Belajar Bertani News

Apa yang Terjadi di Sektor Pertanian Sepanjang 2020?

2021

Wah, nggak kerasa sudah mau akhir tahun aja, ya. Gimana kabar kamu melewati 8 bulan ini di tengah pandemi? Semoga selalu sehat dan tetap semangat! Sambil mengisi waktu luang kamu, CROWDE sudah merangkum berita-berita penting yang terjadi di sektor pertanian selama tahun 2020. Biar pada nggak ketinggalan informasi, ada baiknya simak ulasan di bawah ini, yuk!  

Sektor Pertanian Kuartal 1 (Q1)

Menteri

Berbagai Target Pencapaian Pak Menteri di Sektor Pertanian

Kira-kira di awal tahun kemarin apa resolusi dari sektor pertanian? Ya, dilansir dari situs Liputan6.com (3/12/2020), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menetapkan target untuk dapat meningkatkan produksi komoditas utama sebesar 7% per tahun. Ada juga Gerakan Tiga Kali Ekspor (GraTIEks) yang akan diteruskan hingga tahun 2024. Nah, ini yang istimewa! Mentan kita juga punya target menyalurkan KUR di sektor pertanian sebesar Rp50 triliun setiap tahun agar usaha petani bisa terus berkembang. 

Lalu, buat kamu yang berminat untuk menjadi petani muda, nggak perlu khawatir karena pemerintah juga akan memberimu dukungan. Sebab, petani milenial berjiwa entrepreneur sedang diupayakan untuk terus tumbuh hingga mencapai target 500.000 pemuda setiap tahun. Tujuan jangka panjang dari kontribusi sektor pertanian ini agar daerah rentan rawan pangan bisa turun menjadi 10% dan risiko stunting pada anak turun menjadi 14% di tahun 2024. Supaya tidak hanya menjadi sekadar wacana, beliau membentuk Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang akan menjamin keselarasan dan kesatuan gerak pembangunan pertanian di setiap lini.    

Pandemi Datang, PSBB pun Jadi Hambatan

Nah pada kuartal I, pertama kalinya virus COVID-19 diumumkan resmi masuk ke Indonesia. Jelas, ini membuat shock kondisi perekonomian nasional di berbagai sektor, tidak terkecuali sektor pertanian. Ditambah adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan untuk beraktivitas secara normal turut mempengaruhi pola distribusi dan konsumsi kita sebagai masyarakat. Permintaan produk pertanian pun mendadak turun, yang membuat pertumbuhan di sektor pertanian hanya bisa mencapai 0,02%. Lebih rendah dari periode yang sama di tahun 2019 sebesar 1,82%. 

Sektor Pertanian Kuartal II (Q2)

Mantap, Sektor Pertanian Tumbuh 16,24%!

Dilansir dari situs Merdeka.com (3/12/2020), memasuki kuartal II, sektor pertanian kembali bangkit dengan mencatat pertumbuhan sebesar 16,24% dan menjadi penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi nasional. Data BPS menunjukkan bahwa kontribusi pertanian ke perekonomian negara naik 15,46% pada kuartal II. Sedangkan, periode yang sama tahun sebelumnya hanya naik 13,57%. Hal ini bisa terjadi karena ada pergeseran masa panen raya tanaman pangan ke bulan April dan Mei di tahun 2020. Ini yang kemudian membuat ketersediaan bahan pangan pada momen Hari Raya Idul Fitri menjadi aman, meski kita sedang berada di masa pandemi.  

Meski Pandemi, Ekspor Tetap Lanjottt!

Sektor pertanian masih mujur ketika pandemi, nyatanya aktivitas ekspor ke beberapa negara tidak berhenti untuk menunjang pemasukan APBN. Total akumulasi rencana ekspor pada April 2020 di sektor ini mencapai Rp538,12 miliar. Nilai yang besar bukan? Nah, beberapa perusahaan yang melaporkan rencana ekspor, yaitu PT Sinar Indochem dan PT Charoen Pokphand Indonesia yang akan mengekspor pakan ternak ke Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) dengan total nilai ekspor mencapai Rp1,57 miliar. Ada juga PT Greenfields Indonesia yang mengekspor susu dan olahan susu ke Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam dengan total nilai Rp5,67 miliar. Tidak ketinggalan PT Japfa Comfeed Indonesia yang akan mengekspor hatching egg ke Myanmar serta day old chicken ke RDTL dengan nilai ekspor mencapai Rp3 miliar. Dan, masih banyak lagi perusahaan lain yang tetap kebanjiran permintaan ekspor meski masih berada di masa pandemi.

