News

Gunakan Lahan Rawa untuk Tunjang Sektor Pertanian

Lahan rawa termasuk lahan darat yang tergenang air secara alami, bisa secara terus-menerus atau periodik saja. Air tergenang bisa dikarenakan sistem drainase yang terhambat. Indonesia memiliki luas lahan rawa sekitar 10 juta hektar yang sayang bila tidak dimanfaatkan. Apalagi memasuki musim penghujan, muncul beberapa lahan rawa yang sifatnya periodik. Oleh karenanya, pemerintah mulai berupaya untuk memanfaatkan lahan rawa sebagai lahan pertanian yang produktif.

Biaya operasional pengelolaan lahan rawa ke lahan pertanian juga tidak membutuhkan biaya yang besar. Gunakan lahan rawa bisa dengan ditanami tiga kali dalam setahun. Sehingga bisa menghasilkan produksi pertanian yang lebih banyak. Hitung-hitung ikut meningkatkan produksi dalam negeri demi mewujudkan kedaulatan pangan. Lalu, bagaimana soal pemanfaatan lahan rawa di Indonesia? Pengin tau? Yuk, simak ulasan berikut!  

Secara teknis, ini yang bisa dilakukan pada lahan rawa

Cara untuk menanggulanginya adalah dengan membuat tanggul yang dipasang di samping lahan rawa. Selama ini tanggul yang disarankan pemerintah memiliki tinggi minimal 70 cm di atas pasang tertinggi. Sehingga meski saat musim kemarau ketinggian air pasang masih standar, namun dibuat lebih tinggi agar juga aman saat digunakan di musim penghujan. Pemerintah juga sebelumnya telah mendata, lahan rawa mana saja yang bisa diberdayakan sebagai lahan pertanian. Dan masih akan terus dipantau hingga 3 tahun ke depan. Agar dapat dipastikan kalau kegiatan budidaya dapat berjalan dengan baik dengan ketersediaan SDM yang mumpuni.     

Agar cetak sawah dapat bertahan lama, ini dia caranya!

Kementan mencatat, realisasi cetak sawah ke lahan pertanian di tahun 2016 sudah mencapai 129.076 hektar. Dan hasil evaluasi di akhir 2017 menunjukkan bahwa 126.437 hektar di antaranya, sudah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang produktif. Lalu untuk mempertahankannya, perlu diupayakan pengelolaan tata air (irigasi) dan teknologi penataan lahan. Untuk menjaga tingkat level air, dilakukan pompanisasi. Lalu untuk mengurangi kadar asam yang tinggi dilakukan lah pengapuran. Mempercepat pembusukan jerami yang akan berfungsi untuk menambah kandungan hara pada tanah. Tidak ketinggalan, penggunaan varietas bibit unggul baru untuk tanaman padi yang adaptif terhadap lahan rawa.    

Lalu, apa hasil yang didapat dari upaya peralihan ini?

Di Sumatera Selatan telah dilakukan peralihan lahan dari rawa ke lahan pertanian seluas 500.000 hektar. Dengan 3 kali panen, ternyata mampu menghasilkan tambahan 12 juta ton gabah beras dengan nilai produksi sekitar Rp 4 triliun. Nilai tersebut pasti menambah pendapatan petani di Sumatera Selatan. Sebagai daerah percontohan, Kalimantan Selatan juga akan memasuki masa siap panen di 750 hektar lahan padi rawa. Targetnya hingga akhir tahun 2018, akan ada 4.000 hektar lahan rawa di Kalimantan Selatan sebagai hasil peralihan lahan. Sehingga rawa yang ketika musim kemarau hanya menghasilkan asap, dan tergenang saat musim hujan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.

Jika kamu tertarik ikut berkontribusi meningkatkan hasil pangan dalam negeri kenapa tidak bantu petaninya? Di CROWDE kamu bisa kasih permodalan untuk beragam proyek usaha tani di Indonesia. Tidak perlu bingung lagi mau investasi kemana, mending investasi untuk jangka panjang kan. Supaya kamu dan anak cucumu bisa terus makan di tanah airnya sendiri.    

0 comments on “Gunakan Lahan Rawa untuk Tunjang Sektor Pertanian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *