Produk impor yang masuk ke Indonesia dari tahun ke tahun semakin masif. Lahan pertanian yang menyempit membuat produksi pangan dalam negeri menjadi kurang. Sehingga mau tidak mau harus mendatangkan produk impor untuk memenuhi permintaan kebutuhan pangan nasional. Namun sayangnya, produk impor tersebut dengan mudah menarik perhatian konsumen di Indonesia, sehingga jadi lebih mencintai mereka. Konsumen jadi keterusan membeli produk impor, dan mengabaikan produk pangan lokal, kecuali bila dalam kondisi terpaksa.   

Bayangkan, untuk komoditas pangan yang penting saja – tingkat ketergantungan pada produk impor masih tinggi. Sebagai contoh, 70% kebutuhan susu masyarakat Indonesia dipenuhi oleh produk impor, sama halnya dengan kedelai. Bahkan, 100% kebutuhan gandum dalam negeri masih dipenuhi oleh produk impor. Padahal, gaya hidup sehat yang saat ini diminati oleh masyarakat perkotaan, sangat membutuhkan ketiga komoditas di atas, terlebih gandum. Bagaimana kondisi perekonomian nasional kalau produk pangan impor justru lebih laku dari produk lokalnya? Kita juga nggak bisa, kan, melarang orang lain yang ingin menjalani pola hidup sehat.

Peran Generasi Muda Indonesia

Di mulai dari generasi muda yang harus mau mencintai dan mengutamakan untuk membeli produk pangan lokal. Misal, gandum produk impor bisa diganti dengan produk lokal seperti beras merah.  

Selain itu, generasi muda juga harus bangga terhadap produk pangan dalam negeri dan mengkonsumsinya secara teratur. Terlebih untuk produk sayur dan buah-buahan. Misal, alih-alih mengkonsumsi Apel Fuji yang diimpor dari Tiongkok, mending memilih Apel Malang. Agar produk kita tidak kehilangan peminatnya. 

Generasi muda yang akrab dengan teknologi dan selalu suka berinovasi, bisa mengolah hasil produk pangan lokal menjadi produk makanan/minuman yang lebih modern, serta menyehatkan. Inovasi bisa dilakukan pada proses pengolahan, pengemasan, serta pemasaran sehingga dapat disulap menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Konsumen juga akan lebih mudah tertarik.

Tidak ketinggalan, generasi muda juga bisa melakukan kajian pertanian dengan melibatkan para pakar/ahli di bidang pertanian untuk menemukan solusi penanggulangan hama, permasalahan alih fungsi lahan, serta menemukan varietas unggul baru dan melibatkan para petani di Indonesia. Juga memastikan harga komoditas pangan di Indonesia ditentukan oleh petani, bukan dari mekanisme pasar supaya petani nggak makin menderita.

Pada akhirnya, tujuan yang ingin dicapai ialah kualitas hasil pertanian lokal jadi semakin baik, tingkat kesejahteraan petani lokal juga meningkat, serta perekonomian nasional ikut terdongkrak.