Kuartal III (Q3)

Deflasi Selama Dua Bulan Berturut-turut Bikin Khawatir

Kondisi supply dan demand yang tidak seimbang membuat banyak produk pertanian yang akhirnya tidak terbeli. Hingga menyebabkan harga bahan pangan ikut anjlok yang tercermin dari terjadinya deflasi pada dua bulan berturut-turut (Juli – Agustus 2020). Di bulan Juli, terjadi deflasi sebesar 0,10% dan pada bulan Agustus sebesar 0,05%. Kelompok bahan pangan dari komoditas hortikultura seperti bawang merah, bawang putih, tomat, bayam, timun, hingga cabai rawit memberi andil terbesar. 

Masalah utama di saat pandemi adalah produk pertanian yang dihasilkan petani kita tidak dapat terserap maksimal oleh pasar karena daya beli menurun. Akibatnya, petani merugi karena produk-produk tersebut tidak bertahan lama, kalau sudah busuk, ya, terpaksa dibuang dan petani tidak menghasilkan apa-apa. Agar bisa menghindari deflasi, perlu adanya kebijakan yang dapat memberi kepastian pasar bagi petani. Anggaran sebesar Rp695 triliun yang digelontorkan pemerintah pun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), tidak sepeserpun yang dialokasikan untuk pertanian.   

Hore! Nilai Tukar Petani (NTP) Naik Saat Pandemi

Akhirnya, di kuartal III NTP bisa naik menjadi 101,66 setelah sebelumnya di bulan Mei tercatat berada di angka 99,47. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan karena adanya kenaikan harga gabah. Seluruh subsektor pertanian mengalami peningkatan, kecuali pada komoditas hortikultura dan peternakan yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,43% dan 0,63% serta memberi andil pada terjadinya deflasi di bulan September 2020 akibat penurunan harga. Apa kamu juga merasakan kalau harga daging ayam dan bawang merah masih lebih murah dari biasanya? Nah, kejawab, kan, ternyata ini penyebabnya! 

Kuartal IV (Q4)

Bawa Angin Segar, Pemerintah Bangun Food Estate

Masuk di kuartal IV, pemerintah lagi sibuk bangun food estate (lumbung pangan), nih. Tepatnya pada Oktober 2020, food estate di Kalimantan Tengah akan memulai pembangunan infrastruktur dasar. Nantinya food estate tersebut akan ditanami padi dan singkong sebagai bahan cadangan pangan penduduk di atas lahan aluvial eks pengembangan lahan gambut (PLG) seluas 165 ribu ha. Proyek pembangunan dilakukan dengan merehabilitasi saluran irigasi, pintu air, jembatan, serta membangun akses jalan. Sama-sama kita tunggu saja, semoga proses pembangunannya lancar, ya!

Nilai Ekspor Pertanian Tumbuh Positif

Lagi-lagi pertumbuhan ekspor pertanian pada Oktober 2020 dinilai positif saat kondisi pandemi seperti sekarang. Tercatat nilai ekspor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 0,42 miliar dolar AS atau tumbuh 1,26% dari bulan sebelumnya. Kenaikan bisa terjadi karena adanya dukungan mobilitas ekonomi di sejumlah negara yang juga terus membaik. Data juga menyebutkan bahwa pada bulan Oktober terjadi surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar 3,61 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya. Pertumbuhan ekspor pertanian yang positif merupakan hasil dari program GraTIEks sebagai pendobrak kerja luar biasa dalam peningkatan ekspor Indonesia. Komoditi yang memiliki nilai di pasar ekspor akan terus dikembangkan agar petani lebih sejahtera.

Itu tadi sekilas pemberitaan yang terjadi sepanjang tahun 2020. Kita sama-sama berharap semoga di tahun depan, sektor pertanian Indonesia bisa lebih jaya sebagai penopang kehidupan masyarakatnya. Nah, kira-kira sudah pada siap belum menyongsong tahun yang baru? Apa rencana besar kamu di tahun depan? Mungkin ada yang ingin coba bertani, mulai saja dulu. Bisa jadi keberuntungan kamu ada di sana dan CROWDE akan siap mendukung kamu kapan saja. Yuk, mulai bersama CROWDE!

Baca juga: Crowde Targetkan Digitalisasi 100.000 Petani Pada 2021

0 comments on “Apa yang Terjadi di Sektor Pertanian Sepanjang 2020?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *