Perusahaan agritech mengacu pada sektor penggunaan teknologi dan inovasi demi meningkatkan efisiensi serta hasil pertanian sehingga siap memiliki dampak yang besar bagi negara. Agritech sendiri mencakup beragam perusahaan yang menawarkan mulai dari solusi pertanian presisi; software manajemen pertanian; hingga saluran distribusi berbasis internet, robotika dan drone, teknologi seperti sensor, Internet-of-Things (IoT), big data, dan artificial intelligence (AI). Berdasarkan artikel yang dikeluarkan oleh Fintechnews Singapore di laman resminya pada tanggal 5 Februari 2020, menyatakan bahwa CROWDE masuk dalam kategori startup agri-fintech yang diperhitungkan di Asia pada tahun 2020. Perusahaan startup lain yang juga mendapat predikat tersebut berasal dari beberapa negara di Asia, seperti India, Filipina, dan Myanmar. 

 

“Kami merasa terhormat mendapat predikat tersebut, tanpa mengurangi semangat kami untuk selalu ikut serta berkontribusi memajukan sektor pertanian dalam negeri”, ungkap Yohanes Sugihtononugroho, CEO CROWDE.

 

CROWDE merupakan startup fintech yang fokus berkontribusi pada pertanian Indonesia dengan memberdayakan petani melalui pemanfaatan teknologi, permodalan usaha pertanian, hingga membentuk ekosistem pertanian yang berkelanjutan. CROWDE menciptakan sebuah platform yang didalamnya terdapat berbagai pilihan proyek permodalan pertanian, peternakan, hingga perikanan, yang bisa dipilih langsung oleh para lender. Teknologi membuat seluruh prosesnya bisa berlangsung secara transparan serta efisien. CROWDE mengintegrasikan seluruh ekosistem pertanian mulai dari toko pertanian, off-taker, hingga konsumen/industri pengolahan dengan memanfaatkan teknologi. Penyaluran modal usaha ke petani juga dilakukan dengan sistem cashless melalui kerjasama dengan toko pertanian setempat dimana toko pertanian tersebut yang nantinya akan memasok semua kebutuhan petani saat menjalankan proyek budidayanya.

 

Yohanes menambahkan hingga tahun 2019 total lender yang telah bergabung bersama CROWDE adalah sebanyak 31.831 orang dengan total penyaluran modal usaha petani senilai lebih dari Rp100 miliar. CROWDE juga telah memiliki mitra sebanyak 3.594 petani dan memberikan pembinaan ke para petani terpilih untuk meminimalisir terjadinya proyek gagal dan risiko lain yang menyertainya. Selama tahun 2019, CROWDE juga menjalin kerjasama institusional dengan beberapa lembaga keuangan dan perusahaan investasi, seperti Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Jawa Barat (BJB), BPR Supra, Credit Saison, Eight Four Capital, Leap 201, Crevisse Partner, dan Jasindo Syariah.

 

CROWDE terus berbenah untuk meminimalisir risiko permodalan di sektor pertanian yang memang tergolong tinggi dengan melakukan edukasi manajemen finansial bagi para petani, skor kredit menyesuaikan skema permodalan dan jenis komoditas, pemantauan proyek oleh field agent, serta sistem penyelesaian masalah bisnis bersama paguyuban petani.

 

“Kami percaya bahwa banyak hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko permodalan di sektor pertanian, seperti apa yang telah kami lakukan di tahun 2019 mampu mengurangi jumlah proyek gagal hingga 51%”, tambahnya.  

 

Peran perusahaan startup agritech bagi pertumbuhan sektor pertanian patut mendapat dukungan dari semua pihak. CROWDE juga tidak mampu bila harus melakukannya sendiri. Karena pada akhirnya, manfaat baik akan kita rasakan secara bersama-sama. Terutama para petani di Indonesia yang tingkat kesejahteraan hidupnya bisa kita buat jadi lebih baik. Jadi, apalagi yang ditunggu?