Kenyataan yang mau penulis bagi ke Teman CROWDE, bahwa 61% petani Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun. Yang rata-rata hanyalah tamatan SD. 25,31%-nya lagi berusia antara 35 – 45 tahun. Sisanya cuma 9,5% yang berumur di bawah 35 tahun.

Lalu, sebanyak 63% anak petani padi dan 54% anak petani holtikultura mengaku tidak ingin menjadi petani seperti orang tuanya. Alasannya kenapa? Singkat saja, rata-rata berpendapat profesi petani tidak menjanjikan. Sudah kotor-kotoran, panas-panasan, tapi hasilnya gak pasti. Mending jadi buruh atau pegawai yang hasilnya jelas pasti setiap bulannya.

Kamu setuju?

Pasti banyak yang setuju! Dan memang tidak salah juga kalau kamu setuju.

Tapi kalau kamu coba berpikir lagi, saat ini petani yang didominasi oleh petani berumur di atas 45 tahun, 30 tahun lagi mereka sudah berumur 75 tahun. Apa mungkin masih sanggup bertani? Kamu saja yang masih mudah sudah malas bertani kan?

Zaman dulu memang pekerjaan sebagai petani sangat populer. Makanya Indonesia sempat mendapat gelar sebagai Negara Agraris. Sedih gak sih kamu kalau gelar ini berakhir hanya menjadi sejarah? Dan para petani Indonesia selesai sebagai pahlawan pejuang pangan?

Di umur Indonesia yang akan genap 73 tahun, kita masih belum tahu siapa yang akan terus mencukupi kebutuhan pangan penduduknya. Masih gak tahu penduduknya bisa makan sampai kapan. Buruk-buruknya kalau bahan pangan kita impor semua kayak Singapura, yang cuma bisa makan orang-orang kayanya saja dong ya? Padahal Indonesia punya 25,95 juta penduduk miskin di tahun 2018 ini.

Haduh pusing juga ya! Ini hasil dan akibat dari Indonesia darurat petani muda kan?

Kamu sebagai anak muda mau membiarkan hal ini benar-benar terjadi? Menghapus makna kemerdekaan yang seharusnya sudah ada sejak tahun 1945 lalu. Tidak tergantung pada negara lain. Kalau Indonesia masih banyak melakukan impor, dan rakyatnya masih susah untuk makan, tandanya Indonesia masih belum bisa merdeka.

Faktanya lagi, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang terutama anak muda, semakin rendah minatnya untuk terjun ke sektor pertanian. Terbukti, hanya 0,8% lulusan perguruan tinggi yang memilih berprofesi sebagai petani.

Memang harus ada beberapa faktor yang diperbaiki dulu agar dapat menarik anak muda untuk terjun ke sektor pertanian. Seperti, permudah anak muda untuk bisa mengakses lahan tidur agar bisa diberdayakan kembali. Karena semakin luas aset lahan yang dimiliki, akan membuat anak muda semakin bersemangat menggarapnya. Terutama sekali soal pendapatan, harga jual produksi tani harus bisa stabil dan pangkas jalur distribusi yang panjang. Paling pentingnya, akses permodalan ke sektor pertanian juga harus diperbanyak.

Seperti CROWDE, hadir sebagai platform yang dapat membantu permodalan petani. Jadi kamu, anak muda yang ingin memulai usaha tani, jangan khawatir kalau kamu bergerak sendirian. Banyak kok anak muda lain yang juga ikut serta membantu.

Kalau kita tidak mencoba bergerak mandiri, siapa lagi yang bisa diharapkan?

Tidak harus tunggu pemerintah turun tangan, siapa saja yang mengaku anak muda bisa kok ikut berpartisipasi mengubah keadaan ini. Kembali memerdekakan Indonesia biar anak mudanya gak dianggap loyo. Keren kan kalau kamu bisa ikut memperbaiki keadaan ini?

Yang perlu kamu tahu, kita anak muda gak harus kok jalanin sistem pertanian kuno yang kalian anggap gak keren itu. Justru kita wajib melakukan inovasi. Menciptakan sistem pertanian modern. Seperti memperbanyak sumber pangan organik misalnya. Kan masyarakat sekarang sudah peduli banget sama pola hidup sehat. Jadi, sosok petani muda hadir sebagai sosok petani modern.