Belajar Bertani

Nggak Sembarangan, Ini Dia Aturan dalam Penggunaan Insektisida!

Insektisida

Insektisida yang masuk dalam kategori pestisida punya kegunaan untuk mengendalikan hama jenis serangga. Insektisida bekerja dengan cara mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, sistem imun hingga menyebabkan kematian pada sasarannya. Tapi, apakah kalian sadar? Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita juga sering menggunakan insektisida, lho. Kira-kira apa coba? Betul, obat nyamuk! Mau itu obat nyamuk bakar, semprot, atau cair, kita juga memanfaatkannya dalam keseharian.  

Nah, bagi petani, penting untuk memahami aturan cara kerja dari masing-masing jenis insektisida. Salah-salah nanti malah bisa merugikan karena insektisida tersebut tidak bekerja efektif yang membuat biaya produksi jadi lebih besar. Berikut, CROWDE punya ulasan seputar pengelompokan jenis-jenis insektisida berdasarkan cara kerjanya. Apa saja? Simak, yuk!

Gerakan racun insektisida pada tanaman

Pergerakan racun pada tanaman dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Sistemik

Bekerja setelah disemprotkan atau ditaburkan ke lahan pertanian yang akan terserap ke dalam jaringan tanaman melalui akar/daun sehingga dapat membunuh hama yang memakan dan menghisap cairan atau bagian tanaman yang telah terkontaminasi racun. Nantinya tanaman/cairan itu akan berubah menjadi racun lambung bagi serangga sehingga cocok untuk hama jenis penghisap, ulat, dan penggerek yang bersembunyi atau berada di dalam batang tanaman.

  • Non sistemik

Racun yang diaplikasikan tidak akan diserap oleh tanaman, tetapi hanya menempel pada permukaan tanaman. Insektisida jenis ini yang banyak dijual di pasaran Indonesia saat ini. Contoh insektisida jenis ini adalah dioksikarb, diazinon, diklorfos, dan quinalphos.

  • Sistemik lokal/translaminar

Racun yang diaplikasikan akan diserap oleh jaringan tanaman (umumnya daun), tetapi tidak ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya. Contohnya adalah furatiokarb, dimetan, pyrolan, profenofos.

Cara masuknya racun ke dalam tubuh serangga

Cara kerja racun hingga masuk ke dalam tubuh serangga dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Racun lambung/racun perut

Racun jenis ini harus dimakan oleh serangga/hama sasaran. Selanjutnya racun yang masuk ke dalam organ pencernaan serangga akan diserap oleh dinding saluran pencernaan. Racun yang telah diserap didistribusikan oleh cairan tubuh sampai pada organ serangga yang akan dituju, misalnya susunan saraf. Contohnya adalah bacillus thuringiensis. 

  • Racun kontak

Racun yang diaplikasikan harus bersinggungan langsung dengan kulit serangga. Selanjutnya racun akan menyebar ke organ serangga yang mematikan seperti susunan saraf serangga. Contoh racun kontak adalah diklorfos dan pririmos metil.

  • Racun pernapasan

Kalau yang ini, cara kerjanya dengan membunuh serangga yang menghirup langsung racun melalui organ pernafasannya. Racun ini akan efektif bila digunakan untuk mengendalikan hama yang mobilitas atau perpindahannya tinggi. Jadi bisa tuh digunakan untuk hama yang suka terbang. Hama tersebut tidak harus menyentuh racun secara langsung karena persebarannya melalui udara. Jenis insektisida yang satu ini juga sering disebut fumigan.

Cara kerja racun insektisida

Racun yang diaplikasikan akan mematikan serangga dengan cara menyerang bagian dari tubuh serangga. Berdasarkan cara kerjanya terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Racun fisik

Jenis racun ini membunuh serangga dengan gejala yang tidak khas. Misalnya debu akan menutup lubang pernapasan serangga sehingga serangga akan mati lemas kekurangan oksigen. 

  • Racun protoplasma

Yang termasuk ke dalam kelompok racun protoplasma ialah logam berat dan asam.

  • Racun penghambat metabolisme 

Yang termasuk dalam racun penghambat metabolisme ialah penghambat khitin, racun pernapasan, dan racun syaraf.

Penting juga untuk diingat bahwa jangan membeli insektisida dengan label yang tidak jelas, luntur, agak kusam, apalagi yang sudah kadaluarsa. Lalu, kamu harus tahu bahwa pemberian insektisida paling baik dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terlalu terik dan pada sore hari sekitar pukul 15.00 ke atas. Kenapa? Ya, karena pada waktu tersebut hama masih belum terlalu banyak bergerak dan aktif. Selain itu, hindari pemberian insektisida pada saat cuaca mendung atau sedang hujan. Berikut adalah beberapa contoh bahan aktif pada insektisida yang bisa kamu gunakan:

  • Karbosulfan/Tiametoksam

Digunakan untuk mengendalikan hama lalat bibit yang menyukai tanaman muda berumur antara 6 – 9 hari setelah tanam (HST) dan paling sering muncul saat musim hujan.

  • Diazinon/Klorpirifos

Digunakan untuk mengendalikan hama ulat tanah yang memotong batang tanaman jagung dan paling banyak muncul di malam hari.

  • Siantraniliprol

Digunakan untuk mengendalikan hama lundi (uret) yang menyerang tanaman jagung pada bagian perakaran yang dapat membuat tanaman mudah layu.

Nah, tapi sebaiknya kamu juga jangan menggunakan insektisida secara berlebihan. Artinya, ketika serangan hama tersebut tidak terlalu besar dan masih bisa dikendalikan oleh musuh alaminya, maka kamu dapat menunda dulu penggunaan insektisida.  

CROWDE yang berkomitmen menciptakan siklus pertanian berkelanjutan mendukung mitra petaninya untuk bisa menggunakan pestisida (insektisida) secara tepat waktu dan ukuran. Dengan begitu, tidak akan merusak kondisi lahan dan tetap menjaga kualitas hasil panen. Mitra petani akan mendapat pendampingan oleh field agent (FA) kami di lapangan. Mereka akan membantu mitra petani dengan memberikan rekomendasi produk dan takaran yang tepat sesuai kebutuhan. Jadi, kamu tidak perlu lagi bingung. Tertarik ikut gabung? Yuk, tinggal daftar di sini!  

Baca juga: Waspada! 8 Jenis Tumbuhan Parasit yang Dapat Merusak Bisnis Pertanian

0 comments on “Nggak Sembarangan, Ini Dia Aturan dalam Penggunaan Insektisida!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *