Air adalah sumber kehidupan. Meski kelihatannya air adalah sumber daya alam yang tidak akan pernah habis, namun nyatanya data tahun 2018 menyebutkan bahwa ada sekitar 1,9 miliar penduduk bumi yang masih hidup di area sulit air. Diperkirakan pada tahun 2050 angkanya akan terus bertambah hingga mencapai 3 miliar penduduk. Hal ini disebabkan karena di tahun 2050 populasi penduduk dunia akan tumbuh sebanyak 2 miliar jiwa dan kebutuhan air mau tidak mau juga ikut meningkat sebesar 30%. Hal ini kemudian juga akan memicu risiko terjadinya perubahan iklim. Ditambah, sektor pertanian sebagai sumber pangan dunia membutuhkan pasokan air sebanyak 70% untuk irigasi. Sedangkan, 20% digunakan untuk sektor industri, 10% untuk kebutuhan rumah tangga, dan 1% untuk minum sehari-hari. 

Pada momen perayaan Hari Air Sedunia tahun 2020, UN-Water mengangkat tema “Air dan Perubahan Iklim”. Air dianggap sebagai elemen yang terjangkau, berkelanjutan, dan dapat diukur guna mengurangi dampak perubahan iklim. Selain itu, perilaku manusia dalam memanfaatkan air turut berpengaruh pada potensi terjadinya banjir, kekeringan, kelangkaan air, yang berkontribusi pada peristiwa perubahan iklim. Apabila kita bisa menggunakan air secara lebih efisien, kita bisa mengurangi efek dari perubahan iklim dan dapat melindungi kehidupan di bumi. Itu mengapa, penghematan air merupakan langkah nyata yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak terjadinya perubahan iklim. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh sektor pertanian untuk dapat menghemat penggunaan air dalam prakteknya? Yuk, cari tahu jawabannya lewat ulasan di bawah ini!

Membuat sistem irigasi yang efisien

Untuk mengurangi jumlah air yang digunakan dalam pertanian, irigasi harus dibuat seefisien mungkin dengan cara:

  • Memastikan saluran irigasi lancar dan tidak ada kebocoran
  • Irigasi dapat dioptimalkan pada wilayah/musim yang benar-benar membutuhkan air
  • Mengukur kelembaban tanah untuk menentukan kebutuhan air dari masing-masing tanaman
  • Saluran irigasi tetes digunakan hanya untuk menyirami akar tanaman, bukan tanah di sekitarnya juga
  • Menggunakan kain penutup tanah saat berbudidaya untuk mengurangi evaporasi dan mencegah pertumbuhan gulma 

Mengupayakan kondisi lahan yang sehat

Tanah yang sehat dan kaya akan unsur hara dapat menahan air jauh lebih efisien. Itu mengapa, penting untuk menjaga ekologi tanah dengan mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk anorganik. Pengalihan pada sistem pertanian organik selain berguna menjaga kelestarian kondisi lahan pertanian, nyatanya juga mampu menghemat penggunaan air saat berbudidaya. 

Menerapkan metode pertanian permakultur

Metode pertanian permakultur adalah pertanian dengan tatanan kehidupan yang lestari, terus-menerus, dan permanen. Maka dari itu, permakultur memegang erat prinsip keseimbangan dan berkelanjutan. Konsepnya sama dengan konsep pertanian terpadu dan pertanian organik, namun permakultur lebih menekankan pada desain, perencanaan pertanian, dan integrasi pertanian. Banyak metode yang bisa diterapkan pada pertanian permakultur, seperti sengkedan yang dapat menahan air di lahan yang miring sehingga dapat mengurangi kebutuhan penyiraman tanaman tambahan. Untuk di lahan pertanian yang sempit, teknik tanam vertikal dan akuaponik juga bisa diterapkan dalam pertanian permakultur.

Memanfaatkan pertanian tadah hujan

Untuk di wilayah yang memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun bisa memanfaatkan pertanian tadah hujan. Air hujan merupakan air daur ulang yang berproses secara alami yang juga bisa dimanfaatkan dalam proses budidaya pertanian. Memanfaatkan air daur ulang dapat mengurangi penggunaan air pada sektor pertanian yang kemudian bisa dialihkan ke sektor industri dan rumah tangga.  

Mengurangi limbah makanan    

Di dunia saat ini, sekitar 30% – 40% makanan yang diproduksi berakhir menjadi limbah makanan. Dengan mengurangi jumlah makanan yang terbuang sia-sia, membuat hasil pertanian dapat terserap lebih maksimal dan membuat prosesnya pun jadi lebih efisien. Yang berujung pada penghematan penggunaan air, lahan, dan energi yang digunakan untuk menghasilkan bahan pangan tersebut. 

Memanfaatkan lahan rawa

Indonesia memiliki lahan rawa seluas 34 juta ha yang nyatanya sangat baik dimanfaatkan demi mengurangi pemakaian air dalam proses budidaya pertanian. Selain itu, lahan rawa juga mampu menyerap karbon dioksida yang terkandung di udara yang dapat meminimalisir terjadinya efek rumah kaca yang berdampak pada terjadinya perubahan iklim. Bukankah jika sampai hal itu terjadi, para petani juga yang akan kesulitan mengembangkan usaha pertaniannya? Sebab, industri pertanian terutama di Indonesia masih sangat bergantung dengan alam dan kondisi iklim bumi.  

Jika tidak ada pihak yang tergugah untuk peduli pada isu kelangkaan air dan perubahan iklim, bagaimana keberlanjutan hidup manusia? Ketersediaan air yang semakin berkurang, menyebabkan pada tahun 2040 akan ada satu dari empat anak di dunia kesulitan mendapat air bersih, terutama di negara miskin dan langka air. Hal tersebut bisa mengakibatkan 1,4 juta anak akan menghadapi risiko kematian akibat malnutrisi di Sudan Selatan, Nigeria, Somalia dan Yaman. Dalam perayaan Hari Air Sedunia, yuk, selamatkan kehidupan penduduk bumi dengan ikut serta dalam kegiatan menghemat air dan peduli lingkungan.

Semua orang dapat memberikan kontribusi berdasarkan perannya masing-masing. Karena, setiap langkah kecil yang kita buat akan memberikan perubahan yang signifikan. Buat kamu yang setuju dengan kontribusi sektor pertanian dalam menghemat penggunaan air, kamu juga bisa ikut mendukungnya bersama CROWDE. Tunggu apa lagi?

Referensi:

Greentumble. 23 April 2016. Ways to Reduce Water Consumption on Farms: http://bit.ly/2TsQ8lt