News

CROWDE Gagal Bayar? Ini yang Dilakukan CROWDE Dalam Menangani Gagal Bayar

crowde gagal bayar

Dalam setiap proses permodalan atau pembiayaan fintech selalu ada potensi berbagai macam risiko yang terjadi. Salah satunya adalah risiko terjadinya gagal bayar. Oleh sebab itu, untuk menjadi pemodal yang cermat, CROWDE menyarankan kepada Anda untuk mempelajari risiko-risiko yang dapat terjadi terlebih dahulu, sehingga Anda dapat lebih bijak dalam melakukan permodalan. Namun, CROWDE sebagai platform P2P lending yang menjembatani lender untuk menyalurkan permodalannya kepada borrower, begitu juga sebaliknya ketika borrower menyalurkan pengembalian, pun melakukan berbagai upaya dalam mengatasi risiko CROWDE gagal bayar yang dapat merugikan lender. Berikut ini adalah beberapa upaya yang dilakukan.

Risiko CROWDE Gagal Bayar

Transaksi permodalan yang dilakukan pada platform P2P lending CROWDE merupakan kesepakatan antara lender dan borrower yang telah diatur di dalam perjanjian permodalan atau pembiayaan yang ditandatangani oleh Pemodal atau CROWDE selaku kuasanya dengan Penerima Permodalan yang telah setuju untuk menerima Fasilitas Permodalan/Pembiayaan melalui CROWDE. Oleh sebab itu, segala risiko yang timbul ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak dan lender disarankan untuk selalu mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi sebelum melakukan permodalan melalui platform peer-to-peer lending (P2P) CROWDE. Adapun sebagai platform P2P lending yang menjembatani lender untuk menyalurkan permodalannya kepada borrower, dan juga sebaliknya ketika borrower menyalurkan pengembalian, risiko telat bayar ataupun CROWDE gagal bayar oleh borrower (petani) kepada lender mungkin terjadi.

Penyebab CROWDE Gagal Bayar

Adapun penyebab gagal bayar ini ada banyak. Mulai dari petani yang tiba-tiba kabur, faktor cuaca yang menyebabkan gagal panen, sampai anjloknya harga jual sehingga besar profit tidak mencapai target. Ini yang kemudian menyebabkan CROWDE gagal bayar ke pihak lender, dimana petani yang menjalankan usaha pertanian tersebut tidak mampu membayar kembali pokok pinjaman beserta bunganya. Atas peristiwa yang terjadi ini, kami ingin meminta maaf dan telah berupaya melakukan penyelesaian terbaik.

CROWDE sebagai platform P2P lending fintech pertanian melakukan berbagai upaya mengatasi risiko CROWDE gagal bayar

Nah, kira-kira apa yang CROWDE lakukan untuk mengatasi gagal bayar, sehingga bisa mencapai win-win solution? Simak ulasannya di bawah ini!

  • CROWDE gagal bayar, proses mediasi pun dilakukan bersama petani

Bila mitra petani kesulitan mengembalikan modal usaha milik lender, proses mediasi pun dilakukan dengan mendatangi mereka. Tim CROWDE akan menemui mitra petani yang bersangkutan dan meminta penjelasan secara detail tentang masalah yang terjadi dan mencari tahu apa penyebabnya sampai pengembalian modal terhambat. Adapun umumnya, gagal bayar tersebut disebabkan oleh petani yang mengalami gagal panen, entah itu karena kesalahan dari pihak petani, terjadinya bencana alam, atau karena cuaca yang tidak mendukung dan memicu serangan hama pada tanaman budidaya mereka.

  • Petani membuat surat pengakuan utang

Setelah melakukan mediasi, CROWDE akan mengeluarkan surat pengakuan utang yang harus disepakati oleh petani untuk bertanggung jawab melunasi pinjaman modal milik lender. Petani yang memiliki aset bisa berusaha menjual asetnya agar dapat melunasi pinjaman modal. Namun, bila petani tidak memiliki aset, petani wajib melakukan tanam ulang.

  • Melakukan Tanam Ulang

Petani diminta untuk melakukan budidaya kembali menggunakan modal sendiri atau mendapat bantuan dari pihak CROWDE dengan syarat kami yang akan memegang kendali penuh atas proses budidaya ulang tersebut. Ini dilakukan agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi dan kami dapat langsung memantau perkembangan budidaya sampai panen berhasil. Proses pendampingan dipimpin langsung oleh para ahli di bidang pertanian agar hasil panen yang diperoleh sesuai target. Nah, agar proses budidaya juga cepat selesai dan mitra petani dapat segera memenuhi kewajibannya, mereka akan meminta bantuan petani lain di daerahnya untuk ikut bersama-sama melakukan budidaya ulang.

  • Petani wajib melakukan pengembalian bertahap

Dari budidaya ulang yang dilakukan mitra petani, mereka bisa melakukan pengembalian modal dengan fitur pengembalian parsial. Tentunya, kami memberikan timeline yang telah disepakati oleh kedua belah pihak agar mereka merasa lebih bertanggung jawab dengan rencana yang telah dibuat. Petani pun dapat mencicil pengembalian sesuai dengan timeline/perjanjian tersebut.

Selain dengan menjalankan tahapan penyelesaian seperti di atas, CROWDE juga memiliki strategi mitigasi risiko sendiri agar kesalahan yang sama seperti CROWDE gagal bayar, tidak terjadi lagi. Apa yang CROWDE lakukan?

  1. Menerapkan sistem cashless disbursement. 
  2. Memperbanyak jumlah field agent (FA) sebagai perpanjangan tangan CROWDE di lapangan, yang akan memberi bimbingan ke mitra petani.
  3. Memperkaya input seleksi proyek permodalan dari credit scoring engineCROWDE dengan memanfaatkan upaya tanggung renteng kelompok paguyuban, dan penggunaan IoT untuk mengetahui kondisi kelayakan lahan petani.
  4. Memperbaiki prosedural customer handlesesuai dengan ketentuan POJK 77.
  5. Menyediakan hotline service (HaloTani) yang bisa digunakan mitra petani untuk bertanya/menyampaikan kendala apapun yang terjadi di lapangan.
  6. Bekerja sama dengan off-takerinstitutional/retailer agar hasil panen mitra petani dapat terserap maksimal dengan harga yang lebih stabil.

Itulah berbagai upaya yang dilakukan CROWDE dalam mengatasi gagal bayar. Kami ingin bisa memberdayakan lebih banyak lagi petani di Indonesia. Tagline #BersamaPetani pun kami buat untuk selalu mengingatkan pentingnya memberi dukungan ke mereka, meski itu sangat berisiko. Demi masa depan sektor pertanian yang lebih baik.