari hulu hingga hilir, agar image pertanian mampu beralih dari yang tradisional menjadi lebih modern dan diminati kaum muda. Para petani muda hanya butuh lebih banyak penyuluhan, pendidikan, serta pelatihan di bidang budidaya/usaha pertanian agar kompetensi mereka menjadi lebih baik.

Meningkatkan kualitas pangan dan kesejahteraan petani

Data BPS menyebutkan bahwa PDB sektor pertanian periode 2014 – 2018 naik Rp400 triliun – Rp500 triliun karena turut didorong oleh peningkatan volume ekspor. Untuk membuat volume ekspor dapat terus meningkat, kualitas bahan pangan yang dihasilkan petani harus semakin baik agar bisa diterima oleh negara lain. Aktivitas promosi produk pertanian ke luar negeri juga harus terus dilakukan baik oleh pemerintah, maupun pihak swasta. Dilanjutkan dengan menjalin kerja sama kegiatan ekspor dengan harga jual yang menguntungkan petani. Oleh karena itu, petani harus mendapat sosialisasi seputar hasil pertanian layak ekspor agar mereka terpacu untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas tinggi. Bila para petani berhasil memenuhi kebutuhan dalam negeri dan juga bisa memenuhi kuota impor, secara otomatis kesejahteraan mereka ikut meningkat dan semakin banyak orang tertarik untuk bertani.

Mewujudkan kedaulatan pangan

Supaya negara kita tidak mengalami darurat pertanian, kedaulatan pangan nasional harus segera diwujudkan. Kunci utama tercapainya swasembada dan kedaulatan pangan adalah penyediaan air yang mencukupi. Tanpa pengelolaan air yang baik, semua kekayaan sumber daya alam yang dimiliki pun menjadi sia-sia. Hingga saat ini pemerintah telah membangun irigasi, normalisasi sungai dan bendungan, serta pompanisasi dan membangun embung untuk menampung air. Melalui pembangunan embung, air hujan yang jatuh bisa dimanfaatkan kembali (didaur ulang) sebagai perairan lahan pertanian, sehingga tidak hanya dimanfaatkan sekali, tetapi bisa dua sampai tiga kali. 

 

Berdasarkan UU No. 18/2012 tentang Pangan, bahwa kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa dalam menentukan kebijakan pangan secara mandiri agar hak rakyat atas pangan terjamin sesuai potensi sumber daya lokal. Oleh karena itu, sektor pertanian kita butuh partisipasi lebih banyak pihak, tidak hanya pemerintah kita sendiri atau petani yang hanya bekerja sendirian. Beragam inovasi yang dapat mempermudah aktivitas pertanian bisa diciptakan oleh siapa saja untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan di Indonesia dengan meningkatkan hasil produksi pertanian secara nyata dan menghindari impor. 

 

Sektor pertanian sudah seharusnya mendapat tempat yang istimewa, lalu apalagi upaya yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan sektor pertanian dalam negeri? Pada momen perayaan Hari Krida Pertanian ini, mari kita tunjukkan semangat untuk menjadikan sektor pertanian lebih baik kedepannya. Gabung bersama CROWDE juga lebih baik karena dengan bersama semua pasti bisa!