News

Cegah CROWDE Bangkrut, Ini Strategi Untuk Memajukan Sektor Pertanian Indonesia

Panen Cabai, crowde bangkrut

Indonesia telah dikenal sebagai negara agraris selama ratusan tahun, bahkan sebelum kemerdekaannya. Maju ke tahun 2010, produksi pertanian Indonesia berada di bawah ancaman. Kombinasi faktor-faktor seperti kelangkaan lahan, akses modal yang terbatas, dan harga pasar yang fluktuatif telah membuat generasi muda Indonesia putus asa untuk bertani. Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah petani di negara turun dari 35,7 juta pada 2018 menjadi 33,4 juta pada 2020. Menyikapi krisis tersebut, kancah startup Indonesia mulai beraksi. Berbagai startup fintech pertanian seperti CROWDE didirikan untuk memberi solusi inovatif agar dapat memecahkan masalah utama di sektor pertanian, sekaligus mencegah CROWDE bangkrut. Nah, seperti apa, sih, strategi CROWDE dalam memecahkan masalah utama di sektor pertanian? Yuk, cari tahu sama-sama!

Cegah CROWDE Bangkrut Sekaligus Dukung Petani Melalui Akses Pasar yang Memadai

Salah satu tantangan terbesar bagi petani Indonesia adalah mendapatkan akses pasar. Karena negara kita adalah negara kepulauan, hampir tidak mungkin bagi petani untuk mengangkut barang-barang mereka dan memasarkannya ke end users secara langsung.

Rantai pasokan produk pertanian biasanya melalui beberapa lapisan perantara, sebelum akhirnya mencapai konsumen akhir. Bisa melalui tengkulak yang akan menjual hasil panen petani ke pasar induk. Nanti pedagang eceran yang membelinya, baru sampai ke konsumen. Rantai distribusi yang rumit ini mengakibatkan ketidakefisienan, di mana produk dibeli dari petani dengan harga sangat murah, lalu dijual lagi dengan harga tinggi. Akhirnya petani sulit memperoleh profit.

CROWDE memiliki strategi untuk memotong rantai pasokan produk pertanian dan menghubungkan petani dengan 158 off-taker (baik retail, maupun institusional) untuk bisa menyerap langsung hasil panen mitra petani. Ada yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan, pelaku industri e-commerce, pasar modern, sampai ekspor, sehingga harga jualnya lebih tinggi. CROWDE membantu petani mendapatkan lebih banyak pendapatan, sekaligus menurunkan harga jual ke konsumen.

Menyediakan akses mudah ke permodalan

Petani biasanya menghadapi masa sulit ketika mencoba mendapatkan akses permodalan. Di satu sisi, petani sering kesulitan mendapatkan pembiayaan dari bank, yang menawarkan suku bunga rendah karena mereka seringnya tidak memiliki agunan. Selain itu, produk yang sesuai dengan kebutuhan petani, sulit ditemukan. Tidak seperti sektor lainnya, budidaya pertanian baru akan memperoleh keuntungan setelah panen. Pembayaran bulanan tidak sesuai dengan musim panen petani. Untuk mengatasi kesenjangan ini, startup fintech pertanian CROWDE memasukkan unsur P2P Lending dalam produk mereka. P2P Lending ini memungkinkan pengguna memilih sendiri petani yang akan dipinjamkan uang sesuai kelayakannya.

Menempatkan agent di lapangan sebagai ‘teman’ petani

CROWDE merekrut Agent atau Field Agent (FA) untuk menjadi orang terdekatnya petani. Agent atau Field Agent (FA) ini bertugas sebagai orang pertama yang mengetahui permasalahan petani di lapangan. Jadi, ketika mitra petani sedang mengalami kesulitan saat berbudidaya, FA bisa ikut memberikan bimbingan. Tidak hanya itu, FA juga bertugas memantau usaha budidaya petani. Mulai dari memantau kesesuaian aktivitas budidaya petani dengan SOP CROWDE, ketepatan penggunaan saprotan, memantau jadwal tanam hingga panen, sampai memfasilitasi kebutuhan petani yang berkaitan dengan budidaya. Saat ini, CROWDE memiliki 49 FA di lapangan yang merupakan putra daerah di masing-masing wilayahnya.

Melibatkan toko tani untuk menyalurkan modal usaha petani

Untuk meminimalisir terjadinya kekeliruan dalam penyaluran modal usaha petani, CROWDE menyalurkan modal secara cashless dalam bentuk saprotan. Di sini, CROWDE bekerja sama dengan toko tani yang berada di wilayah proyek permodalan untuk bisa menyalurkan kebutuhan petani (saprotan) saat berbudidaya. Saprotan disalurkan ke petani secara bertahap sesuai dengan tahapan budidaya dan RAB yang telah disepakati di awal. Semua proses pengajuan dan pencairan saprotan akan difasilitasi oleh FA. Dengan demikian, kualitas saprotan yang diperoleh mitra petani lebih terjamin dan sesuai dengan kebutuhan. Mereka tinggal fokus menjalankan budidaya agar dapat menghasilkan panen melimpah.

Bekerja sama dengan pemodal institusional

Tahun lalu, CROWDE telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan beberapa lender institusi, seperti Bank BJB dan BPR Supra untuk memodali mitra petani di wilayah Cianjur, Sukabumi, serta Garut. Kerja sama dengan pemodal institusi ini dilakukan agar proses penyaluran modal ke petani berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Nyatanya, ada pertumbuhan yang signifikan pada nilai penyaluran modal dari tahun 2019 ke 2020 sebesar 413%. Juga ada sebanyak 85% mitra petani yang mengaku, proses penyaluran modal jadi lebih cepat, terkontrol, dan budidaya mereka jadi lebih terjadwal. Jadi, mereka tidak perlu lagi kehilangan momen tanam. Risiko kegagalan pun dapat diminimalisir.

Nah, itu dia strategi yang dilakukan untuk mencegah CROWDE bangkrut dengan harapan mampu memberi dampak positif bagi aktivitas pertanian di Indonesia. Terhitung sejak CROWDE berdiri hingga saat ini, sudah ada 37.300 petani yang tergabung menjadi mitra dan telah menyalurkan permodalan lebih dari Rp253.781 miliar. Tentu upaya kami tak berhenti sampai di sini agar kami bisa mendukung lebih banyak lagi petani di Indonesia. Dukung kami terus, ya!