Uncategorized

Blockchain Untuk Masa Depan Pertanian Indonesia, Kenapa Tidak?

Blockchain diartikan sebagai struktur data yang tidak dapat diubah dan hanya bisa ditambahkan. Permasalahan di sektor pertanian Indonesia yang dilansir dari Detik.com, seperti panjangnya rantai distribusi antara petani dan konsumen, membuat petani rugi karena kualitas hasil panen menurun hingga 20% setiap tahunnya. Belum lagi biaya produksi pertanian Indonesia termasuk yang paling mahal se-Asia karena belum bisa dibuat efektif dan efisien. Blockchain hadir sebagai salah satu teknologi pertanian yang bisa menjadi solusi untuk sistem pertanian di masa depan. Kok bisa? Yuk, CROWDE kasih ulasannya hanya untuk kamu!

Bagaimana blockchain bekerja untuk merevolusi sistem pertanian di Indonesia?

Sistem pertanian di Indonesia masih belum terintegrasi satu sama lain. Sehingga diperlukan pemerataan dan keseragaman informasi terkait dengan kapasitas produksi, ketersediaan lahan, pasar penampung hasil produksi beserta harganya, serta pembiayaan usaha tani. Blockchain dapat membuat seluruh data terhubung. Bila ada perubahan di salah satu block data, data berikutnya akan ikut ter-update.

Terintegrasinya data dari seluruh wilayah di Indonesia juga akan membantu pemerintah mendapat data secara real time. Sehingga memudahkan pemerintah untuk mengatur strategi pengaturan. Rantai pasokan menjadi lebih efektif dan efisien. Hasilnya, produktivitas pertanian di Indonesia meningkat. Dan hasil keuntungan petani jadi lebih banyak.

Apakah akan berdampak menguntungkan secara signifikan?

Blockchain fokus pada pembentukan sebuah ekosistem yang berkelanjutan, tentu bisa memberi dampak jangka panjang. Adanya transparansi bisnis di sektor pertanian akan memastikan kepatuhan dan kepuasan pelanggan. Bahkan adanya pengalaman konsumen akan menggiring pada hasil data laba bersih.

Dengan blockchain petani akan mendapat akses pendampingan dalam proses produksi sampai panen. Hingga mendapat jaringan pemasaran sampai ekspor. Keuntungan yang bisa dirasakan, kapasitas produksi meningkat disertai peningkatan kualitasnya. Sistem pertanian menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan begitu bisa mengurangi biaya produksi dan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.   

Lalu, apakah ada tantangannya?

Tantangan pasti ada, mengingat pelaku pertanian di Indonesia belum akrab dengan teknologi blockchain. Perlu proses edukasi agar pengguna bisa tahu cara menggunakannya. Dan dengan mudah mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sesederhana mungkin. Sehingga para petani yang notabene belum terlalu melek teknologi, dapat mudah mengaplikasikannya. Juga soal regulasi pemerintah yang belum mengizinkan transaksi menggunakan mata uang bitcoin. Blockchain masih harus menunggu untuk bisa mengintegrasikannya kepada bitcoin. Namun hal tersebut tidak menghalangi apa yang sudah blockchain bisa lakukan sekarang.

Sesuai dengan visi CROWDE untuk membentuk ekosistem pertanian yang sehat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Tidak hanya itu, juga untuk menjamin perkembangan sektor pertanian di Indonesia secara berkelanjutan. Demi cita-cita bangsa menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045.


Kalau kamu ingin menjadi salah satu yang berkontribusi mewujudkan hal tersebut, ayo ikut bergabung di CROWDE. CROWDE menciptakan ekosistem pertanian mulai dari permodalan dalam bentuk kebutuhan untuk proyek usaha pertanian, hingga membantu penjualan hasil produksi tani langsung ke konsumen. Petani jadi lebih untung, konsumen juga terjamin kebutuhannya tercukupi. Tunggu apa lagi?    

 

0 comments on “Blockchain Untuk Masa Depan Pertanian Indonesia, Kenapa Tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *